Haruskah Awal Ramadan Selalu Berbeda?

kumparan.com
8 jam lalu
Cover Berita

Dalam perjalanan pulang hari ini, saya dan keluarga asyik mendengarkan siaran YouTube live di mobil: Sidang Isbat penentuan 1 Ramadan 2026. Seperti tahun-tahun sebelumnya, obrolan kami pun berujung pada satu topik klasik, kemungkinan perbedaan awal puasa.

Ini adalah perbincangan yang hampir selalu muncul setiap akhir Rajab, lalu nanti akan hadir lagi menjelang Idul Fitri, dan bahkan kembali muncul menjelang Idul Adha. Sebuah siklus tahunan yang seolah menjadi bagian dari kalender sosial umat Islam di Indonesia.

Di tengah obrolan santai itu, muncul kegelisahan khas orang awam seperti saya. Saya bukan ahli falak, bukan pula ahli syariah. Saya tidak memiliki latar belakang pendidikan agama yang cukup untuk masuk ke detail rukyat atau hisab. Namun justru dari posisi itulah muncul pertanyaan sederhana: kenapa kita sering berbeda?

Boleh saja tanggal 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah tidak sama, tetapi mengapa perbedaan ini terus berulang? Apakah benar-benar tidak mungkin disatukan? Bukankah terasa lebih indah jika sahur pertama dilakukan bersama, lebih semarak jika takbir pertama menggema di malam yang sama, dan lebih mengesankan ketika hari raya dirasakan serentak oleh seluruh masyarakat?

Tulisan ini bukan usulan penyatuan kalender. Ini hanya rangkaian pertanyaan dari orang awam yang setiap tahun merindukan satu hal sederhana: rasa kebersamaan.

Tidak dipungkiri bahwa, secara agama, penentuan awal bulan memang sangatlah penting. Tidak berpuasa di bulan Ramadan = dosa, dan berpuasa pada hari Idul Fitri hukumnya haram. Artinya, penentuan tanggal bukan sekadar simbolik, melainkan menentukan sah tidaknya ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:

Pada masa Nabi, penentuan awal bulan dilakukan sangat sederhana. Tidak ada perhitungan rumit. Pernah seorang sahabat datang mengaku melihat hilal. Nabi ﷺ hanya memintanya bersaksi dan bersumpah bahwa ia benar melihat bulan. Setelah itu Nabi langsung memerintahkan kaum muslimin berpuasa keesokan harinya.

Ibnu Abbas meriwayatkan, seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ dan menyatakan ia melihat hilal. Setelah memastikan kesaksiannya, Nabi bersabda kepada Bilal agar mengumumkan kepada manusia untuk berpuasa esok hari. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Untuk Idul Fitri juga demikian. Dalam riwayat lain dua orang bersaksi telah melihat hilal Syawal, lalu Nabi memerintahkan kaum muslimin berbuka dan keesokan harinya melaksanakan salat Id. Satu kesaksian yang diterima otoritas saat itu langsung berlaku untuk seluruh masyarakat.

Melihat riwayat ini, saya menjadi berpikir bahwa, jangan-jangan sejak awal yang dijaga bukan kerumitan metode, melainkan kepastian bersama agar umat bisa beribadah serentak dan tenang.

Namun, hadits-hadits di atas pulalah yang kemudian menjadi akar dari perbedaan yang kita alami setiap tahun. Sebagian ulama memahami perintah “melihat hilal” secara literal, yaitu benar-benar melakukan pengamatan langsung terhadap munculnya bulan sabit pertama, yang dikenal sebagai rukyat.

Sebagian lain memahami bahwa tujuan hadits tersebut adalah memastikan masuknya bulan, dan pada masa sekarang posisi bulan sudah dapat dihitung dengan presisi melalui ilmu astronomi, yang dikenal dengan hisab.

Di titik ini saya mulai memahami bahwa perbedaan ini bukan sekadar soal teknik menghitung bulan, melainkan soal cara memahami teks agama di zaman sains. Yang satu berusaha setia pada praktik yang dilakukan Nabi, sementara yang lain berusaha setia pada tujuan hukum yang ingin dicapai Nabi. Keduanya berangkat dari ketaatan, bukan dari keinginan untuk berbeda.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya dalam benak saya: bukankah penentuan kapan Ramadan ini masuk dalam wilayah ijtihad? yaitu usaha para ulama menetapkan hukum ketika dalil tidak menjelaskan secara rinci. Bukankah dalam ijtihad Nabi sendiri memberi ruang bahwa apa pun hasilnya tetap dihargai? Nabi ﷺ bersabda:

Hadits ini membuat saya berpikir. Dalam perkara seperti ini, sepertinya pembahasannya bukan lagi soal siapa yang berdosa dan siapa yang benar mutlak, melainkan siapa yang lebih mendekati kebenaran menurut usaha keilmuannya. Jika demikian, ruangnya bukan benar atau salah secara hitam putih, tetapi perbedaan tingkat ketepatan ijtihad.

Saya menyadari bahwa Indonesia bukan negara dengan satu otoritas keagamaan tunggal. Kita tidak memiliki satu pusat keagamaan yang semua orang wajib mengikutinya. Kita hidup dalam masyarakat dengan banyak otoritas keilmuan yang sama-sama memiliki landasan dalil. Karena itu, perbedaan yang kita lihat setiap tahun bukan karena umat tidak kompak, melainkan konsekuensi dari keberagaman otoritas keilmuan.

