jateng.jpnn.com, GROBOGAN - Sebanyak 9.800 kepala keluarga terdampak banjir di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Status tanggap darurat pun telah ditetapkan selama tujuh hari ke depan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan Wahju Tri Darmawanto mengatakan bantuan logistik bagi warga terdampak di 45 desa dan 11 kecamatan telah disalurkan melalui kolaborasi pemerintah provinsi dan kabupaten.
BACA JUGA: Banjir Rendam 14 Desa di Grobogan, Air Capai 1 Meter, Warga Diminta Tetap Waspada
“Untuk kebutuhan dasar 9.800 masyarakat terdampak sudah tercukupi. Bantuan berasal dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Grobogan, seiring penetapan tanggap darurat pada 16 sampai22 Februari,” ujar Wahju kepada JPNN.com, Selasa (17/2).
Wahju mengatakan penetapan status tanggap darurat selama tujuh hari bertujuan mempercepat penanganan dampak bencana, khususnya pemenuhan kebutuhan dasar warga serta perbaikan infrastruktur yang rusak.
BACA JUGA: Banjir Grobogan, Perjalanan Kereta Api Lumpuh
Terutama penanganan kerusakan tanggul dan infrastruktur jalan. Kerusakan tersebut dinilai berisiko memicu banjir susulan jika tidak segera diperbaiki, terutama saat curah hujan tinggi dari wilayah hulu.
Pihaknya mencatat terdapat tujuh tanggul jebol yang tersebar di beberapa aliran sungai, termasuk di Sungai Tuntang yang menyebabkan kerusakan Jalan Provinsi Semarang-Purwodadi sepanjang sekitar 30 meter.
BACA JUGA: Hadir di Grobogan, Program MBG Jadi Solusi Bertahap Mengatasi Gizi
Penanganan darurat dilakukan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jawa Tengah.
Wahju menjelaskan perbaikan sementara ruas jalan yang terputus direncanakan menggunakan konstruksi aramco agar dapat segera difungsikan kembali oleh masyarakat.
“Perbaikan darurat jalan ditargetkan maksimal satu minggu. Sementara itu, BBWS sudah menurunkan alat berat untuk menutup tanggul jebol agar aliran air tidak kembali masuk ke permukiman dan persawahan,” kata Wahju.
Dampak banjir juga merendam sekitar 1.800 hektare lahan persawahan. Pihaknya berharap genangan air dapat surut dalam tiga hari sehingga potensi gagal panen dapat ditekan.
Di sisi lain, pihaknya mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan. Hal ini mengingat intensitas hujan masih tinggi dan sesuai peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut puncak musim hujan terjadi pada Februari.
“Warga yang tinggal di sekitar tanggul dan bantaran sungai diminta waspada saat hujan lebat. Jika muncul tanda-tanda membahayakan, segera berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, atau BPBD untuk proses evakuasi,” ujarnya. (ink/jpnn)
Redaktur : Danang Diska Atmaja
Reporter : Wisnu Indra Kusuma




