Menjelang magrib 17 Februari 2026, pertanyaan yang sama kembali beredar di grup WhatsApp, “Besok puasa atau lusa?”
Muhammadiyah sudah menjawab jauh hari sebelumnya. Rabu, 18 Februari 2026 adalah 1 Ramadan 1447 H. Dasarnya adalah Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT yang disepakati dalam Kongres Istanbul 2016. Parameter yang dipakai jelas secara teknis, yaitu tinggi hilal minimal lima derajat dan elongasi delapan derajat. Titik pertama yang memenuhi syarat dalam siklus global kali ini berada di Alaska.
Bagi sebagian orang, nama itu terdengar ganjil. Mengapa Alaska yang jauh di Amerika Utara bisa menjadi rujukan awal Ramadan bagi umat Islam di Indonesia? Bukankah langit kita berbeda?
Pertanyaan itu wajar. Namun justru di situlah letak pergeseran cara kita membayangkan diri sebagai bagian dari umat yang lebih luas.
Dari Hilal Lokal ke Imajinasi GlobalAntropolog, Benedict Anderson, pernah menjelaskan bahwa komunitas besar seperti bangsa atau umat tidak pernah benar-benar saling bertemu. Kita tidak mengenal satu per satu orang yang menjadi bagian dari komunitas tersebut. Yang kita miliki adalah imajinasi kolektif bahwa kita berada dalam satu kebersamaan.
Dulu kebersamaan dibentuk oleh surat kabar yang dibaca serentak. Hari ini kebersamaan bisa dibentuk oleh kalender yang dibuka pada waktu yang sama.
KHGT pada dasarnya menawarkan satu cara membayangkan Ramadan sebagai pengalaman global. Alaska bukan dipilih karena alasan simbolik atau sakral. Alaska hanya menjadi titik daratan pertama dalam sistem perhitungan global yang memenuhi parameter astronomi sebelum batas dua puluh empat jam berakhir. Begitu parameter terpenuhi di satu titik bumi, tanggal baru diberlakukan untuk seluruh dunia.
Dengan logika tersebut, Ramadan tidak lagi bergantung pada ufuk lokal masing-masing negara. Ramadan menjadi pengalaman waktu yang dibagi lintas zona dan lintas benua.
Soal Sains, Tapi Juga Soal Cara Membayangkan UmmahSecara astronomi, data memang mendukung. Di Makkah pada petang 17 Februari 2026, bulan sudah berada di atas ufuk meski sangat tipis. Kalender resmi Ummul Qura Arab Saudi juga mencatat 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Di sejumlah wilayah lain, hilal sudah berada di posisi positif meski belum tentu terlihat oleh mata.
Artinya, ketika disebut “Alaska”, hal itu bukan berarti umat Islam Indonesia mengikuti hilal yang hanya ada di sana. Alaska hanyalah pintu masuk teknis dalam sistem global. Yang ingin ditegaskan adalah satu malam yang berlaku bersama, bukan satu lokasi yang diistimewakan.
Di sinilah persoalannya menjadi antropologis, bukan sekadar astronomis. KHGT mengusulkan bahwa umat Islam abad ke-21 dapat membayangkan diri menjalani Ramadan yang sama dalam satu kerangka waktu global. Seorang pekerja migran di Riyadh, mahasiswa di London, ibu rumah tangga di Surabaya, dan diaspora di Toronto dapat membuka kalender dan mengetahui bahwa mereka memulai puasa pada tanggal yang sama.
Apakah pendekatan ini lebih benar daripada rukyat berbasis negara? Itu perdebatan lain. Namun yang jelas, KHGT menggeser imajinasi dari komunitas berbasis batas nasional menjadi komunitas berbasis waktu global.
Perbedaan Tidak Hilang, Tapi Imajinasi BerubahPendekatan ini tentu tidak otomatis menghapus perbedaan. Di Indonesia, pemerintah melalui sidang isbat tetap menggunakan mekanisme rukyat dan imkanur rukyat. Artinya, kemungkinan perbedaan tanggal tetap ada.
Namun menariknya, di tengah perbedaan tersebut, publik tetap berusaha memahami argumen masing-masing. Perdebatan tidak lagi hanya soal siapa yang paling benar, tetapi juga tentang model otoritas dan model kebersamaan yang ingin dipilih.
KHGT adalah tawaran tentang satu malam bersama dalam skala global. Rukyat nasional adalah tawaran tentang satu keputusan bersama dalam skala negara. Keduanya sama-sama berbicara tentang cara mengelola waktu kolektif.
Jika memakai lensa antropologi, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar posisi bulan, melainkan cara umat membayangkan diri sendiri. Apakah kebersamaan dibangun dari ufuk lokal atau dari koordinat global.
Alaska sebagai JembatanMenyebut Alaska sering memicu reaksi karena terdengar jauh dan asing. Namun jarak geografis tidak selalu berarti jarak makna. Dalam sistem global, Alaska hanyalah titik awal matematis yang memungkinkan seluruh bumi masuk dalam satu tanggal yang sama.
Alaska bukan ujung dunia dan bukan pusat baru yang menggantikan Makkah. Alaska hanyalah bagian dari cara baru memahami rotasi bumi dan pergerakan bulan dalam skala global.
Pada akhirnya, Ramadan selalu lebih dari sekadar hitungan derajat dan elongasi. Ramadan adalah pengalaman kolektif yang dirasakan jutaan orang dalam waktu yang relatif bersamaan.
Apakah kita memilih mengikuti kalender global atau keputusan nasional, keduanya tetap berada dalam upaya yang sama, yaitu mengatur waktu agar ibadah dapat dijalani bersama.
Yang perlu diingat adalah bahwa umat Islam sejak dulu selalu merundingkan waktu bersama dengan cara yang berbeda-beda. Yang berubah hari ini bukan semangatnya, melainkan alat dan skalanya. Sisanya kembali pada kita, apakah perbedaan model itu dipandang sebagai ancaman atau sebagai satu lagi cara untuk berbagi waktu dalam dunia yang semakin saling terhubung.





