Bisnis.com, JAKARTA — Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta melaksanakan rukyatul hilal untuk penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026). Kegiatan pemantauan hilal dilaksanakan di Lantai V Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Jalan D.I. Panjaitan No. 10, Jakarta Timur.
Berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan tim rukyat, hilal tidak terlihat di lokasi pengamatan. Secara astronomis, posisi hilal saat matahari terbenam berada pada ketinggian -0° 54’ 14”, sehingga hilal masih berada di bawah ufuk dan tidak memenuhi kriteria visibilitas.
Secara teori, agar dapat terlihat dan memenuhi kriteria imkan rukyat yang digunakan pemerintah, hilal seharusnya berada minimal pada ketinggian 3° di atas ufuk dengan sudut elongasi minimal 6,4°.
Data hisab ephemeris mencatat ijtima atau konjungsi terjadi pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.03.15 WIB, bertepatan dengan 29 Syakban 1447 H. Sementara itu, matahari terbenam pada pukul 18.15.45 WIB, sedangkan bulan terbenam lebih dahulu pada pukul 18.11.10 WIB, dengan selisih waktu -3 menit 37 detik.
Selain itu, sudut elongasi matahari-bulan tercatat sebesar 1° 02’ 27”, dengan umur hilal 0 jam 4 menit dan persentase cahaya hilal sebesar 0,01 persen. Dengan kondisi tersebut, secara astronomis hilal belum memungkinkan untuk diamati karena masih berada di bawah ufuk dan jauh dari batas minimal kriteria visibilitas.
Meski hilal tidak terlihat di lokasi pemantauan Kanwil Kemenag DKI Jakarta, hasil rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia akan dilaporkan dalam sidang isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia. Sidang tersebut akan menjadi dasar pemerintah dalam menetapkan secara resmi awal Ramadan 1447 Hijriah.
Baca Juga
- Menteri Agama Nasaruddin Ungkap Alasan Sidang Isbat Awal Puasa 2026 Digelar di Hotel
- Hasil Sidang Isbat Awal Ramadan 2026, Awal Puasa Muhammadiyah dengan Pemerintah Beda?
- Hasil Sidang Isbat Awal Puasa 2026, Menag Prediksi Terjadi Perbedaan
Kegiatan rukyatul hilal ini melibatkan tim falakiyah dan unsur terkait guna memastikan proses pengamatan berjalan sesuai prosedur.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan media, masyarakat, dan ormas Islam yang telah berpartisipasi aktif dalam pengamatan hilal di DKI Jakarta. Ini adalah bagian dari ikhtiar kita bersama untuk melakukan verifikasi keberadaan hilal secara objektif dan akuntabel,” ujar Adib.
Dia menegaskan bahwa keterlibatan berbagai unsur masyarakat dalam proses rukyatul hilal menunjukkan semangat kolaborasi dan transparansi dalam penetapan awal bulan Hijriah.
Adib berharap sinergi antara pemerintah, media, dan ormas Islam dapat terus terjalin dengan baik demi memberikan informasi yang akurat dan menyejukkan kepada masyarakat.





