jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap metode penilaian calon pemimpin di Indonesia. Dalam forum Public Lecture Series 002 yang digelar di Embung Giwangan, Kota Yogyakarta, Senin (16/2), ia menegaskan bahwa kampus harus menjadi "medan tempur" ide bagi para calon kepala daerah maupun nasional.
Rocky menilai selama ini kualitas calon pemimpin sering kali dikaburkan oleh hiruk-pikuk hiburan dan angka-angka survei yang tidak mencerminkan kedalaman berpikir.
BACA JUGA: Dosen UGM: Pilkada tidak Langsung Melemahkan Kedaulatan Rakyat
Menurut Rocky, kapasitas intelektual dan moral seorang calon pemimpin tidak akan pernah teruji jika mereka hanya muncul di acara seremonial.
"Kapasitas intelektual dan moral tidak bisa diuji di panggung dangdut atau lewat lembaga survei yang bisa dibeli. Uji mereka di sini, di kampus, di forum seperti ini," tegas Rocky di hadapan audiens.
BACA JUGA: Pilkada Tidak Langsung Membuat Calon Kepala Daerah Berjarak dengan Masyarakat
Ia menyoroti fenomena di mana elektabilitas sering kali berbanding terbalik dengan intelektualitas. Baginya, popularitas di mata publik tidak menjamin seseorang memiliki ketangguhan dalam berargumen atau visi yang jelas untuk daerahnya.
Kampus Sebagai "Penyaring" Ketangguhan
BACA JUGA: Wacana Pilkada Lewat DPRD: Kemunduran Demokrasi dan Mencederai Hak Rakyat
Lebih lanjut, Rocky mendorong agar para calon pemimpin tidak "dimanjakan." Sebaliknya, mereka harus berani menghadapi kritik pedas dan debat terbuka di lingkungan akademis.
Rocky menegaskan bahwa calon pemimpin harus berani beradu argumen dengan mahasiswa.
Dia menyebut calon pemimpin justru "harus dibully" secara intelektual untuk melihat sejauh mana ketangguhan argumen mereka.
Kampus wajib menjadi filter utama sebelum seorang calon melangkah ke tahap elektoral.
"Setelah itu (diuji di kampus), baru silakan lihat elektabilitasnya di lembaga survei," tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Rocky melayangkan tantangan terbuka bagi siapa pun yang merasa layak memimpin di masa depan untuk memiliki keberanian masuk ke lingkungan kampus dan mempertanggungjawabkan isi kepala mereka. (mcr25/jpnn)
Redaktur : Januardi Husin (mar3)
Reporter : M. Sukron Fitriansyah




