Gelombang Tinggi Mengancam Perairan Nias dan Sekitarnya, Nelayan Sumut Diminta Waspada

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, MEDAN - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bagi para nelayan dan pemangku kepentingan maritim untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan Sumatera Utara (Sumut).

Fenomena ini diprediksi berlangsung selama tiga hari ke depan.

BACA JUGA: Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini, BMKG Sampai Mengeluarkan Peringatan

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Belawan Christen Marpaung mengatakan gelombang tinggi tersebut dapat terjadi di Perairan Barat Sumatra Utara, Perairan Barat Kepulauan Nias, Perairan Barat Kepulauan Batu, Perairan Timur Kepulauan Nias, Perairan Kepulauan Batu dan Samudra Hindia barat Kepulauan Nias.

"Gelombang setinggi 1.25-2.5 Meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan di Sumatera Utara pada 18-20 Februari 2026," kata Christen di Medan, Selasa.

BACA JUGA: BMKG Sumsel Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi di Seluruh Wilayah

Kondisi tersebut berisiko terhadap keselamatan pelayaran bagi perahu nelayan jika kecepatan angin mencapai 15 knot tinggi gelombang mencapai 1.25 Meter, demikian juga dengan kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang menc??ai 1.5 Meter.

Pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari Timur Laut hingga Timur dengan kecepatan angin berkisar 5-30 knot, sedangkan di wilayah Indonesia bagian selatan umumnya bergerak dari Barat hingga Barat Laut dengan kecepatan angin berkisar 6-30 knot.

BACA JUGA: BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi di Kepri pada 17 Februari

Disebutkan, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dalam beberapa hari terakhir di sebagian besar wilayah Sumatera Utara, disebabkan adanya konvergensi dan belokan angin di wilayah Sumatera Utara akibat adanya Sirkulasi siklonik (eddy) di Perairan Kalimantan dan Samudera Hindia barat Aceh, serta adanya sistem tekanan rendah (Low) di Samudera Hindia Barat daya Pulau Sumatera.

Hal ini menyebabkan terjadi perlambatan dan penumpukan massa udara di wilayah Sumatera Utara.

Analisis dinamika atmosfer menunjukkan adanya belokan angin (shearline) dan konvergensi angin di sekitar wilayah pantai barat dan pantai timur Sumatera Utara.

Anomali suhu muka laut yang relatif hangat serta kondisi labilitas atmosfer yang cukup kuat turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Budianto Hutahaean


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DNIKS Gelar Gerak Tak Terbatas 2026, Perkuat Inklusi Sosial Difabel
• 11 jam laludisway.id
thumb
Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H pada Kamis, 19 Februari 2026
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Betrand Peto Tak Bisa Sembunyikan Rindu, Imlek Pertama Keluarga Sarwendah Tanpa Yeye
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Tanda Kamu Sudah Lebih Bijak dalam Mengatur Keuangan Sehari-hari
• 8 jam lalubeautynesia.id
thumb
Hansi Flick Ungkap Penyebab Kekalahan Barcelona 1-2 dari Girona
• 9 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.