Jalak kebo atau kerak kerbau dikenal dengan nama ilmiah Acridotheres javanicus. Di berbagai daerah, burung ini disebut jalak kerbau, jalak hitam, jalak ungu, jalak penyu, dan kerak. Nama-nama lokal itu tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan perilaku uniknya di alam.
Habitat alaminya terutama di Jawa dan Bali. Kini, populasinya juga ditemukan di Sumatra, Kalimantan, Sunda Kecil, hingga sebagian Sulawesi.
Ukuran tubuhnya sedang, sekitar 25 sentimeter, dengan postur ramping dan tegap. Warna bulunya abu-abu tua hingga hitam keunguan, memberi kesan elegan dan tegas. Saat terbang, bercak putih di sayap dan ujung ekor terlihat kontras dan mencolok.
Kepalanya relatif besar dengan jambul pendek yang rapi. Lehernya proporsional dan kuat, mendukung aktivitas mencari makan di tanah maupun di tubuh hewan besar. Badannya padat, membuatnya lincah saat bergerak di permukaan tanah atau rerumputan.
Paruh jalak kerbau berwarna kuning cerah, kokoh, dan sedikit melengkung. Paruh ini efektif untuk mencabut kutu, menangkap serangga, serta mematuk buah. Kakinya juga berwarna kuning, kuat, dan fleksibel untuk bertengger di punggung kerbau.
Ciri khususnya terletak pada kombinasi warna hitam dan putih yang kontras. Tunggir dan ujung ekor putih menjadi identitas visual yang mudah dikenali. Inilah penanda yang membedakannya dari jenis jalak lain.
Perbedaan jantan dan betina terlihat pada ukuran dan warna. Jantan umumnya lebih besar, warna hitamnya lebih tegas, dan posturnya lebih kokoh. Betina cenderung lebih mungil, warna bulunya lebih pudar, dan bentuk kepala lebih bulat.
Jalak kerbau masuk kerajaan Animalia, filum Chordata, kelas Aves, ordo Passeriformes, famili Sturnidae, genus Acridotheres. Klasifikasi ini menempatkannya dalam kelompok burung jalak yang dikenal cerdas dan adaptif. Karakter ini menjelaskan kemampuannya hidup di berbagai lanskap.
Ada beberapa kerabat dekat dalam genus Acridotheres, seperti kerak jambul dan kerak india. Perbedaannya terletak pada warna ekor, jambul, dan pola putih pada sayap. Jalak kerbau memiliki warna putih ekor lebih lebar dan mencolok.
Makanan jalak kerbau bersifat omnivora. Ia memakan kutu, serangga, belalang, jangkrik, cacing, buah, biji, hingga sisa makanan manusia. Fleksibilitas ini membuatnya mudah bertahan di lingkungan pertanian dan perkotaan.
Tempat mencari makan sangat beragam. Ia aktif di sawah, padang rumput, kebun, pekarangan, hingga area pemukiman. Ia juga sering berjalan di tanah, mematuk apa pun yang ditemuinya.
Fungsi ekologisnya sangat penting. Jalak kerbau berperan sebagai pengendali hama alami di lahan pertanian. Ia juga membantu menjaga kesehatan ternak dengan memangsa parasit di tubuh kerbau.
Hubungan dengan kerbau dikenal sebagai simbiosis mutualisme. Burung mendapatkan makanan berupa kutu dan serangga. Kerbau terbantu karena tubuhnya terbebas dari parasit pengganggu.
Kemampuan terbangnya stabil dan efisien. Ia mampu terbang berkelompok dalam jarak sedang. Sayapnya kuat, mendukung mobilitas tinggi di lanskap terbuka.
Keistimewaannya tidak hanya pada perilaku ekologis. Jalak kerbau dikenal sangat cerdas dan adaptif. Ia mampu membaca lingkungan, berinteraksi sosial, dan berkomunikasi dengan kompleks.
Bunyinya khas dan mudah dikenali. Kicauannya berupa suara berkeriut, berderik, dan siulan kasar. Ia juga dikenal mampu meniru suara burung lain dan suara lingkungan.
