Algoritma Ramadhan: Ujian Spiritual di Era Digital

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Algoritma TikTok pada dasarnya tidak memiliki kesadaran religius. Namun, ia sangat peka membaca momentum. Ketika Ramadhan tiba dan banjir konten religi meningkat—ceramah singkat, tilawah Al-Qur'an, potongan tausiyah, hingga kisah inspiratif—sistem dengan cepat mengenali lonjakan minat tersebut.

Model rekomendasi lalu menyesuaikan diri. Linimasa pun dipenuhi nuansa keagamaan. Namun, tanpa disadari, akan terselip juga konten yang menggoda perhatian kita, menjauh dari esensi ibadah.

Secara teknis, ini menunjukkan kecanggihan machine learning. Algoritma mendeteksi pola musiman, memproses sinyal interaksi, lalu mengoptimalkan distribusi konten yang dianggap relevan. Ramadhan menjadi variabel dalam sistem—bukan sebagai nilai spiritual, melainkan sebagai tren data. Tujuannya tetap sama: mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Ironi Digital: Konten Religi, Mekanisme Retensi

Di sinilah letak ironi digital. Konten yang ditampilkan mungkin bernuansa dakwah, nasihat, dan pengingat kebaikan. Namun, mekanisme yang bekerja di belakangnya tetaplah mekanisme retensi.

Jika sebelum sahur seseorang menggulir video tanpa henti, atau setelah tarawih terjebak dalam alur rekomendasi yang terus bersambung, sistem secara komputasional sedang bekerja optimal. Waktu tonton meningkat, interaksi bertambah, dan model semakin presisi.

Namun secara spiritual, bisa jadi fokus ibadah dan refleksi justru terkikis secara perlahan. Ramadhan yang semestinya menjadi ruang hening untuk memperdalam makna puasa berubah menjadi ruang konsumsi konten religius yang serba cepat. Dari satu video ke video lain, dari satu potongan ayat ke potongan ayat berikutnya, tanpa jeda untuk merenung.

Anatomi Algoritma: Bagaimana Sistem Bekerja

Dari sudut pandang ilmu komputasi, algoritma adalah prosedur logis untuk menyelesaikan masalah. Dalam konteks TikTok, masalah yang hendak diselesaikan sederhana, tetapi strategis: bagaimana menjaga pengguna tetap bertahan selama mungkin di dalam aplikasi. Untuk mencapai tujuan itu, digunakan pendekatan machine learning yang terus belajar dari perilaku pengguna.

Setiap interaksi—menonton hingga selesai, menggulir cepat, memberi tanda suka, berkomentar, atau membagikan video—diterjemahkan menjadi sinyal data. Sistem kemudian melakukan ekstraksi fitur: mengenali tema, suara, teks, hingga ekspresi visual dalam video.

Di saat yang sama, model membangun profil preferensi pengguna secara dinamis. Dari situ, mesin melakukan proses pemeringkatan, menyajikan konten yang secara probabilistik paling mungkin menarik perhatian.

Inilah jantung dari fitur "For You Page" (FYP), yang secara teknis bekerja melalui kombinasi collaborative filtering dan content-based filtering. Sistem tidak hanya mempelajari apa yang Anda sukai, tetapi juga membandingkan perilaku Anda dengan jutaan pengguna lain yang memiliki pola serupa. Hasilnya adalah pengalaman yang terasa sangat personal—seolah-olah aplikasi memahami isi kepala kita.

Arsitektur Kecanduan Digital

Dalam banyak kajian teknologi digital, TikTok bahkan disebut sebagai pelopor model algoritma distribusi yang sangat agresif dalam mengoptimalkan keterlibatan pengguna. Dengan siklus umpan balik yang sangat cepat (fast feedback loop), sistem mampu menyesuaikan rekomendasi hanya dalam beberapa menit penggunaan.

Video berdurasi pendek, format gulir tanpa henti, serta personalisasi ekstrem menciptakan pengalaman yang sulit dihentikan. Dari perspektif rekayasa perangkat lunak dan desain sistem, inilah arsitektur yang secara efektif memicu pola penggunaan berulang—yang oleh banyak pengamat disebut sebagai bentuk kecanduan digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kecanggihan teknologi bisa menjadi ujian baru bagi disiplin diri. Dalam ilmu informatika, sistem dirancang untuk mengurangi friksi—membuat pengalaman sehalus mungkin. Namun dalam konteks Ramadhan, justru diperlukan friksi: jeda, pembatasan, dan kesadaran untuk berhenti. Tanpa kontrol diri, algoritma yang cerdas dapat memperpanjang distraksi.

Bukan berarti platform digital harus dimusuhi. Banyak pula konten dakwah, kajian, dan pengingat kebaikan yang tersebar luas melalui TikTok.

Namun persoalannya bukan hanya jenis konten, melainkan juga durasi dan intensitas paparan. Ketika waktu yang seharusnya digunakan untuk tilawah, tadabbur, atau kebersamaan keluarga justru habis untuk konsumsi video tanpa henti, kita sedang menghadapi paradoks: teknologi yang mendekatkan informasi, tetapi berpotensi menjauhkan konsentrasi spiritual.

Ramadhan Momentum Literasi Digital

Karena itu, Ramadhan dapat menjadi momentum literasi digital. Kesadaran bahwa setiap video yang muncul adalah hasil kalkulasi matematis perlu diiringi dengan pengelolaan diri. Mengatur batas waktu layar, menonaktifkan notifikasi yang tidak perlu, atau secara sadar memilih konten yang bernilai dapat menjadi langkah sederhana, tetapi signifikan.

Pada akhirnya, algoritma hanyalah sistem optimasi. Ia bekerja sesuai tujuan yang diprogramkan. Tantangan sesungguhnya bukan pada kecerdasannya, melainkan pada bagaimana manusia mengelola interaksi dengannya. Di bulan Ramadhan, ujian bukan hanya pada perut yang lapar, melainkan juga pada jempol yang terus menggulir layar.

Jika pengendalian diri adalah inti puasa, mengendalikan screen time di tengah gempuran algoritma mungkin menjadi salah satu bentuk ibadah kontemporer yang tak kalah penting.

Ramadhan mengajarkan kita untuk berpuasa dari yang halal—makanan dan minuman. Mungkin, kini saatnya kita juga berpuasa dari yang mubah, tetapi berpotensi menjauhkan dari esensi spiritual: guliran tanpa henti di layar digital.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menag Siap Fasilitasi Ormas Islam Bahas Penyatuan Awal Ramadhan
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
Demo Desak Penertiban Tempat Hiburan Malam Ricuh, Pintu Kantor Bupati Asahan Nyaris Roboh
• 2 menit lalurctiplus.com
thumb
Bulan Tertib Trotoar: Satpol PP DKI Bakal Tertibkan PKL dan Parkir Liar di 19 Lokasi Ini
• 5 jam laludisway.id
thumb
Tak Ada Sweeping Selama Ramadan, Wamenag: Bentuk Penghormatan Saudara Kita yang Tidak Berpuasa
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Peringati Hari Kanker Sedunia, SWICC Ajak Perempuan Indonesia Peduli Deteksi Dini Kanker
• 10 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.