Wajah Kadek Artini tampak legam akibat terbakar panas matahari saat membersihkan dan mengangkut sampah di Pantai Kelan, Kabupaten Badung, Bali, Rabu (18/2).
Sebagai pegawai di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Badung, sudah kewajibannya mengangkut sampah di sejumlah pantai-pantai di bagian selatan Bali.
Tak hanya itu, perempuan berusia 40 tahun ini juga bertanggung jawab atas kebersihan di Jalan di sekitar Jalan Raya Kampus Universitas Udayana.
"Sudah 6 tahun menjalani rutinitas sebagai tukang sapu di Kabupaten Badung," katanya.
Tugas Artini cukup berat. Dia biasanya mulai menyapu di jalan raya sejak pukul 05.00 sampai dengan pukul 07.00 WITA. Selanjutnya, membersihkan sampah di pantai-pantai Bali bagian selatan.
Artini kembali menyapu di jalan raya yang sama mulai pukul 11.00 WITA hingga pukul 13.00 WITA.
Artini juga kadang terpaksa memutar otak sebagai seorang ibu yang membesarkan dua anak dan merawat orang tuanya yang sudah tua di rumah.
Dia sesekali mulai kerja lebih awal, yaitu mulai menyapu jalanan sekitar pukul 03.30 WITA. Dia lalu pulang ke rumah mempersiapkan anak-anak sekolah sekaligus membuat sarapan untuk suami, anak dan kedua orangtua.
Pada pukul 06.30 WITA, dia berangkat ke pantai untuk bertugas membersihkan sampah kiriman sampai pukul 09.00 WITA. Dia lalu pulang ke rumah mempersiapkan makan siang sekaligus membersihkan rumah.
Pada pukul 11.00 WITA, dia kembali menyapu jalanan. "Kalau enggak gitu, bagaimana bisa mengerjakan tugas-tugas di rumah," sambungnya.
Artini menjalani rutinitas ini dengan semangat. Namun, hari-hari terasa lebih berat ketika musim hujan tiba. Biasanya sampah-sampah menumpuk baik di jalan raya dan di pantai akibat hujan dan angin kencang.
Artini mengaku kewalahan dan sempat bingung agar jalanan dan pantai bebas dari sampah.
"Kalau musim hujan pasti kewalahan ya karena sampah kiriman di pantai banyak, sampah paling banyak itu pas Januari dan Februari. Kita sampe enggak bisa membersihkan. Kita sampe bingung yang mana dulu dibersihkan saling tebalnya," katanya.
Belakangan, Artini bisa sedikit lega. Berbagai jenis komunitas, relawan, instansi pemerintahan dan anak-anak sekolah mulai aktif berpartisipasi membersihkan sampah-sampah di pantai.
Kerjaan terasa lebih ringan dan pantai-pantai di bagian selatan lebih cepat bersih. Pemandangan juga semakin indah.
Artini berharap masyarakat terus bergotong royong membersihkan sampah-sampah terutama di bagian pantai. Menurutnya, jumlah petugas kebersihan tak sebanding dengan volume sampah kiriman yang terdampar ke pantai.
"Sangat penting kita menjaga pantai ini supaya bersih dan itu bukan tugas petugas kebersihan saja, semua masyarakat juga seharusnya ikut turun membersihkan,"
"Kalau sudah musim hujan tidak harus petugas kebersihan saja yang bersihkan. Jangan andalkan petugas DLHK saja karena jumlah petugas terbatas. Sedangkan pantai di Kuta Selatan ini panjang," katanya.
Pantauan kumparan, Pantai Kelan kini tampak bersih dan pemandangannya tampak indah akibat petugas dan sejumlah relawan bergotong royong mengangkut sampah.
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa sebelumnya mengatakan, jumlah sampah terkumpul di sepanjang pantai Kabupaten Badung mencapai 25-30 ton per hari. Hal ini disebabkan meningkatnya sampah kiriman di tengah curah hujan dan angin musim Barat.
Adi Arnawa mengaku telah menyiapkan sejumlah strategi agar pantai-pantai tak dipenuhi sampah. Yakni, menyediakan sekitar 71 armada mengangkut dan 300 petugas di sepanjang pantai.
Membuat jadwal petugas berjaga di sepanjang pantai sehingga setiap kali sampah datang petugas langsung mengangkut. Mengimbau warga memilah sampah berbasis sumber dan tak membuang sampah sembarangan atau ke sungai-sungai.