Kemampuan meniru suara ini dikaji dalam studi perilaku burung Asia Tenggara oleh Feare dan Craig dalam Starlings and Mynas (1998). Buku ini menjelaskan kecerdasan vokal keluarga Sturnidae. Jalak kerbau termasuk spesies dengan kemampuan adaptasi vokal tinggi.
Penelitian Marshall dkk. dalam Trade in Asian Songbirds (2020) menunjukkan tekanan perdagangan burung kicau sangat besar. Studi ini mencatat ratusan ribu ekor berada dalam sangkar rumah tangga. Data ini memperkuat ancaman terhadap populasi liar.
Laporan BirdLife International (2023) menyebutkan populasi liar di habitat alaminya terus menurun. Penurunan ini dipicu perburuan, perdagangan ilegal, dan degradasi habitat. Jalak kerbau menjadi simbol krisis burung kicau Asia Tenggara.
Penelitian oleh Ignatius Pramana Yuda (2021) menekankan peran ekologis jalak kerbau sebagai pengendali serangga dan penyebar biji. Ia menyebut burung ini penting bagi keseimbangan agroekosistem. Kehilangannya berdampak langsung pada rantai ekologi.
Mengapa disebut burung usil. Karena perilakunya yang aktif, agresif, dan berani. Ia sering mengganggu burung lain, hewan ternak, bahkan manusia yang mendekati sarangnya.
Umur jalak kerbau di alam berkisar 10 hingga 15 tahun. Dalam penangkaran, usia bisa lebih panjang dengan perawatan baik. Umur siap produksi biasanya pada usia satu tahun.
Tempat bersarangnya di lubang pohon, celah bangunan, atau rongga alami. Sarangnya sederhana, terbuat dari ranting dan serat tumbuhan. Ia memilih lokasi aman dan tersembunyi.
Jumlah telur biasanya dua hingga tiga butir. Telurnya berwarna hijau biru pucat. Masa mengeram berlangsung sekitar dua minggu.
Anak burung mulai belajar terbang dalam usia tiga minggu. Mereka mandiri penuh dalam usia dua hingga tiga bulan. Setelah itu, mereka bergabung dengan koloni.
Status konservasi jalak kerbau kini masuk kategori Rentan menurut IUCN. Ini berarti spesies ini menghadapi risiko kepunahan di alam liar. Status ini mencerminkan tekanan besar dari aktivitas manusia.
Perlindungan satwa diatur dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Jalak kerbau termasuk satwa yang perlu pengawasan ketat. Regulasi ini menegaskan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati.
Tantangan terbesarnya adalah perdagangan burung kicau. Permintaan pasar mendorong perburuan masif. Pestisida dan hilangnya habitat memperparah kondisi ini.
Ironisnya, di habitat introduksi, jalak kerbau justru menjadi spesies invasif. Di Singapura dan Taiwan, populasinya sangat besar. Ini menunjukkan paradoks konservasi yang kompleks.
Jalak kerbau bukan sekadar burung. Ia simbol hubungan manusia, alam, dan budaya. Ia hadir dalam mitos, cerita rakyat, dan kehidupan sehari-hari petani.
Jalak kerbau adalah potret kecil kecerdasan alam. Ia sederhana, tetapi bermakna. Ia biasa, tetapi vital.
Daftar Pustaka
BirdLife International. 2023. Species Factsheet: Acridotheres javanicus. BirdLife International: Cambridge. https://www.birdlife.org
Feare, C., & Craig, A. 1998. Starlings and Mynas. Princeton University Press: Princeton. https://press.princeton.edu
Marshall, H., dkk. 2020. Trade in Asian Songbirds: Crisis and Conservation. Cambridge University Press: Cambridge. https://www.cambridge.org
Yuda, I. P. 2021. Peran Burung dalam Agroekosistem Tropis. Universitas Atma Jaya Yogyakarta Press: Yogyakarta. https://uajy.ac.id