Namun bagi masyarakat awam, awal Ramadan bukan hanya soal hukum ibadah. Ia adalah momen sosial. Sahur pertama, tarawih pertama, dan takbir pertama adalah pengalaman kolektif. Kita merindukan rasa bersama. Sementara bagi para ulama, yang dijaga adalah kepastian hukum ibadah. Mereka tidak sedang menjaga tanggal, melainkan menjaga keyakinan bahwa ibadah umat dilakukan pada waktu yang benar menurut pemahaman mereka terhadap dalil.

Di ujung perenungan saya, muncul satu pikiran yang mungkin terdengar sederhana: mungkinkah jika disatukan saja?

Toh kita juga hidup dalam satu negara dan telah sepakat memilih pemimpin. Pemerintah adalah pihak otoritatif yang kita akui bersama untuk mengatur urusan publik. Dalam banyak hal keagamaan kita sebenarnya sudah melakukannya. Dalam pernikahan misalnya, kita menggunakan penghulu dari Kementerian Agama, dan hampir seluruhnya mengikuti praktik mazhab Syafi’i. Kita menerimanya sebagai standar bersama agar kehidupan sosial berjalan tertib dan tidak membingungkan.

Saya meyakini bahwa mengikuti satu keputusan bersama dalam penetapan awal Ramadan bukan berarti mengalahkan keyakinan, melainkan memilih kepastian bersama demi kemaslahatan yang lebih luas.

Selain itu, agama sendiri memberi penekanan besar pada persatuan umat. Al-Quran mengingatkan, “Berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103). Nabi ﷺ juga bersabda, “Tangan Allah bersama jamaah.” (HR. Tirmidzi).

Saya kemudian berpikir, barangkali awal Ramadan dan hari raya bukan hanya soal penentuan tanggal ibadah pribadi, tetapi juga syiar kebersamaan umat. Ketika satu masyarakat sahur di malam yang sama, salat tarawih di malam yang sama, dan bertakbir di malam yang sama, ada pesan yang lebih besar dari sekadar kalender: umat merasa satu.

Karena itu penyatuan waktu ibadah bisa saja bukan sekadar administrasi, melainkan bagian dari menjaga persatuan, menghilangkan kebingungan masyarakat awam, dan menghadirkan ketenangan sosial. Perbedaan tetap dihormati sebagai hasil ijtihad, tetapi kebersamaan juga memiliki nilai yang dijaga agama.

Semakin saya mencoba memahami, semakin saya merasa bahwa jangan-jangan yang selama ini kita anggap persoalan prinsip ternyata bukan benar-benar persoalan prinsip. Karena bukankah yang prinsip dalam agama adalah kewajiban puasanya? Sedankan cara memastikan tanggalnya, sejak zaman Nabi, hanya masuk wilayah usaha manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

Hadits ini memberi isyarat bahwa yang dijaga adalah keberlangsungan ibadahnya, bukan metode teknisnya. Bahkan ketika hilal tidak terlihat, Nabi tidak mempersulit umat dengan kepastian astronomi yang mutlak, tetapi memberi jalan praktis agar umat tetap bisa beribadah dengan tenang.

Karena itu para ulama sejak dahulu mengenal kaidah fiqh: keputusan penguasa mengakhiri perbedaan pendapat (hukmul hakim yarfa’ul khilaf). Dalilnya juga jelas dalam Al-Quran:

Dalam urusan ibadah yang berdampak publik seperti awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, keputusan bersama memang diperlukan agar umat memiliki kepastian. Mengikuti keputusan bersama bukan berarti meninggalkan dalil, tetapi justru menjalankan dalil ketaatan pada otoritas.

Apalagi persoalan ini tidak menyentuh akidah dan tidak mengubah rukun Islam-nya. Orang tetap berpuasa Ramadan, tetap berhari raya, tetap menjalankan ibadah yang sama. Yang berubah hanya hari mulai secara administratif agar umat bisa melakukannya bersama.

Saya membayangkan, jika suatu saat seluruh umat memulai Ramadan pada hari yang sama, mungkin yang terasa bukan kemenangan salah satu metode. Yang terasa adalah kebersamaan. Sahur pertama serentak, tarawih pertama penuh, dan malam takbir yang benar-benar terasa sebagai satu perayaan bersama.

Barangkali selama ini kita terlalu fokus memastikan siapa yang paling tepat menentukan tanggal, sampai lupa bahwa Ramadan sendiri datang untuk mendekatkan hati manusia.

Mungkin kita memang tidak selalu harus sepakat dalam cara, tetapi alangkah indahnya jika kita bisa sepakat dalam waktu.

Sekadar pertanyaan dari orang awam. Semoga menjadi perhatian bagi para Imam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Demokrat Rayakan Imlek 2026, AHY: Partai Ini Rumah Besar untuk Semua
• 13 menit laluliputan6.com
thumb
Komitmen Berdayakan Ibu-Ibu, AO PNM Raih Apresiasi Wisata Religi
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Purbaya Bandingkan Rasio Utang RI dengan Singapura Cs: Kami Masih Aman
• 23 menit lalubisnis.com
thumb
Pasar Sensitif Harga Masih Besar, Hyundai Stargazer Lama Tetap Dijual
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Atap Dapur MBG Porak-poranda Usai Diterjang Angin Kencang di Semarang
• 38 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.