Menjelajahi Kekayaan Budaya Sasak, dari Tenun Songket sampai Peresean

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Sambil duduk berselonjor di balai-balai kayu, Mutia (45) cekatan mengoperasikan alat tenun tradisional yang berada di depannya. Tangannya lincah memainkan batang-batang bambu ukuran kecil yang terhubung ke jalinan benang untuk membentuk pola. Motif kain tenun songket yang sedang dibuat Mutia pun punya cerita menarik di baliknya.

”Ini namanya motif Jokowi,” kata Mutia, merujuk pada nama Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Motif songket tersebut sebenarnya bernama Bulan Bekurung. Namun, motif itu kemudian dikenal dengan nama motif Jokowi karena pernah dipakai oleh Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Bersama DPD dan DPR pada 2019.

Senin (16/2/2026) siang itu, Mutia dan sejumlah perempuan yang sedang menenun menyambut kami di kompleks Museum Tenun Dharma Setya, Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kunjungan ke museum ini merupakan bagian dari acara Kunjungan Media ke NTB yang digelar oleh Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Mutia menuturkan, pembuatan songket motif Jokowi itu telah dikerjakannya selama tiga minggu terakhir. Namun, kain tersebut masih jauh dari selesai karena pembuatan songket dengan alat tenun tradisional memang membutuhkan waktu lama. ”Ini baru jadi seperempat,” ujar perempuan yang belajar menenun sejak usia 11 tahun tersebut.

Desa Sukarara merupakan salah satu sentra tenun songket di Pulau Lombok. Para perempuan di desa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Kota Mataram, ibu kota NTB, itu belajar menenun secara turun-temurun. Tak heran, tradisi menenun—yang merupakan bagian penting dari kekayaan budaya suku Sasak di Pulau Lombok—masih terus lestari di desa tersebut.

Pengelola Museum Tenun Dharma Setya, Zenor (45), mengatakan, tradisi menenun sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Desa Sukarara. Dia menyebut, berdasarkan catatan sejarah, kain tenun sudah ada di Sukarara setidaknya sejak 1832. Proses pembuatan tenun di desa tersebut biasanya dilakukan menggunakan alat tradisional bernama gedogan.

”Di desa ini, zaman dulu ada tradisi perempuan sebelum menikah itu harus bisa buat tenun. Kalau enggak bisa buat tenun, belum bisa menikah,” ujar Zenor.

Baca JugaDi Antara Fajar dan Senja...

Dia menuturkan, pada masa lalu, perempuan di Sukarara harus membuat minimal tiga kain tenun sebelum menikah, yakni untuk dirinya sendiri, calon suami, dan calon mertua. Kain tenun songket itulah yang kemudian dipakai dalam upacara pernikahan.

Sampai sekarang, tradisi menenun songket masih terus diwariskan secara turun-temurun di Sukarara. ”Perempuan di sini rata-rata belajar menenun sejak usia 9 atau 10 tahun. Dan, menenun itu hanya boleh dikerjakan perempuan, tidak boleh oleh laki-laki,” tutur Zenor.

Zenor menyebut, pembuatan sehelai tenun songket harus melalui proses yang rumit sehingga membutuhkan waktu lama. Dalam sehari, para perempuan di Sukarara biasanya hanya bisa menyelesaikan pembuatan tenun sepanjang 15 sentimeter (cm). Oleh karena itu, untuk menyelesaikan sehelai kain tenun songket sepanjang 2 meter dan lebar 60 cm, dibutuhkan waktu 1-2 bulan.

Selain digunakan untuk acara pernikahan, kain tenun songket sekarang juga dijual kepada para wisatawan yang datang ke Sukarara. Harga kain tenun songket dari desa itu pun bervariasi, dari Rp 300.000 sampai Rp 6 juta. ”Yang mahal itu kalau bahannya sutra, lalu dicampur benang emas dan benang perak,” ucap Zenor.

Baca JugaTenang dan Rileks di Ujung Lombok Utara

Dia menambahkan, motif tenun songket di desa tersebut cukup beragam. Salah satu yang terkenal adalah motif Subahnale yang berasal dari kalimat tasbih atau Subhanallah dalam agama Islam yang bermakna mengagungkan kebesaran Sang Pencipta.

