Pantau - BMKG Nusa Tenggara Barat menyampaikan posisi hilal masih berada di bawah ufuk dengan ketinggian minus 1,268 derajat berdasarkan hasil pemantauan di Pusat Observasi Bulan, Lombok Utara, Selasa.
Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan menyatakan, "Tinggi hilal minus 1,268 derajat dan elongasi 1,208 derajat," dalam laporan di Mataram pada Selasa.
Ia menjelaskan dengan posisi Bulan yang masih berada di bawah garis horizon serta elongasi yang sangat kecil, hilal secara astronomis tidak dapat teramati dengan jelas.
Secara umum, hilal berpotensi terlihat apabila berada di atas ufuk dengan ketinggian positif dan memiliki elongasi minimal sekitar 6 hingga 7 derajat.
Pemantauan Lanjutan di NTBSelain melakukan pengamatan di Lombok Utara, BMKG NTB juga menyiapkan titik rukyatul hilal di Pantai Loang Baloq, Kota Mataram.
Kegiatan pengamatan hilal tersebut dijadwalkan berlangsung pada pukul 17.00 WITA pada Rabu, 18 Februari 2026.
Sumawan menerangkan tinggi hilal saat pemantauan pada Rabu sore diperkirakan telah mencapai 8,287 derajat dengan elongasi 11,588 derajat.
Sidang Isbat dan Penetapan Awal RamadhanSebelumnya, Kementerian Agama menggelar sidang isbat penetapan awal bulan Hijriah di Jakarta pada Selasa, 17 Februari 2026.
Hasil sidang isbat tersebut menjadi dasar resmi pemerintah pusat dalam menetapkan awal puasa Ramadhan bagi masyarakat Indonesia.
Kementerian Agama bersama BMKG melakukan pemantauan hilal secara serentak di 133 titik yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Dari total 133 titik tersebut, sebanyak 96 titik dipantau oleh Kementerian Agama dan 37 titik dipantau oleh BMKG.




