Strategi Cerdas Kelola Keuangan Ramadan: Seni Menahan Diri agar Tak Boncos

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Bulan Ramadan selalu hadir membawa getaran yang berbeda bagi kita semua. Ada rasa antusias yang membuncah saat menyiapkan sahur pertama, hingga kehangatan yang menjalar saat berkumpul bersama keluarga di meja makan. Namun, di balik kekhusyukan ibadah, ada satu tantangan nyata yang kerap menghampiri tanpa permisi: pengelolaan keuangan.

Ironisnya, di bulan yang mengajarkan kita untuk menahan diri ini, banyak dari kita yang justru terjebak dalam "paradoks konsumsi", di mana pengeluaran justru melonjak jauh lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan biasanya.

Fenomena ini bukan sekadar perasaan kolektif kita semata. Jika kita menilik data Bank Indonesia (BI), proyeksi kebutuhan uang layak edar masyarakat terus mendaki dengan tren yang cukup signifikan. Dari Rp197,6 triliun pada 2024, angka ini naik menjadi Rp212,4 triliun pada 2025, dan diproyeksikan menyentuh Rp228,3 triliun pada musim Ramadan 2026 ini.

Angka fantastis ini adalah cermin betapa masifnya perputaran uang dan daya beli kita. Namun, sebuah tanya besar muncul: apakah belanja ini adalah bentuk syukur, atau justru tanda kita sedang kehilangan kendali?

Sebagai manusia, kita sering kali terpapar fenomena Fear of Missing Out (FOMO). Media sosial dengan cepat menggoda kita melalui tren takjil kekinian hingga busana Lebaran yang seolah wajib dimiliki (Idris et al., 2023). Rasa takut tertinggal tren inilah yang kerap membuat kita lupa pada esensi al-imsaku atau menahan diri.

Pakar tafsir Quraish Shihab (2003) mengingatkan kita bahwa puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan upaya "membakar" sifat-sifat buruk manusia, termasuk nafsu untuk terus berkonsumsi tanpa batas.

Mari kita jujur, kesejahteraan hidup sebenarnya bukan diukur dari seberapa besar THR yang kita terima, melainkan dari seberapa bijak kita mengelolanya (Fatimah & Susanti, 2018). Menata keuangan di bulan suci adalah bentuk ibadah dalam mengelola amanah harta.

Kita bisa memulainya dengan langkah yang sederhana namun tulus: menyusun rencana pengeluaran yang memisahkan kebutuhan pokok dengan keinginan sesaat. Dengan memprioritaskan zakat dan sedekah di awal waktu, kita sebenarnya sedang melatih hati untuk mengunci hak orang lain agar tidak tergerus oleh belanja yang impulsif.

Dalam konteks manajemen yang lebih luas, mari kita jadikan Tunjangan Hari Raya (THR) sebagai jaring pengaman, bukan sekadar modal perayaan. Mengacu pada pemikiran Warsono (2010) dan Senduk (2005), setiap rupiah yang kita terima sebaiknya dialokasikan secara proporsional.

Utamakan pelunasan utang jangka pendek agar "kemenangan" di hari raya terasa lebih ringan tanpa beban. Sediakan ruang bagi tabungan dan investasi masa depan, karena hidup kita tidak berhenti di hari Lebaran saja. Efisiensi kecil, seperti lebih sering memasak di rumah untuk keluarga, bukan hanya soal hemat, melainkan tentang membangun kedekatan yang lebih bermakna di meja makan.

Nah, permasalahan finansial sering kali datang bukan karena kurangnya pendapatan, melainkan karena absennya keterampilan dalam mengalokasi dana secara bijak (Yushita, 2017). Mari kita jadikan Ramadan tahun ini sebagai momentum untuk melatih "otot" kedisplinan keuangan kita. Dengan perencanaan yang matang dan kontrol diri yang kuat, kita tidak hanya akan meraih kemenangan spiritual, tetapi juga ketenangan finansial bagi keluarga tercinta.

Semoga Ramadan kita kali ini menjadi keberkahan yang utuh, baik bagi jiwa maupun bagi masa depan ekonomi kita. Marhaban Yaa Ramadan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Ramadhan, Pembeli di Pasar Baru Bekasi Naik meski Harga Sayuran Melonjak
• 4 jam lalukompas.com
thumb
Peringatan Dini BMKG 18 Februari 2026: Waspada Cuaca Ekstrem dari Aceh hingga Papua
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Reses Kedua, Wakil Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq Serap Aspirasi Warga Kecamatan Rappocini
• 1 jam laluterkini.id
thumb
Luhut Bongkar Isi Pertemuan dengan MSCI, Bahas Reformasi Pasar Modal Indonesia | SAPA PAGI
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Tol Bocimi Tambah Panjang 13,7 Km, Mudik Jakarta-Sukabumi Sejengkal
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.