Warga Manado: Bus Menjadi Tolok Ukur Simbol Kemajuan Kota

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Memilih antara bus atau mikrolet atau mikro bukanlah perkara sulit bagi sebagian warga Manado, terutama yang lanjut usia. Bagi mereka, bus bukan sekadar sarana transportasi umum yang lebih aman dan nyaman, melainkan juga menyimbolkan kemajuan ibu kota Sulawesi Utara itu.

Hal itu ditegaskan Dorce Poseratu (67), warga Kecamatan Mapanget, pada Selasa (17/2/2026) siang, yang terik. Ia baru saja turun dari bus rute K2 Trans Manado yang membawanya dari rumah ke Pelabuhan Dermaga Kalimas di bilangan Calaca, Kecamatan Wenang, di mana ia akan pindah ke rute K1 jurusan Terminal Malalayang.

”Kalau mau lihat kemajuan, ya, harus ini (bus), to? Karena torang musti ikut perkembangan,” ujar Dorce penuh keyakinan.

Mengikuti sejumlah kota lain di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, Aceh, dan Palembang, layanan Teman Bus dalam bingkai program buy the service (BTS) dari Kementerian Perhubungan mulai aktif di Manado pada 28 Novembr 2025. Layanan itu terbagi menjadi dua rute, yaitu K1 dan K2 yang diisi 16 unit bus.

Rute K1, atau Koridor 1, menghubungkan Terminal Malalayang dengan di sisi selatan kota dengan Pelabuhan Kalimas di utara dengan jarak antarbus (headway) sekitar 15 menit 30 detik. Sementara itu, rute K2 menghubungkan Pelabuhan Kalimas dengan Bandara Sam Ratulangi di sisi timur Manado dengan headway 14 menit 30 detik.

Kehadiran bus ini disambut baik oleh sebagian masyarakat, termasuk Dorce. Ia bilang, setiap hari ia harus pergi ke salah satu gereja di Kecamatan Sario untuk keperluan pelayanan rohani. Sebelum November 2025, ia bergantung pada mikro, tetapi langsung beralih ke Trans Manado sejak layanan itu diaktifkan pemerintah pada November 2025.

Baca JugaSopir ”Mikro” Mengeluh, Pemkot Manado Janjikan Integrasi

”Yang paling bagus, ya, bus ini. Duduknya bagus, (ada) AC, tidak bising. Kalau mikro, panas, kemudian sopir-sopirnya ada yang tidak bertanggung jawablah. Lagunya (diputar) sangat keras, terus mereka merokok. Kalau bus, nda ada, tenang,” tambah Dorce.

Hal senada dikatakan Yanti Sapudi (59), warga Amurang, Minahasa Selatan. Ia kerap mengantarkan cucunya yang bersekolah di daerah Paal Dua di Manado. Jadi, ia akan naik bus dari Amurang ke Terminal Malalayang, lalu naik bus K1, kemudian pindah ke K2.

Kendati begitu, tak semua pihak senang dengan kehadiran bus, terutama para sopir mikro. Selama hampir tiga bulan sejak Trans Manado beroperasi, berkali-kali para sopir mikro menggelar aksi penolakan. Di jalanan yang dilalui bus, gesekan tak terhindarkan. Mereka mengadang bus sehingga penumpang terpaksa diturunkan.

Meskipun begitu, Dorce yang pindah ke Manado dari Ambon, Maluku, pada tahun 1978, yakin mikro akan tetap digunakan masyarakat. Alasannya, bus juga punya kekurangan, seperti tempat pemberhentian yang tidak ada peneduhnya sehingga ia harus kehujanan bila hujan dan kepanasan bila panas.

Baca JugaKian Terkoneksi dengan KA Trans-Sulawesi dan New Port Makassar

Selain itu, penumpang bisa berhenti langsung di muka tempat tujuan jika naik mikro karena moda transportasi umum itu tak terikat aturan terkait halte maupun tempat pemberhentian. Untuk itu, sopir-sopir mikro tak perlu khawatir kehilangan pemasukan.

Nda perlu mo baku-baku berantem,” kata dia.

Hal senada dikatakan Yanti. “Kalau ini (bus) kan (berhenti) di titik-titik yang dia mo berenti akang. Tapi kalau lebe suka mana, bus, noh,” kata dia.

Sopir-sopir Trans Manado pun senang dengan tanggapan masyarakat yang begitu positif terhadap kehadiran layanan yang mereka gerakkan. Rence Pandeirot (44), sopir bus K1, misalnya, mengatakan bus pada Jumat malam, Sabtu, dan Minggu selalu ramai penumpang.

