Jakarta, VIVA – Peneliti Bidang astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rhorom Priyatikanto menyoroti sejumlah kelemahan dalam konsep Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dalam menentukan awal Ramadan di Indonesia. Salah satu persoalan utama adalah penentuan garis batas global yang dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi astronomi dan geografis berbagai wilayah dunia.
Menurut Rhorom, konsep kalender Islam global menetapkan satu tanggal Hijriah yang sama untuk seluruh dunia berdasarkan visibilitas hilal di suatu wilayah acuan. Namun pendekatan tersebut masih menimbulkan persoalan ketika diterapkan di wilayah dengan kondisi pengamatan berbeda seperti Indonesia.
“Pertama, kelemahan Kalender Hijriah Global Tunggal adalah penentuan garis referensi yang masih perlu dikaji ulang,” kata Peneliti Bidang astronomi BRIN Rhorom Priyatikanto dikutip tvOne.
Ia mencontohkan kasus awal Ramadan tahun ini ketika secara global hilal sudah dianggap mungkin terlihat di wilayah tertentu seperti Alaska. Dalam skema kalender global, kondisi tersebut membuat seluruh dunia secara teori bisa memasuki awal bulan Hijriah yang baru. Padahal di Indonesia, posisi dan visibilitas hilal dinilai masih jauh dari kriteria awal Ramadan.
- tvOne
“Contoh kasusnya Ramadan kali ini, di mana kalau di Alaska sudah terjadi ya semuanya bisa, akan tetapi banyak wilayah Indonesia yang menilai kondisinya masih jauh dari permulaan awal Ramadan sehingga muncul kesangsian,” ujarnya.
Rhorom menilai pemilihan garis batas dan wilayah acuan atau matla (wilayah acuan visibilitas hilal), dalam kalender global masih perlu dikaji ulang agar mampu mengakomodasi lebih banyak kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia.
“Pemilihan garis batas dan matlak yang lebih jelas yang mengakomodir sebanyak-banyaknya umat muslim harus dipertimbangkan,” katanya.
Di Indonesia sendiri, konsep Kalender Hijriah Global Tunggal dikenal digunakan oleh organisasi Islam Muhammadiyah melalui metode hisab global. Sementara pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS yang menggabungkan perhitungan astronomi dan pengamatan hilal regional Asia Tenggara.
Selain persoalan garis batas global, Rhorom juga menilai pengembangan kriteria kalender Islam, termasuk imkanur rukyat, masih membutuhkan penguatan basis data pengamatan hilal lokal. Kondisi atmosfer Indonesia yang lebih lembap, berawan, dan keruh secara alami membuat visibilitas hilal dekat ufuk lebih sulit dibandingkan wilayah gurun atau subtropis.




