Bisnis.com, JAKARTA — Emiten ritel pengelola Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA) terus menerus mencetak rugi bersih 9 tahun beruntun sejak 2017—2025. Imbasnya, perseroan membukukan defisit ekuitas pada akhir tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan 2025, rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih MPPA tercatat sebesar Rp152,21 miliar. Rugi bersih itu membengkak dari Rp118,1 miliar pada 2024.
Manajemen MPPA menyebutkan rugi ini dipengaruhi oleh beban non-operasional. MPPA mengklaim kinerja operasional inti ritel tetap menunjukkan resiliensi.
Ditarik lebih jauh, MPPA terus menerus rugi sejak 2017. Merujuk data perseroan, MPPA terakhir kali mencetak laba bersih pada 2016 sebesar Rp38,48 miliar.
Sejak itu, MPPA terus merugi dengan catatan sebesar Rp1,24 triliun pada 2017, Rp898,27 miliar pada 2018, Rp552,67 miliar pada 2019, Rp405,31 miliar pada 2020, Rp337,54 miliar pada 2021, Rp429,63 miliar pada 2022, Rp255,35 miliar pada 2023. Rugi itu berlanjut dalam 2 tahun terakhir.
Imbas rugi 9 tahun beruntun, MPPA membukukan akumulasi saldo defisit yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp2,95 triliun per 31 Desember 2026. Defisit itu membuat MPPA membukukan defisiensi modal atau ekuitas negatif sebesar Rp2,24 miliar.
Terkait dengan kinerja 2025, CEO MPPA Adrian Suherman menjelaskan bahwa kinerja perseroan mencerminkan kemajuan berkelanjutan dalam memperkuat fundamental perseroan melalui pengelolaan biaya yang disiplin.
“Respons positif terhadap inisiatif rebranding semakin memperkuat keyakinan kami bahwa upaya ini akan menghasilkan kinerja yang berkelanjutan dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Adrian dalam keterangan resmi.
Pada 2025, pendapatan bersih MPPA tumbuh 1,9% dari Rp7,11 triliun menjadi Rp7,25 triliun. Namun, MPPA mencatatkan laba operasional sebesar Rp26 miliar atau terkoreksi 23,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp33 miliar.
“Penurunan tersebut dipicu oleh langkah perseroan yang tetap gencar berinvestasi pada inisiatif operasional, inovasi format ritel baru, serta penyegaran produk demi memperkuat daya saing jangka panjang.”
Memasuki tahun 2026, perseroan akan fokus pada percepatan strategi berorientasi pelanggan dengan memastikan ketersediaan produk segar dan kebutuhan keluarga dengan harga terjangkau.
MPPA juga berencana memperkuat produktivitas gerai dan melakukan ekspansi selektif, terutama ke wilayah yang belum terjangkau (underserved), melalui pendekatan ritel terintegrasi dan peningkatan keterlibatan digital.





