Memanen Cuan Barongsai di Tahun Baru Imlek

kompas.id
17 jam lalu
Cover Berita

Hujan deras yang mengguyur sejak sehari sebelumnya tidak mampu menyurutkan semangat perayaan Tahun Baru Imlek di Kota Jambi. Kelenteng-kelenteng ramai oleh umat berdoa pada Selasa (17/2/2026). Asap dupa dan lilin terus menyala, menghangatkan pagi penuh syukur dan harapan di Tahun Kuda Api.

Sejak Senin (16/2/2026) sore, hujan turun merata di Kota Jambi. Hujan baru reda pada Selasa dini hari. Halaman di sekitar kelenteng pun basah dan tergenang air.

Namun, kondisi itu tak menyurutkan semangat umat. Sejak pukul 06.00 WIB, silih berganti umat Konghucu berdatangan ke Kelenteng Hok Tek, yang  populer dengan nama Kelenteng Siau San Teng atau Kelenteng Tua Pek Kong. Siau San Teng merupakan yang terbesar dari 22 kelenteng di Kota Jambi.

Son Ye (48), misalnya, datang bersama suami dan dua anaknya. Pakaian mereka senada, berwarna merah.

“Kami setiap tahun baru pasti datang ke kelenteng ini merayakan Imlek,” ujarnya.

Mengawali Tahun 2577 Kongzili di kelenteng itu dilakukannya sebelum bersilahturahmi dengan keluarga besar. “Paginya harus ibadah dulu, siangnya baru berkumpul dengan keluarga terdekat,” tambahnya.

Usai menyalakan dupa dan berdoa, mereka berkumpul di halaman kelenteng. Rupanya, Son Ye menunggu datangnya iring-iringan barongsai.

Tak lama, sebuah kendaraan bak terbuka memasuki ke parkiran kelenteng. Para penari pun segera turun dari bak kendaraan.

Baca JugaKuda Api, Api Harapan

Alat musik tambur, kenong, dan simbal, dimainkan selagi para penari mendekati umat yang berkumpul di halaman kelenteng. Atraksi barongsai membuat pagi yang basah itu terasa hangat.

Son Ye yang telah menyiapkan angpau lantas mendekat. Di hadapannya, dua penari menyuguhkan atraksi naga.

Beberapa saat, ia menyambut tarian itu dengan menyelipkan angpau ke dalam mulut barongsai. Tak hanya Son Ye, kedua anaknya dan suami juga memberikan angpau serupa.

Tak hanya umat Konghucu, warga sekitar pun ramai mendatangi kelenteng untuk menyaksikan atraksi barongsai. Lidia, warga Kampung Manggis, mengatakan dirinya selalu datang ke Kelenteng Siau San Teng untuk ikut menikmati kemeriahan itu.

Baca JugaPerayaan Imlek di Kelenteng Terbesar Jambi Kembali Semarak

“Kami datang ke sini ingin melihat barongsai dan perayaan Imlek,” ujar wanita paruh baya yang membawa dua anaknya.

Bagi umat yang merayakan Imlek, barongsai menjadi atraksi menghibur. Sedangkan, bagi penari barongsai, momen Imlek menjadi saat memanen cuan.

Itu terlihat dari padatnya jadwal mengisi hiburan mulai dari momen Imlek hingga Cap Go Meh. Tiap-tiap grup akan berkeliling dari satu kelenteng ke kelenteng lain.

Di Kelenteng Siau San Teng, mereka menari 30 menit hingga satu jam. Setelah itu, mereka lalu bergeser ke kelenteng lain.

“Setelah ini kami akan lanjut menari lagi di kelenteng lain sekitar sini sampai malam nanti,” kata ketua grup barongsai Kong Hok Say, Andri Lie (35).

Di Jambi, ada lebih dari 20 kelenteng yang turut merayakan Imlek. Tujuh grup barongsai aktif memanfaatkan momen mengisi hiburan. Agar jadwal atraksi tidak saling bertabrakan, pengelola kelenteng biasanya yang mengatur giliran.

Ratusan juta

Hiburan barongsai tak hanya hadir di kelenteng. Perayaan Imlek juga berlangsung meriah di pusat-pusat perbelanjaan yang biasanya mengundang grup barongsai. Bahkan, keluarga-keluarga yang merayakan kebersamaan juga kerap mengundang barongsai datang ke rumah.

Ratusan juta mengalir untuk seluruh grup barongsai selama masa Imlek hingga Cap Go Meh. Jumlah itu akan dibagikan untuk para penari dan pemain musik. Sisanya ditabung pengelola untuk operasional mereka berlatih.

Cukup menjanjikannya hasil yang didapat grup barongsai turut berpengaruh melahirkan kelompok-kelompok baru. Kalau 10 tahun lalu, hanya ada dua grup barongsai di Kota Jambi. Saat ini, jumlah grup bertumbuh menjadi tujuh kelompok.

Mereka mengisi atraksi barongsai tak hanya pada momen Imlek dan Cap Go Meh. ”Sering juga kami diundang menghibur acara ulang tahun, pesta, atau acara peresmian,” tuturnya.

Namun, bukan berarti hiburan barongsai tanpa tantangan. Menurut Andri, menjadi penari barongsai tak semudah yang dilihat orang.

Tak jarang ada pemain cedera ketika beraksi melompat. Untuk itu, rutinias berlatih sangat diperlukan minimal tiga kali dalam sepekan. Hal ini demi mengurangi risiko cedera.

Berkah Imlek kembali dinantikan banyak warga di tahun yang baru. Bagi kelompok seni barongsai, setidaknya rezeki itu sudah mulai mereka raup dengan senang hati.

Baca JugaImlek, Bagaimana Peruntungan dan Tantangan di Tahun Kuda Api?
Baca JugaTahun Kuda Api, Bagaimana Prospek Karier dan Ekonomi?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga Rilis SI CADIAK, Olah Limbah Pertanian Jadi Kompos-Parfum
• 17 jam lalukatadata.co.id
thumb
AHY: Batam Miniatur Indonesia Pusat Keberagaman 
• 18 jam lalueranasional.com
thumb
Keluarga Korban Pria Paruh Baya yang Tewas di Tikala Toraja Utara Tolak Autopsi
• 23 jam laluharianfajar
thumb
Pemutihan Pajak Kendaraan Masih Berlaku di 3 Daerah Ini!
• 14 jam lalumedcom.id
thumb
Penembakan di Arena Seluncur Es Rhode Island Tewaskan 3 Orang
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.