EtIIndonesia. Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT), Zhang Youxia, memicu gejolak politik di Beijing. Akademisi yang bermukim di Australia, Yuan Hongbing, mengungkapkan bahwa suasana di dalam sistem PKT tengah diliputi kegelisahan. Di kalangan pejabat Beijing, berbagai bisikan kritik terhadap pemimpin PKT Xi Jinping mulai bermunculan.
Dalam wawancara terbaru dengan media Kan Zhongguo, Yuan mengutip sumber dari dalam sistem PKT yang disebutnya sebagai “insan berhati nurani”. Ia mengatakan bahwa setelah penangkapan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, otoritas Xi kembali mengeluarkan peringatan keras agar “tidak sembarangan mengomentari pusat”. Namun, menurutnya, bisik-bisik di kalangan pejabat Beijing tampaknya sudah tidak lagi mengindahkan ancaman tersebut.
Belakangan ini, berbagai penilaian negatif terhadap Xi Jinping mulai tersebar luas di kalangan internal. Penilaian tersebut beragam, tetapi secara garis besar dapat dirangkum sebagai berikut:
Ada yang mengutip pernyataan pengusaha Ren Zhiqiang yang pernah menyebut Xi sebagai “badut yang meski telanjang tetap bersikeras ingin menjadi kaisar”. Kini, menurut mereka, Xi sendiri telah merobek sisa “daun penutup” terakhirnya, memperlihatkan karakter keras di luar namun rapuh di dalam: sangat galak terhadap orang dalam, tetapi hanya mampu berkoar-koar ketika menghadapi kekuatan eksternal. Perang di Selat Taiwan bahkan belum dimulai, namun para jenderal tinggi dalam militer justru sudah “dibersihkan”, yang dinilai justru melemahkan kekuatan militer PKT.
Ada pula yang menilai Xi menggunakan slogan “penyatuan Taiwan” yang menggema untuk membenarkan ambisinya mempertahankan kekuasaan layaknya seorang kaisar. Namun pada kenyataannya, ia dianggap tidak memiliki keberanian untuk benar-benar berkonfrontasi secara militer dengan Amerika Serikat di Taiwan. Disebut pula bahwa kepemilikan obligasi AS senilai dua triliun dolar oleh Tiongkok dianggap sebagai bentuk “isyarat kesetiaan” kepada Donald Trump.
Sebagian komentar lain menyatakan bahwa penangkapan Nicolás Maduro oleh Trump menunjukkan gaya “pahlawan Liangshan”, sementara Xi di panggung diplomasi justru dinilai menyerupai tokoh preman kecil dalam kisah klasik Shui Hu Zhuan. Retorika keras dari kelompok “serigala perang” yang mengancam akan “memenggal kepala Sanae Takaichi” atau “mengubah Jepang menjadi medan perang”, dinilai hanya sebatas kata-kata tanpa tindakan nyata. Sementara itu, Takaichi justru semakin populer dan mendapat dukungan luas dari masyarakat Jepang.
Ada juga yang berpendapat bahwa Xi sangat mencintai kekuasaan. Di dalam negeri ia bersikap keras, tetapi di luar negeri dinilai ragu-ragu dan tidak berani berhadapan langsung dengan Trump. Ia dianggap lebih berharap dapat melunakkan sikap Amerika Serikat dalam isu Taiwan melalui pendekatan persuasif—sebuah langkah yang dinilai seperti “bersekutu dengan harimau”, penuh risiko dan kebodohan.
Bisikan lain menyebut bahwa Xi telah membuat militer PKT menjadi bahan ejekan internasional, menyerupai citra militer India yang sering diparodikan saat parade. Latihan militer mengelilingi Taiwan dan retorika keras dinilai hanya menjadi “pertunjukan gratis”, bahkan menjadi bahan perbincangan santai warga Taiwan.
Yuan Hongbing menyatakan bahwa seluruh “komentar liar” tersebut memiliki satu benang merah: keyakinan bahwa Xi Jinping kemungkinan hanyalah seorang politisi yang tidak berani bertarung hingga akhir.
Ia menganalisis bahwa bisikan di kalangan pejabat Beijing merupakan “mikroskop” untuk mengamati kondisi psikologis internal PKT. Menurutnya, saat ini hati para pejabat sedang diliputi kegelisahan, layaknya permukaan laut sebelum badai. Persepsi bahwa “Xi hanyalah sosok yang keras di luar namun lemah di dalam” mulai berkembang.
Yuan menilai, pejabat PKT pada umumnya adalah kelompok yang tunduk di bawah tekanan kekuasaan. Namun, ia mengingatkan bahwa bahkan tikus pun memiliki taring. Jika mereka menyadari bahwa figur kuat yang mereka bayangkan ternyata hanya “harimau kertas”, maka kemungkinan terjadinya perlawanan balik secara kolektif akan meningkat—dan bila itu terjadi, responsnya bisa sangat keras dan berbahaya.
Baru-baru ini, anggota Komite Tetap dan Sekretaris Jenderal Partai Provinsi Hainan, Ni Qiang, dijatuhi sanksi “shuang kai” (dikeluarkan dari Partai dan dicopot dari jabatan). Beredar kabar bahwa salah satu tuduhannya adalah “mengomentari pusat secara tidak pantas”. Selain itu, mantan Sekretaris Partai Provinsi Jilin, Jing Junhai, juga dikabarkan ditangkap. Aktivis pro-demokrasi Sheng Xue mengungkapkan bahwa tuduhan terhadapnya pun serupa, yakni “mengomentari pusat”. (jhon)





