Setiap maskapai tentu memiliki aturan batas bagasi kabin yang boleh dibawa oleh penumpang ketika naik pesawat. Namun, traveler mungkin merasa bahwa saat ini aturan bagasi kabin di maskapai penerbangan semakin ketat. Bukan tanpa alasan, pilot ini pun membeberkan alasannya.
Dilansir Independent, seorang mantan pilot yang kini menjadi peneliti keselamatan penerbangan menjelaskan pembatasan berat dan jumlah tas kabin dinilai berkaitan langsung dengan keselamatan penerbangan, hingga ketepatan waktu keberangkatan.
Ia mengatakan bahwa kelebihan bagasi kabin kerap menjadi penyebab keterlambatan penerbangan. Ketika loker kabin sudah penuh, awak kabin harus memindahkan tas ke bagasi tercatat, proses yang memakan waktu dan berpotensi menunda keberangkatan.
“Bagasi kabin yang berlebihan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga isu keselamatan yang nyata,” ujarnya.
Pengetatan aturan ini terlihat di berbagai negara. Mulai 2 Februari 2026, Virgin Australia akan menerapkan kebijakan baru untuk penerbangan domestik. Penumpang kelas ekonomi hanya diperbolehkan membawa satu tas kabin standar ke loker atas dengan berat maksimal 8 kilogram, serta satu barang pribadi kecil yang muat di bawah kursi.
Maskapai internasional juga melakukan penyesuaian. Air Canada misalnya, sejak tahun lalu membatasi penumpang tarif dasar hanya membawa satu barang pribadi untuk penerbangan di Amerika Utara dan Tengah.
Namun, perbedaan aturan antar maskapai sering kali membingungkan penumpang. Dalam penerbangan domestik Australia, Qantas masih mengizinkan beberapa kombinasi tas kabin dengan total berat hingga 14 kilogram, sementara Jetstar hanya memperbolehkan maksimal 7 kilogram yang dibagi dalam dua item.
Soal Berat Pesawat, Ini PertimbangannyaSetiap pesawat memiliki batas berat maksimum saat lepas landas. Perhitungan ini mencakup berat pesawat, bahan bakar, logistik kabin, awak pesawat, penumpang, serta bagasi.
Bagasi tercatat ditimbang saat check-in, tetapi bagasi kabin tidak selalu ditimbang satu per satu. Untuk pesawat kecil dengan penumpang terbatas, berat penumpang dan barang bisa ditimbang langsung. Namun, pada pesawat besar seperti Boeing 737, maskapai menggunakan berat rata-rata penumpang yang telah ditetapkan regulator.
Di Australia, berat standar penumpang dewasa pria kini diasumsikan 81,8 kilogram dan perempuan 66,7 kilogram. Sementara itu, berat standar bagasi kabin ditetapkan 7 kilogram per penumpang. Meski demikian, maskapai dapat mengajukan standar sendiri kepada otoritas penerbangan, sehingga aturan antar maskapai bisa berbeda.
Strategi BisnisAturan bagasi kabin juga berkaitan dengan strategi bisnis. Seiring berkembangnya maskapai berbiaya rendah, layanan tambahan, seperti bagasi ekstra, makanan, hingga WiFi menjadi sumber pendapatan tambahan.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memproyeksikan pendapatan dari layanan tambahan, termasuk bagasi, mencapai 144 miliar dolar AS atau sekitar Rp 220 triliun pada 2026. Angka ini bahkan melampaui nilai angkutan kargo udara global.
Akibatnya, banyak penumpang berusaha menghindari biaya tambahan dengan membawa barang sebanyak mungkin ke kabin. Maskapai pun merespons dengan penegakan aturan yang lebih ketat.
Demi Keselamatan dan KenyamananSelain berdampak pada jadwal penerbangan, bagasi kabin berat juga meningkatkan risiko cedera bagi awak kabin yang harus mengangkat tas ke loker atas. Dalam kondisi darurat, penumpang yang berhenti untuk mengambil tas juga terbukti memperlambat proses evakuasi.
“Jika ingin penerbangan lebih aman dan tepat waktu, bawalah barang seperlunya,” ujar sang pilot.
“Awak kabin pasti akan sangat berterima kasih,” tutupnya.





