Industri Film Indonesia Bersiap Masuki Fase Baru

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Industri film Indonesia tengah bersiap memasuki fase baru penataan arah dan strategi. Di tengah pertumbuhan jumlah produksi serta ekspansi platform distribusi, kebutuhan akan tata kelola yang solid dan peta jalan yang terintegrasi dinilai semakin mendesak. Momentum itulah yang kini digerakkan oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI) melalui rangkaian Road to Kongres IV Tahun 2026.

Sebagai langkah awal, BPI menggelar Pra-Kongres I yang menjadi fondasi menuju Kongres IV. Forum ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, melainkan ruang konsolidasi nasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan perfilman, baik secara luring maupun daring. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!

Baca Juga :
Horor Supranatural Berbalut Thriller, Film Rambut Sewu: Satu Langkah Getih Segera Masuk Tahap Produksi
Teaser Trailer dan Poster Warung Pocong Dirilis, Tiga Komika Siap Buka Warung di Bioskop!

Berbeda dengan periode sebelumnya, menuju Kongres IV kali ini dirancang lebih bertahap melalui dua pra-kongres. Skema tersebut dimaksudkan agar pembahasan substansi berjalan lebih matang, partisipatif, dan menyentuh kebutuhan riil industri.

Dua agenda utama menjadi fokus diskusi, yakni penyempurnaan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai pijakan tata kelola organisasi, serta percepatan penyusunan Rencana Induk Perfilman Nasional (RIPN) yang diproyeksikan sebagai peta jalan strategis industri film Indonesia ke depan.

Plt. Ketua Umum BPI, Celerina Judisari, SE., M.M, menekankan pentingnya fondasi kelembagaan yang kuat agar industri tidak berjalan tanpa arah.

“Industri tidak bisa berjalan tanpa kompas. Melalui AD/ART yang kuat, kita mempertegas legitimasi organisasi. Melalui RIPN, kita menyatukan arah kebijakan agar tidak lagi terfragmentasi atau berjalan parsial. Industri film harus bergerak dalam satu visi yang terstruktur dan berkelanjutan. Dalam hal ini, integrasi data menjadi faktor krusial. Tanpa data yang terukur dan terintegrasi, kebijakan akan bersifat asumtif. Dengan data yang kuat, kita dapat merumuskan strategi berbasis fakta, mengukur pertumbuhan industri secara objektif, serta memastikan dukungan pemerintah dan investasi swasta tepat sasaran,” ujar Celerina Judisari dalam keterangannya, dikutip Selasa 17 Februari 2026. 

Direktur Film, Musik, dan Seni pada Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan di Kementerian Kebudayaan RI, Syaifullah Agam, SE., M.Ec., Ph.D., menilai penyusunan RIPN sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan lembaga perfilman.

Baca Juga :
Sinopsis dan Jadwal Tayang Film Jangan Seperti Bapak: Aksi Intens, Luka Keluarga dan Plot Twist Tak Terduga
Dilarang Ditebang dan Dipercaya Angker, Kisah Pohon Waru Jadi Film Horor
Berani Beda, Denny Siregar Jadikan Anak Down Syndrome Pemeran Utama di Film Tanah Runtuh

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menag Ungkap Hilal Masih Minus, Awal Puasa Ramadan 1447 H Berpotensi 19 Februari 2026?
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Trump Kembali Ancam Iran: Ada Konsekuensi jika Kesepakatan Nuklir Tak Tercapai
• 8 jam lalukatadata.co.id
thumb
Polres Tanah Karo Bekuk 5 Tersangka Narkoba Dari Dua Lokasi
• 10 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Survei Indikator: Kepuasan Warga ke Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Capai 95,5 Persen
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Dave Laksono Nilai Kehadiran Indonesia di Board of Peace Perkuat Peran sebagai Pelopor Perdamaian Dunia
• 12 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.