Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu (18/2/2026) pagi, tercatat melemah 18 poin atau 0,11 persen, menjadi Rp16.855 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.837 per dolar AS.
Lukman Leong analis mata uang mengatakan, pelemahan rupiah dipengaruhi pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah melemah seiring penguatan dolar AS akibat komentar hawkish dari Deputi Gubernur Federal Reserve, Michael Barr dan Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco, Mary Daly semalam,” ujar Lukman.
Menurut Daly, inflasi AS belum mencapai target, dan sektor pekerjaan masih mengalami fluktuasi sehingga The Fed perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Sementara itu, Barr menegaskan bahwa tingkat suku bunga kemungkinan besar akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Dilansir dari Antara, alat CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret 2026 naik menjadi 94 persen, dari sebelumnya sekitar 80 persen.
Di sisi domestik, investor juga mengantisipasi keputusan Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan Kamis (19/2). Lukman menilai BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga karena tekanan terhadap rupiah masih terasa.
Berdasarkan kondisi global dan domestik, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp16.800–Rp16.900 per dolar AS dalam beberapa hari ke depan. (ant/saf/ipg)




