Salat Tarawih Sendiri atau Berjamaah, Mana yang Lebih Baik? Ini Pendapat Para Ulama

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BANDA ACEH — Beberapa umat Islam kerap bingung menentukan pilihan antara melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah di masjid atau sendirian di rumah saat Ramadan.

Sebagian merasakan semangat kebersamaan melalui Tarawih berjamaah, sementara yang lain memilih kenyamanan serta konsistensi ibadah sendiri di rumah. Pilihan ini sering menimbulkan pertanyaan apakah salah satunya lebih utama secara syariat atau memiliki keutamaan khusus yang lebih banyak pahala.

Salat Tarawih merupakan salat sunah muakkadah yang hanya dilaksanakan selama bulan Ramadan dan dilakukan setelah salat Isya. Sifatnya sunah, bukan wajib, dan dapat dilaksanakan sendiri di rumah atau berjamaah bersama imam di masjid.

Menurut penjelasan sejumlah ulama, Tarawih dapat dilakukan sendiri-sendiri ataupun berjamaah. Namun, para ulama Syafi’i dan mayoritas ulama lainnya menilai bahwa berjamaah lebih utama karena mengikuti praktik sahabat dan penyatuan umat dalam satu imam. Sebagian ulama lain mengemukakan bahwa Tarawih sendirian juga boleh, terutama bagi mereka yang hafal Al-Qur’an. Dalam hal ini, pilihan individu tetap sah secara syariat.

“Salat Tarawih hukumnya sunah sesuai dengan konsensus para ulama. Boleh dilaksanakan sendiri-sendiri dan berjamaah. Maka mana yang lebih utama? Ada dua pendapat yang terkenal, yang sahih sesuai dengan kesepakatan rekan-rekan kami bahwa berjamaah lebih utama, dan yang kedua adalah sendiri-sendiri lebih utama,” mengutip pendapat Imam An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ (3/526).

Hadis Utama tentang Tarawih

Baca Juga

  • Peluang Hilal Terlihat Tipis, Menag Prediksi Terjadi Perbedaan Awal Puasa Ramadan 2026
  • Penjelasan Lengkap Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan pada 18 Februari 2026
  • Hasil Sidang Isbat Awal Puasa 2026, Link Live Streaming Resmi Kemenag Penetapan 1 Ramadan

Salah satu hadis yang sering dijadikan rujukan menyampaikan bahwa Nabi Muhammad SAW sempat memimpin salat Tarawih berjamaah selama beberapa malam di awal Ramadan, namun beliau tidak melanjutkannya untuk menghindari pengangkatan Tarawih menjadi kewajiban bagi umat.

Dalam sebuah riwayat dari Bukhori (1129) dan Muslim (761) disebutkan bahwa:
Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW suatu ketika salat di masjid dan banyak orang ikut salat bersama beliau, kemudian pada hari berikutnya beliau salat dan masyarakat semakin banyak, kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, namun Rasulullah SAW tidak keluar menemui mereka, dan pada pagi harinya beliau bersabda: “Aku telah melihat apa yang telah kalian perbuat, tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menuju kalian kecuali karena aku khawatir (salat Tarawih) akan diwajibkan kepada kalian.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Tarawih berjamaah adalah sunah yang dianjurkan, meskipun Nabi Muhammad SAW juga memperhatikan kemudahan bagi umatnya sehingga beliau tidak menegaskannya secara wajib.

1. Keutamaan Tarawih Berjamaah
Mengutip dari laman NU Online, Selasa (17/2/2026), mayoritas ulama, termasuk Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad bin Hanbal, berpendapat bahwa Tarawih berjamaah lebih utama daripada sendirian. Alasan utamanya adalah mengikuti praktik sahabat di bawah kepemimpinan imam, serta memperkuat ikatan ukhuwah di antara kaum muslimin.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Majelis Tarjih Muhammadiyah yang menyebutkan bahwa Tarawih berjamaah membawa peluang pahala lebih besar, karena pahala salat berjamaah secara umum disebut lebih banyak daripada sendirian, dan Tarawih berjamaah memupuk kecintaan terhadap masjid.

2. Pandangan Tarawih Sendirian
Sebagian ulama menyoroti bahwa Tarawih sendirian tidak kalah sah, terutama bila kondisi individu tidak memungkinkan hadir jamaah atau takut malas jika berjamaah. Dalam konteks ini, Tarawih sendirian tetap mendapatkan pahala dan tidak mengurangi keabsahan ibadah.

Imam al-Mawardi dalam karyanya al-Hawi al-Kabir bahkan menyebut bahwa jika Tarawih sendirian tidak menimbulkan kemalasan dan membantu kekhusyukan, maka itu juga dipandang baik selama tidak mempengaruhi jamaah masjid.

3. Nilai Spiritual dan Sosial Tarawih Berjamaah di Masjid
Tarawih berjamaah tidak hanya memiliki dimensi ibadah, tetapi juga nilai sosial yang kuat. Salat berjamaah membantu mempererat hubungan komunitas, saling memotivasi dalam beribadah, serta menjadi wahana rekonsiliasi spiritual antaranggota masyarakat.

Sedangkan Tarawih sendirian memungkinkan seseorang mengevaluasi kualitas ibadah, konsentrasi bacaan, dan penghayatan pribadi terhadap ayat Al-Qur’an yang dibaca saat Tarawih. Pilihan ini sering kali cocok bagi mereka yang haus ketenangan spiritual tanpa distraksi keramaian.

Bagi yang tidak dapat berjamaah karena kendala waktu, kesehatan, atau akses masjid, Tarawih sendiri tetap sah dan bernilai ibadah. Intinya, kualitas kekhusyukan dan niat ikhlas tetap menjadi fokus utama dalam ibadah Tarawih baik sendirian maupun berjamaah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hari Terakhir! BNI Wilayah 04 Bandung Buka Magang, Fresh Graduate Bisa Daftar
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Indonesia Mulai Kerahkan Tentara ke Gaza, Segini Jumlahnya
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ekraf Dorong Peningkatan Kompetensi Juru Masak untuk Perkuat Kualitas MBG
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Tragedi di Tanjung Perak dan Mahalnya Kelalaian
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Dijanjiin jadi Kiper Utama, Trafford Malah Lapisin Donnarumma
• 5 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.