“Mereka antusias sekali dengan adanya BTS,” kata dia.

Akan tetapi, hal itu Rence sebut sebagai tanda bahwa penumpang belum mau memercayakan sepenuhnya mobilitas mereka pada Trans Manado, terutama pada hari kerja.

Baca JugaSepi yang Absurd di Terminal Malalayang

”Dia (bus) kan tiap halte harus berhenti. Jadi orang-orang lebih suka pigi sendiri karena (kalau naik) bus mungkin agak terlambat ,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Simson Mames (47), sopir bus K2. Menurut dia, bus justru baru ramai pada tengah hari di hari biasa. “Kalau pagi, masih bisa dikatakan sunyi. Tapi ada juga yang parkir kendaraan dekat halte, lalu naik bus sampai daerah Paniki (Mapanget), daripada macet” tutur dia.

Simson bilang, ia berharap masyarakat bisa terus percaya pada layanan bus agar Manado semakin maju, ditandai dengan berkurangnya kemacetan. “Wajarlah kalau kita ada bus Trans Manado, agar kota kita ini lebih baik dan lebih maju,” ujarnya.

Aspirasi ini, menurut Simson, sangat mungkin tercapai seiring dengan berkurangnya gesekan dengan sopir mikro. Ia mengaku pernah mengalami sendiri gesekan itu pada 26 Desember 2025 ketika para sopir mikro mengadang busnya.

Dia bilang, hanya berdiam di dalam bus, sementara penumpang diturunkan. Ketegangan baru mereda setelah tim gabungan polisi dan TNI tiba.

“Situasi untuk sementara bisa aman dan terkendali. Cuma, kita tidak tahu juga apa ke depannya,” kata Simson.

Baca JugaMikro, Transportasi yang Masih Menjadi Andalan Manado

Rence juga mengaku masih waswas meski tak pernah mengalami apa yang dialami Simson. “Cuma sekarang kayaknya so agak normal, so agak membaik lah,” kata dia.

Terakhir, para sopir mikro menggelar aksi protes di Gedung DPRD Sulut pada akhir Januari 2026. Saat itu, koordinator aksi yang mewakili para sopir mikro, Makarius Samodara, menyebut Trans Manado menyebabkan mereka kehilangan pemasukan secara signifikan karena bus dan mikro harus berebut penumpang di jalur yang sama.

Ia pun mengatakan para sopir berharap layanan Trans Manado dihentikan secara permanen. Namun, ia memercayakan keputusan tersebut kepada para pemangku kepentingan eksekutif dan legislatif di tingkat kota maupun provinsi.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Perhubungan Kota Manado Jeffry Worang, permintaan itu kemungkinan besar tak akan dituruti jika melihat tingkat keterisian bus yang ia sebut mencapai 80 persen setiap hari dari total kapasitas 30 orang.

”Ini, kan, masih tahap pengenalan, tapi tanggapan dari masyarakat sungguh luar biasa,” kata dia.

Baca JugaMikro dan Denyut Nadi Niaga di Pasar 45 Manado

Sebagai solusi, pihaknya akan menawarkan rancangan trayek baru bagi empat rute mikro yang kini jalurnya berimpitan dengan Trans Manado. Setiap rute akan dipecah menjadi dua sampai sembilan rute, dan semuanya akan bertemu dengan pemberhentian bus sehingga mikro bisa beralih fungsi menjadi pengumpan (feeder) bagi bus.

Kendati begitu, belum ada perkembangan lanjutan dari ide ini. Yang jelas, penerimaan sopir mikro terhadap rute-rute feeder itu akan menentukan ada atau tidaknyae bentrok antarsopir angkutan umum di jalanan Manado pada hari-hari mendatang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penjualan Mobil Listrik Januari 2026: Jaecoo Pepet Dominasi BYD
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Emas Antam saat Imlek Hari Ini (17/2), Turun Jadi Rp2,91 Juta per Gram
• 12 jam lalubisnis.com
thumb
Hilal Tak Terlihat, Hasil Pemantauan di Monas Diserahkan ke Sidang Isbat
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Komunitas Mataholang Pentaskan Teater Akulturasi Budaya di Braga
• 3 menit lalurepublika.co.id
thumb
Menko PM Sebut 152 Juta Warga Terima PBI BPJS Kesehatan, Data Terus Dimutakhirkan
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.