EtIndonesia. Di sebuah taman besar, terdapat sebuah rumah kecil. Di dalam rumah itu tinggal seorang pria tunanetra. Dia menghabiskan seluruh waktunya untuk merawat taman tersebut. Meski matanya tidak dapat melihat, taman itu terawat dengan sangat baik.
Baik di musim semi, musim panas, maupun musim gugur, taman itu selalu dipenuhi lautan bunga.
Seorang pejalan kaki yang lewat merasa sangat kagum melihat keindahan taman itu, lalu bertanya: “Mengapa Anda melakukan semua ini? Bukankah Anda sama sekali tidak bisa melihat keindahan bunga-bunga ini?”
Pria tunanetra itu tersenyum dan berkata: “Aku bisa memberitahumu empat alasan.
Pertama, aku menyukai pekerjaan berkebun. Kedua, aku bisa meraba dan menyentuh bunga-bungaku. Ketiga, aku bisa mencium harum mereka. Dan alasan keempat… adalah kamu.”
“Aku?” tanya si pejalan kaki keheranan. “Padahal Anda bahkan tidak mengenal saya.”
“Benar, aku memang tidak mengenalmu,” jawab pria tunanetra itu. “Namun aku tahu, akan ada orang-orang sepertimu yang suatu hari lewat di tempat ini. Mereka akan merasa bahagia ketika melihat taman bungaku, dan aku pun mendapat kesempatan untuk berbincang denganmu di sini.”
Renungan
Orang yang lapang hati dan menerima takdir akan memanfaatkan apa yang dimilikinya sebaik mungkin, serta dengan senang hati berbagi dengan orang lain. Karena itu, jalan hidupnya akan terasa semakin mulus dan luas.
Sebaliknya, orang yang egois, enggan berbagi, dan hanya ingin memiliki, justru akan mendapati jalan hidupnya semakin sempit.(jhn/yn)





