Jakarta: Keberagaman metode dalam memantau hilal di Indonesia sering kali memicu potensi perbedaan dalam penetapan 1 Ramadan. Menanggapi fenomena ini, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Ni'am Sholeh, mengimbau umat Islam untuk menyikapi setiap perbedaan dengan kedewasaan dan semangat silaturahmi guna menjaga kohesi sosial serta persatuan bangsa.
"Tentu harusnya memahami mengapa berbeda, kemudian di mana titik temu yang memungkinkan kita bisa bersama, kemudian di mana kita membangun kesepahaman atas perbedaan yang ada sehingga tidak tabrakan apalagi kemudian melahirkan pertentangan dan permusuhan di tengah masyarakat. Saya kira perlu kedewasaan di dalam menyikapi itu. Nah, dalam konteks hari ini, saya kira ikhtiar untuk kepentingan silaturahmi, menyambungkan ide gagasan dengan berbagai metode yang ada," ujar Asrorun Ni'am Sholeh dalam dialog di Breaking News Metro TV, Selasa, 17 Februari 2026.
Baca Juga :
MUI: Hilal Minus, Awal Puasa Ramadan Berpotensi 19 FebruariAsrorun menjelaskan bahwa meskipun terdapat berbagai kajian di masing-masing organisasi kemasyarakatan (Ormas), secara saintifik saat ini semua metode menunjukkan posisi hilal di seluruh Indonesia masih berada di bawah ufuk. Hal ini menandakan adanya kesepakatan secara ilmiah bahwa hilal belum wujud,.
Sehingga, lanjut dia, secara teknis urgensi rukyatul hilal menjadi berkurang. Namun, ia menekankan pentingnya ketaatan terhadap keputusan akhir pemerintah.
"Tetapi walau demikian nanti apa pun yang diputuskan, sekalipun kita sudah bisa pastikan bahwa itu tidak terlihat hasil penglihatan di berbagai titik tadi dan pemerintah sudah menetapkan, maka kita memiliki kewajiban baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga negara untuk menaati dan juga mengikuti apa yang telah diputuskan oleh negara sebagai bagian dari tugas tanggung jawab kita sebagai umat beragama," ujar Asrorun.
Foto: Breaking News Metro TV.
Dia mengingatkan bahwa kunci utama menghadapi perbedaan adalah membangun kesepahaman demi mewujudkan harmoni. Menurutnya, kerukunan umat Islam dalam pelaksanaan Ramadan akan berkontribusi besar pada kekuatan peradaban dan kesejahteraan negara.
"Sejauh mungkin kita cari titik persamaan dan juga titik pertemuan, tetapi kalau belum mungkin kita bangun kesepahaman. Saya kira itu menjadi kunci untuk membangun harmoni. Begitu warga negara utuh, harmonis, bersatu, maka komitmen untuk membangun kesejahteraan, komitmen untuk membangun peradaban itu (akan terwujud)," ujar Asrorun.




