PBNU: Perbedaan Awal Ramadhan Jangan Jadi Perdebatan, Ini Sudah Biasa

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohammad Mukri mengimbau masyarakat tidak menjadikan perbedaan penetapan awal Ramadhan sebagai polemik.

Menurut dia, perbedaan waktu memulai puasa adalah hal yang sudah berulang kali terjadi dan tidak memengaruhi kekhusyukan ibadah umat Islam.

“Ya kita biasalah yang namanya perbedaan dalam masalah waktu puasa awal Ramadhan seperti ini enggak usah terlalu diinikan. Yang mau ikut Muhammadiyah menjalankan puasa besok ya monggo, karena itu kan hasil keyakinannya,” ujar Mukri kepada Kompas.com, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Hasil Sidang Isbat, Awal Puasa 2026 Jatuh pada Kamis 19 Februari

Mukri juga menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa kepada warga Muhammadiyah yang lebih dulu memulai Ramadhan.

“Kita yang mulai puasa besok kepada saudara-saudara kaum muslimin terutama warga Muhammadiyah ya selamat menunaikan ibadah puasa,” katanya.

Mukri menekankan, perbedaan penetapan awal puasa bukanlah hal baru dan selama ini tidak menimbulkan dampak apa pun terhadap kehidupan umat.

Baca juga: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 di Jakarta Selama Sebulan

Dia menambahkan, yang terpenting adalah umat Islam saling menghormati pilihan masing-masing dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan.

“Kalaupun ada beda ya enggak apa-apa. Ini ibadah kok. Jangan sampai itu menjadi isu atau apa. Kita berbeda dalam penetapan ini kan bukan hanya sekali dua kali tapi sudah berulang-ulang dan itu enggak berpengaruh apa-apa,” kata Mukri.

Hasil sidang isbat awal Ramadhan 2026

Pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah atau awal Ramadhan 2026 masehi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan hasil sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah.

"Berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026," ujar Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).

Baca juga: Hilal Tak Terlihat di Jakarta, Awal Puasa Ramadhan 2026 Diumumkan Malam Ini

Nasaruddin menuturkan, keputusan ini diambil karena pemantauan hilal di sejumlah titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria MABIMS yang dipedomani oleh pemerintah Indonesia.

Berdasarkan kriteria MABIMS, tinggi hilal minimum 3 dan elongasi minimum 6,4 derajat.

Sementara, hasil pemantauan hilal menunjukkan bahwa sudut elongasi yang ada masih sangat minim, yakni 0 derajat 56 menit 23 hingga 1 derajat 53 menit 36 detik.

"Jadi, secara hisab, data hilal pada hari ini tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS," kata Nasaruddin.

Baca juga: Link Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Setiap Daerah Resmi Muhammadiyah

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Hasil sidang isbat yang dilakukan Kemenag ini sekaligus mengonfirmasi bahwa awal bulan Ramadhan 2026 yang ditetapkan pemerintah, berbeda dengan yang ditetapkan Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baznas Papua Mengajak Masyarakat Meningkatkan Zakat Demi Pemerataan Pendidikan
• 3 jam lalupantau.com
thumb
Ribuan wisatawan kunjungi Kepulauan Seribu pada libur Imlek
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Apa Itu Hilal dan Kenapa Harus Terlihat sebelum Ramadan Dimulai? Ini Penjelasannya
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Makin Berkilau di Kancah Global, BRI Group Boyong 4 Penghargaan dari Alpha Southeast Asia
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hilal 1 Ramadan 1447 H Tak Terlihat di Ambon, Ini Penjelasan BMKG
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.