Belajar dari Transformasi Pembangunan China Menuju Indonesia Emas 2045

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

“Tidak ada kekuatan yang dapat mengguncang status China atau menghentikan rakyat dan bangsa China untuk bergerak maju”, Presiden Xi Jinping (2019).

Untaian kalimat tersebut disampaikan Presiden China, Xi Jinping di Tiananmen Square, Beijing, tempat diproklamirkannya People Republic of China (PRC) oleh Mao Zedong, 1 Oktober 1949 lalu. Presiden Xi Jinping menegaskan pernyataan tersebut dihadapan ribuan militer dan rakyat China dalam rangka Peringatan 70 Tahun Berdirinya PRC, (1/10/2019).

Dalam kurun waktu lima tahun (2019-2025), China memperlihatkan kedigdayaan Industri pertahanannya dalam acara parade militer Peringataan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II yang diselenggarakan di Tiananmen Square, Beijing(3/9/2025) lalu.

Perayaan yang dikemas dengan Parade militer yang megah dan spektakuler itu menjadi tonggak penting sejarah kebangkitan China, dan menarik dicermati sebagai pembelajaran karena menampilkan episode-episode transformasi Pembangunan negeri Tirai Bambu yang mencengangkan.

China telah merancang strategi pembangunannya, setidaknya sejak 1979-2040 sebagai negara super power dengan indikator bahwa semua produk di pasar dunia made In China, mulai dari produk pangan hingga produk-produk industri strategis. Dari mana dan bagaimana China membangun hingga sampai pada episode kemajuannya saat ini?

Dari Pertanian ke Industri Strategis

Menyaksikan pembangunan dan pemerataan pembangunan antar wilayah di negeri Tirai Bambu, banyak kalangan berdecak kagum. Episode demi episode pembangunan China seperti divisualisaikan pada setiap perayaan hari kemerdekaannya, sungguh menakjubkan.

China yang pernah menderita kemiskinan pada sebagian besar awal abad ke-20 dan terisolasi, bertransformasi begitu cepat menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia dan berhasil mengangkat ratusan juta orang keluar dari garis kemiskinan yang ditarget pada tahun 2020.

Kenneth M.Quinn, Duta Besar AS untuk Kamboja (1995-1999), menyaksikan kekagumannya bahwa selama empat dekade terakhir, reformasi ekonomi dan kebijakan pertanian China telah membawa kemajuan dramatis, terutama dalam rangka mengurangi angka kemiskinan.

Melihat pentingnya sektor pertanian, China memulai strategi pembangunan pada sektor ini dengan menggunakan kriteria Johnston (1970) dan Mellor (1961) bahwa peran pertanian dan pembangunan pedesaan benar-benar merupakan bagian integral dari proses pembangunan bangsa. Sebaliknya, mengabaikan sektor pertanian sama halnya mengabaikan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan-pertanian. Mengapa sektor pertanian sangat penting?

Membangun sektor pertanian sangat penting bagi ketahanan pangan warga, dan pada saat yang sama juga penting dalam konteks pertahanan negara. Pertanian dapat menyediakan bahan makanan murah yang kemudian berdampak pada upah pekerja di sektor industri dan jasa di perkotaan.

Dengan kebutuhan pokok yang murah karena suplai cukup dari petani lokal, para pekerja di perkotaan (urban labor) bisa menyisihkan uangnya untuk menabung. Kemudian, dalam mata rantai selanjutnya, pendapatan masyarakat pedesaan akan meningkat baik melalui suplai komoditas dalam negeri maupun ekspor yang menghasilkan devisa untuk pembiayaan pengembangan industri-teknologi strategis.

Menurut data Kantor Statistik China, pada tahun 2020 (saat pendemi Covid-19), pendapatan penduduk pedesaan (rural residents) justru meningkat 5,7 %, sementara peningkatan pendapatan penduduk perkotaan (urban residents) hanya 2.9 %.

Keberhasilan China dalam hal pembangunan sektor pertanian, bukan hanya kemandiriannya pada penyediaan kebutuhan pangan bagi penduduknya, tetapi juga dalam menyuplai kebutuhan pangan penduduk dunia melalui kegiatan ekspor. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit perusahaan China yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan melakukan ekspansi ke sejumlah negara. Hal itu, tidak saja dalam rangka menjaga ketahanan pangan dalam negeri, tetapi juga “berjaga-jaga” menyuplai untuk kebutuhan pangan dunia.

Sejak berdirinya RRC, para pemimpin China mulai dari Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jiang Zemin, Hu Jintao, dan pemimpin saat ini, Xi Jinping memiliki semangat dan komitmen yang konsisten dan konstan dalam proses pembangunan dengan gagasan-gagasan inovasi masing-masing. Artinya, Visi dan gagasan besar untuk memakmurkan rakyat China berjalan linear, termasuk dalam konteks “keterbukaan” dalam hubungannya dengan dunia luar, sehingga pembangunannya berkesinambungan (sustainable), tidak terputus karena pergantian atau suksesi pemimpin-pemerintahan.