Di Museum Tenun Dharma Setya, pengunjung bisa memperoleh banyak informasi mengenai tenun songket khas Lombok, dari sejarah kain itu hingga ragam motifnya. Wisatawan juga bisa membeli kain tenun songket, berfoto dengan pakaian adat Sasak, hingga memesan makanan tradisional setempat.

Dusun Sade

Setelah berkunjung ke Desa Sukarara, kami juga mendatangi Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Dusun ini dikenal karena warganya masih mempertahankan adat istiadat tradisional suku Sasak secara turun-temurun.

Salah seorang warga Dusun Sade, Amaq Epa (38), menuturkan, masyarakat Dusun Sade sudah tinggal di permukiman itu secara turun-temurun selama 15 generasi. Dusun tersebut memiliki 150 rumah tradisional Sasak dan setiap rumah memiliki satu kepala keluarga.

”Penduduk yang tinggal di sini sekitar 700 orang dan 700 orang ini masih satu rumpun keluarga. Kami masih satu garis keturunan karena sampai sekarang kami di sini masih menikah dengan sepupu misan. Masih belum ada warga di sini yang menikah dengan warga luar karena kesadaran untuk mempertahankan garis keturunan,” tuturnya.

Amaq Epa mengatakan, mayoritas warga Dusun Sade bekerja sebagai petani. Namun, mereka biasanya memanen padi setahun sekali karena pertanian di sana hanya mengandalkan air hujan untuk pengairan. Selain itu, para perempuan di dusun tersebut juga membuat tenun songket untuk dijual sebagai tambahan penghasilan.

Baca JugaMerawat Akar Kebudayaan

Salah satu tradisi unik yang masih dipertahankan di Dusun Sade adalah Peresean, yakni adu ketangkasan tradisional khas suku Sasak. Dalam tradisi ini, terdapat dua lelaki yang menjadi petarung atau disebut dengan istilah pepadu. Dengan iringan musik, dua pepadu akan saling serang menggunakan sebilah rotan serta perisai kayu yang dilapisi kulit sapi atau kerbau.

Pada zaman dulu, kata Amaq Epa, Peresean berfungsi untuk melatih ketangkasan prajurit perang. Tradisi ini juga kerap ditampilkan dalam ritual adat untuk meminta hujan. Saat ini, Peresean juga menjadi atraksi wisata yang ditampilkan dalam berbagai kesempatan, termasuk untuk menyambut turis yang datang ke Dusun Sade.

Kami masih satu garis keturunan karena sampai sekarang kami di sini masih menikah dengan sepupu misan.

Menurut Amaq Epa, dalam Peresean, pepadu hanya boleh memukul lawan di bagian pinggang ke atas. Dalam atraksi ini, tak jarang pepadu mengalami luka hingga berdarah jika dia tak bisa menangkis pukulan lawan. Meski begitu, setelah pertarungan selesai, mereka tak boleh menyimpan dendam.

”Enggak boleh ada dendam karena permusuhan hanya di lapangan itu saja. Kalau sudah kita selesai, pelukan lagi,” ungkapnya.

Sama seperti tenun songket, Peresean telah menjadi salah satu saya tarik wisata budaya di Lombok. Namun, keduanya bukan sekadar atraksi wisata, melainkan juga bagian dari kekayaan budaya masyarakat Sasak di Lombok.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
ARTOTEL Harmoni Jakarta Ajak Publik Bernostalgia Lewat “Piringan Hitam Party”: Sarapan, Berburu Vinyl, dan Nikmati Alunan Musik Analog
• 24 menit laluerabaru.net
thumb
Shia LaBeouf Ditangkap Usai Diduga Terlibat Perkelahian saat Pesta Mardi Gras
• 3 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jelang Duel di Leg 2 AFC Champions League Two, Pelatih Ratchaburi FC Akui Persib Kuat di Kandang
• 3 jam lalubola.com
thumb
Cuaca Mendung Berhujan, Hilal Ramadan di Bandung Diperkirakan Tak Terlihat
• 19 jam laludetik.com
thumb
Bocoran Peningkatan Kamera Selfie Galaxy S26 Ultra
• 16 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.