Warga Tionghoa berbondong-bondong mendatangi Kelenteng Fuk Ling Miau di Jalan Brigjen Katamso, pusat Kota Yogyakarta, Selasa (17/2/2026) pagi. Di kelenteng tertua di kota itu, harapan-harapan terbaik akan tahun baru China atau Imlek digantungkan.
Menjelang pukul 10.00 WIB, para anggota kelompok barongsai Singa Mataram bersiap di halaman kelenteng berusia 180 tahun tersebut. Tak lama kemudian, pemain tambur, simbal, dan gong beraksi. Mereka memainkan irama cepat gegap gempita, khas pertunjukan barongsai.
Gedoran musik itu pun langsung disambut tiga ”singa”. Semuanya menari lincah. Setiap singa dimainkan dua penari yang bergerak sinkron mengikuti irama musik.
Dalam satu kesempatan, ketiga singa itu berdiri bersamaan, menunjukkan keperkasaannya. Namun, dalam kesempatan lain, mereka berpose takzim memberi hormat kepada kelenteng di depannya.
Sesai rangkaian tarian pembuka itu, barongsai memasuki ruangan kelenteng yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Gondomanan tersebut. Mereka mendatangi setiap altar sambil memberi penghormatan. Rangkaian sembahyang lalu diikuti umat lainnya.
Salah satu umat yang hadir adalah Kenji (19), mahasiswa asal Riau yang kuliah di Yogyakarta. Dia datang untuk berdoa sekaligus merayakan Imlek 2577 Kongzili di Kelenteng Gondomanan. Ini merupakan bagian dari perayaan budaya Tionghoa yang tak pernah dilewatkannya setiap tahun.
”Dengan sembayang pada Imlek ini, kami berharap dipermudah rezeki dan segala urusan lainnya. Ini juga termasuk studi kuliah supaya lancar,” ujarnya.
Kenji mengatakan, ini pertama kalinya dia merayakan Imlek di Yogyakarta. Tahun ini, Imlek bertepatan dengan masa perkuliahan, tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang berbarengan dengan periode libur kuliah.
Kondisi itu membuatnya tak bisa pulang ke Riau untuk merayakan Imlek bersama keluarga. "Sebenarnya ada rasa yang kurang. Inginnya kumpul bersama keluarga," tuturnya.
Akan tetapi, kesedihan tak bisa pulang itu sedikit terobati dengan berkumpul bersama teman-teman kuliahnya sesama perantauan. Pada malam Imlek, Senin (16/2/2026), mereka makan bersama, seperti tradisi yang biasa dilakukan bersama keluarga masing-masing.
Anggota Panitia Bersama Perayaan Imlek Kelenteng Gondomanan, Adi Purnomo, mengatakan, rangkaian Imlek di tempat ini telah dimulai sejak 12 Februari. Bentuknya bersih-bersih kelenteng. Kegiatan itu dilakukan bersama sejumlah komunitas lintas iman.
Setelah itu, ada pula kegiatan bakti sosial untuk warga sekitar kelenteng. Bakti sosial itu berupa pembagian beras kepada sekitar 100 keluarga.
Adapun puncak peribadatan Imlek 2577 Kongzili digelar pada Senin (16/2/2026) malam. Dihadiri sedikitnya 200 umat dari berbagai penjuru kota, kegiatan tersebut berjalan khidmat.
"Hari ini juga masih rangkaian persembahyangan Imlek dan doa bersama," ujar Adi.
Sebelumnya, Pengurus Perkumpulan Budi Abadi (Hoo Hap Hwee) Yogyakarta sekaligus Wakil Ketua II Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) Subekti Saputro Wijaya mengatakan, perayaan Imlek dilakukan secara beragam oleh setiap paguyuban. Ada 14 paguyuban warga Tionghoa di Kota Yogyakarta.
Kuda Api menjadi momentum untuk bekerja lebih keras, aktif mencari peluang, dan berani menghadapi tantangan. Namun, unsur api juga mengingatkan pentingnya pengendalian emosi.
Selain sembahyang bersama di kelenteng, ada pula paguyuban yang menggelar jamuan makan bersama dengan para anggotanya. Namun, secara kolektif, ke-14 paguyuban itu juga memiliki acara bersama yang dikemas dalam ajang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY).
Ajang yang masih dalam rangkaian perayaan Imlek dan Cap Go Meh itu tahun ini akan digelar pada 25 Februari hingga 3 Maret. "Tahun ini PBTY telah memasuki tahun ke-21 penyelenggaraannya," ucap Subekti.
PBTY 2026 dipusatkan di Kampung Ketandan, kawasan pecinan di Malioboro. Kegiatan diisi dengan menampilkan seni budaya Tionghoa serta kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Perayaan juga dimeriahkan dengan hiburan, bazar, dan Malioboro Imlek Carnival. Semuanya berlangsung pada 28 Februari 2026. Siapa saja diundang, boleh datang.
Bagi Subekti, tahun Kuda Api menjadi momentum untuk bekerja lebih keras, aktif mencari peluang, dan berani menghadapi tantangan. Namun, unsur api juga mengingatkan pentingnya pengendalian emosi.
Setelah kondisi ekonomi dan usaha yang kurang baik sepanjang 2025, ia berharap tahun baru membawa perubahan yang lebih baik bagi masyarakat.





