FAJAR, JAKARTA – Statistik menunjukkan Persebaya Surabaya tampil lebih ganas di kandang lawan dengan pertahanan baja. Melampaui catatan Persib Bandung dan Borneo FC musim ini. Coba cek faktanya!
Persebaya Surabaya kini menjelma menjadi kekuatan yang paling diwaspadai saat melakoni laga luar kandang di Super League 2025/2026. Berdasarkan data terbaru, skuad asuhan Bernardo Tavares berada di posisi ketiga dalam klasemen khusus laga tandang.
Faktanya memang demikian. Pencapaian Green Force bahkan melampaui efektivitas tim raksasa seperti Persib Bandung.
Keberhasilan ini bukan tanpa alasan. Dari total 10 lawatan ke markas lawan, Persebaya menunjukkan konsistensi luar biasa dengan mengemas 4 kemenangan, 5 hasil imbang, dan hanya sekali merasakan pahitnya kekalahan.
Persija Puncati Daftar
Persija Jakarta memuncaki daftar raja tandang dengan 21 poin. Mereka telah melakoni satu pertandingan lebih banyak dan memiliki catatan kebobolan yang lebih tinggi (10 gol).
Sementara itu, Borneo FC yang berada di urutan kedua dengan 19 poin, justru memiliki pertahanan yang cukup rapuh. Sudah kebobolan 13 kali.
Persebaya Surabaya (17 poin) secara mengejutkan unggul tipis atas Persib Bandung dalam klasemen khusus ini. Walaupun Maung Bandung mengoleksi jumlah poin yang sama, Persebaya berhak duduk di posisi yang lebih tinggi berkat selisih gol surplus 6 (+6). Unggul satu angka dari Persib yang memiliki selisih gol +5.
Di posisi buncit daftar lima besar, Malut United juga menguntit dengan 17 poin. Namun, dengan selisih gol hanya +3, mereka masih kalah efektif dibandingkan anak asuh Bernardo Tavares.
Pertahanan Solid
Salah satu faktor pembeda yang membuat Green Force begitu mematikan saat bertamu adalah kedisiplinan barisan pertahanan mereka. Hingga saat ini, gawang Persebaya hanya kebobolan 6 kali di laga tandang.
Sementara lini serang mereka tetap produktif dengan koleksi 12 gol. Selisih gol surplus 6 (+6) menjadi bukti nyata keseimbangan taktik yang diterapkan tim.
Meski mengoleksi poin yang identik dengan Persib Bandung dan Malut United, Persebaya unggul tipis dalam aspek selisih gol.
Menariknya, rekor pertahanan mereka jauh lebih baik ketimbang sang pemuncak, Persija Jakarta (kebobolan 10) dan Borneo FC (kebobolan 13). Ini menjadi alarm bahaya bagi lawan-lawan berikutnya.
Menggila di Luar, Lesu di GBT
Ada fenomena unik yang menyelimuti perjalanan Persebaya musim ini. Ketajaman mereka saat laga tandang justru berbanding terbalik dengan hasil di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Teranyar, para pendukung harus menelan kekecewaan setelah tim kebanggaannya takluk dari Bhayangkara FC di pekan ke-21.
Hasil negatif di kandang tersebut tidak meruntuhkan mentalitas Bonek. Sebaliknya, mereka justru mempopulerkan jargon “Mode Away” yang dianggap jauh lebih superior.
“Lek mode away ditinggal turu karo mangan soto menang dewe,” ujar seorang suporter. Ini menggambarkan betapa percayanya publik Surabaya bahwa tim kesayangannya justru tampil lebih tenang dan mematikan saat jauh dari tekanan rumah sendiri.
Misi Kebangkitan di Jepara
Kini, fokus beralih ke laga pekan ke-22. Bernardo Tavares telah menginstruksikan anak asuhnya untuk tidak terlarut dalam kesedihan pasca-kekalahan di GBT.
Persijap Jepara menjadi target berikutnya bagi Persebaya untuk membuktikan bahwa status “Raja Tandang” mereka bukanlah kebetulan.
“Kami harus segera melangkah maju, menghapus kekalahan kemarin dari ingatan, dan memfokuskan seluruh energi untuk memenangkan laga selanjutnya,” tegas Bernardo Tavares.
Pertandingan di Jepara nanti akan menjadi ujian apakah sang buaya tetap memiliki “taring” yang tajam untuk memangsa lawan di kandang mereka. (*)





