FAJAR, TORAJA – Band asal Rantepao, Toraja Utara, Tindoki resmi merilis single terbaru berjudul “MANA’ TO DOLO” pada Sabtu (14/2/2026) pukul 23.00 WITA melalui kanal YouTube resmi mereka. Lagu ini juga telah tersedia di berbagai platform streaming musik seperti Spotify, iTunes, Amazon Music, dan Deezer.
Tindoki yang digawangi Mongnge (vokal), Bagong (keyboard), dan Asdem (geso’-geso’) kembali menghadirkan karya yang sarat nuansa etnik Toraja. Single “MANA’ TO DOLO”—yang dalam bahasa Toraja berarti Warisan Leluhur—mengangkat pesan mendalam tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya serta nilai-nilai peninggalan leluhur.
Peluncuran lagu ini turut disertai video klip yang berangkat dari keprihatinan para personel terhadap kondisi seni musik tradisi Toraja yang dinilai mulai terkikis oleh perkembangan zaman. Melalui perpaduan musik etnik tradisional dan sentuhan modern kontemporer, Tindoki mencoba menghadirkan harmoni antara masa lalu dan masa kini.
Secara tematik, lagu ini merefleksikan dinamika masyarakat Toraja yang berada di persimpangan: antara menjaga kesakralan tradisi, hukum adat, dan keberlanjutan kesenian tradisional, dengan derasnya arus modernisasi. Tak hanya itu, karya ini juga menyinggung isu konflik agraria yang mengancam tanah adat, hutan adat, serta situs-situs sakral akibat praktik eksploitasi dan kerakusan manusia.
Bagi Tindoki, musik bukan sekadar ekspresi estetis, tetapi juga medium refleksi sosial, negosiasi identitas, sekaligus bentuk perlawanan kultural terhadap perubahan sosial yang kian kompleks.
“Kami ingin mengajak seluruh masyarakat, pemangku kepentingan, dan generasi muda untuk bersama-sama melestarikan musik etnik tradisional Toraja dan warisan budaya leluhur. Di tengah perkembangan musik modern, kesakralan tradisi dan identitas budaya Toraja harus tetap dijaga,” ujar personel Tindoki dalam keterangan tertulisnya.
Sejumlah kajian akademik terbaru juga menunjukkan bahwa masyarakat Toraja terus berupaya menjaga tradisi di tengah modernisasi dengan menjadikan budaya sebagai aset yang diwariskan lintas generasi, sekaligus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui “MANA’ TO DOLO”, Tindoki berharap karya mereka tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga pengingat akan pentingnya mengenal, menghargai, dan mencintai warisan budaya leluhur Toraja di tengah tantangan zaman. (edy/*)





