Di Nagari Padang Toboh, tantangan pengelolaan limbah pertanian dan peternakan menjadi isu utama yang direspon oleh Pertamina Patra Niaga melalui unit Aviation Fuel Terminal (AFT) Minangkabau. Pertamina menghadirkan program inovatif bernama Sistem Inovasi Cerdas Kelola Limbah (SI CADIAK) sebagai bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis ekonomi sirkular.
Program ini mengubah limbah jerami dan kotoran ternak menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan. Dengan pendekatan eco-inovasi, jerami diolah secara berkelanjutan untuk menekan praktik pembakaran terbuka, meminimalkan dampak lingkungan, serta meningkatkan efektivitas pemanfaatan potensi lokal.
Melalui SI CADIAK, sebanyak 894 ton jerami per tahun dan 864 ton kotoran ternak berhasil diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, antara lain kompos, bioetanol, parfum jerami ramah lingkungan bernama ARUWA, serta mendukung Program Sawah Pokok Murah.
Selain itu, program ini juga menghasilkan energi baru terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dimanfaatkan untuk mendukung operasional Learning Center UKASEMA.
Dampak positif yang dihasilkan pun signifikan. Program ini berhasil menurunkan emisi hingga 1.305 ton CO₂e per tahun, mengurangi kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga 80% dalam periode 2022–2025, serta meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 63% melalui diversifikasi produk dan efisiensi biaya pertanian.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun, menyampaikan bahwa program ini tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan energi berbasis biogas, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Nagari secara inklusif.
Ia menegaskan bahwa SI CADIAK menjadi salah satu program andalan Pertamina dalam mendukung pemenuhan kriteria Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER).
Pendekatan berbasis inovasi dan dampak terukur ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur praktik pengelolaan limbah produktif berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah lain.
Siti, anggota Kelompok UKASEMA, merasakan langsung manfaat berkelanjutan dari program ini. “Hasil limbah sedikit banyaknya bisa membantu menyambung hidup kami, di mana sebagian besar kami hanya buruh tani dan ibu rumah tangga. Kami sudah bisa menjual produk dari limbah, sehingga menghasilkan pemasukan tambahan bagi kami,” ungkapnya.
Baca Juga: Gandeng Pertamina Group, Elnusa Perluas Portofolio Energi Rendah Karbon
Inisiatif ini selaras dengan komitmen Pertamina terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 (Tanpa Kemiskinan) melalui peningkatan pendapatan masyarakat, poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penciptaan nilai tambah ekonomi lokal, poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengelolaan limbah berkelanjutan, serta poin 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pengurangan emisi dari praktik pembakaran jerami.