Modernisasi Sistem Pertahanan

Mewujudkan ambisi untuk menjadi negara super power seperti tanpa kompromi terus dilakukan, termasuk pembangunan dengan menggencarkan industri dan modernisasi alat-alat pertahanan. Setidaknya, Presiden Xi Jinping telah menetapkan sasaran dan target (2020-2050) untuk modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat China-Liberation Army /PLA) termasuk persenjataan pertahanannya ke depan agar China menjadi negara yang kuat dengan militer yang kuat.

Dalam setiap 1 Oktober, China memperlihakan modernisasi industri pertahanan secara visual yang diproduksinya secara mandiri seperti ; Jet Tempur J-20, Helikopter Z-20, Tank, ZTQ-15, Pesawat Pengebom H-6N, drone siluman GJ-11, Rudal balistik DF-5,DF-41 yang mampu menembus batas antar negara,dll. Produk-produk teknologi tersebut menjadi pertunjukan menarik dan menjadi pencermatan para pengamat.

Kekuatan Angkatan Bersenjata yang ditonjolkan China dengan kecanggihan teknologinya, seolah memberi sinyal bahwa dengan kemajuan pembangunannya dalam kurun waktu 7 dekade, China bangkit dan bertransformasi menjadi kekuatan baru ekonomi dunia dan akan menjadi kekuatan baru dalam bidang pertahanan-militer berbasis teknologi yang patut diperhitungkan.

Pada sisi lain, China seperti mempertegas sikap dan posisinya bahwa sebagai suatu negara, China siap untuk menghadapi tantangan apa pun untuk pertahanan nasional mereka di tengah tekanan geopolitik – Barat, utamanya Amerika Serikat mulai dari Currency War, Trade War hingga Technology War, dll.

Sejak reformasi ekonomi yang dipelopori Deng Xiaoping (1978-1989) sebagai era keterbukaan dan visi baru pembangunannya, China telah mengalami perubahan besar dalam sejarah bangsa China. Hasilnya, China saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang menakjubkan.

Melalui akselerasi pembangunan secara berkesinambungan dengan karakteristik keterbukaan model sosialisme China, banyak pengamat tercengang melihat kemampuan China menyediakan sandang, pangan dan papan bagi penduduknya yang mencapai 1.5 milliar, termasuk kemajuannya di bidang teknologi, industri strategis dan pertahanan.

Dengan kekuatan ekonominya saat ini, China sebagai negara menghadapi tekanan demi tekanan dari dunia luar, sehingga membangun kekuatan pertahanannya merupakan suatu keniscayaan, agar bisa survive dari segala gempuran di tengah rivalitas geopolitik yang sangat dinamis saat ini.

China banyak belajar dari rutuhnya Uni Soviet 1991. Negeri yang dihuni sekitar 1.5 miliar manusia ini tidak serta merta membangun sektor pertahanannya secara massif, tetapi secara bertahap melakukan pembangunan mulai dari sektor pertanian, manufaktur, industri, teknologi strategis hingga pertahanan. Tentu saja, China sadar bahwa menguatkan pembangunan sektor ketahanan pangan dan pertahanan penting dalam situasi geopolitik saat ini.

Bagi Indonesia, model pembangunan yang didesain China sejak tahun 1979 itu perlu menjadi eksprimen sejarah yang perlu dicermati. Sejatinya, program-program pembangunan yang sedang dirancang Presiden Prabowo misalnya ketahanan pangan, ketahanan energi, penguatan sektor pertahanan, pengembangan SDM, pengentasan kemiskinan dan pemberantasan korupsi menjadi krusial untuk diinternalisasi dan dilembagakan dalam kebijakan-kebijakan nyata strategis sebagai bagian dari desain pembangunan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Pembangunan Indonesia Emas 2045 dengan bonus demografinya, memerlukan political will dan strategi kebijakan dalam pemerintahan berkalanjutan, sehingga bonus demografi yang diharapkan menjadi harapan kemajuan bagi generasi muda, milenial dan Gen Z benar-benar menjadi kenyataan-bukan Indonesia cemas-dan bukan hanya menjadi jargon politis yang diucapkan untuk kepentingan politik elektoral 5 tahunan.

Terlepas dari perbedaan ideologi maupun sistem politik-pemerintahan, lompatan-lompatan strategis pembangunan model China patut menjadi pembelajaran bagi negara-negara berkembang yang berkarakter agraris, termasuk Indonesia. Setidaknya model transformasi pembangunan China patut menjadi contoh untuk ditiru. Tuntutlah Ilmu Walau ke Negeri China. (Fath)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Awal Puasa Ramadhan 2026 Berpotensi Berbeda, Cek Prediksi Hilal dari BMKG dan BRIN
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Pemprov Banten prioritaskan enam ruas jalan alternatif mudik 2026
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Tinggalkan ISOCELL, Samsung Galaxy S26 Ultra Gunakan Sensor Sony untuk Kamera Selfie
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Polres Jaksel jaga dua vihara selama perayaan Tahun Baru Imlek
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Ambon, Ini Penjelasan BMKG
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.