Rindu Bekerja Lembur, Perajin Berharap Gentengnisasi Prabowo Segera Berdampak

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kesempatan untuk kembali bekerja lembur menjadi harapan sederhana namun bermakna bagi Widodo (45), salah seorang perajin genteng tradisional di Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Di tengah debu tanah liat dan panasnya tungku pembakaran, ia dan para perajin lain menantikan bangkitnya kembali industri yang selama puluhan tahun menjadi tumpuan hidup mereka.

Program Gentengisasi yang diinisiasi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dipandang sebagai angin segar bagi para pekerja kecil seperti Widodo, yang telah menggantungkan hidupnya pada industri genteng tradisional.

Ia bercerita, upah hariannya sebagai perajin genteng hanya berkisar Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu. Jika ada tambahan waktu kerja, penghasilannya bisa mencapai Rp 100 ribu per hari, jumlah yang sangat berarti untuk kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah, sudah bisa kecukupan semua. Kadang bisa lembur. Kadang kalau pakai lembur, ya, hampir seratusan per hari,” ujarnya dikutip Selasa (17/2).

Namun, situasi tidak selalu berpihak. Saat permintaan menurun dan produksi macet, ia hanya bisa bekerja 3–4 hari dalam seminggu. Pendapatannya pun ikut terpangkas, sementara kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

Kondisi itulah yang membuatnya menaruh harapan besar pada program Gentengisasi. Ia mendukung penuh program tersebut, dengan harapan roda produksi kembali berputar normal agar bisa bekerja penuh, bahkan lembur secara rutin seperti masa-masa sebelumnya.

“Saya mendukung program-programnya Pak Prabowo. Memang saya sudah setuju banget sama Pak Prabowo niku (program Gentengisasi),” tegasnya.

Dukungan tersebut bukan tanpa alasan. Bagi Widodo, lembur bukan sekadar menambah jam kerja, melainkan peluang untuk menambah penghasilan demi kestabilan ekonomi keluarga dan masa depan anak-anaknya. Karena itu, ia pun menyelipkan doa untuk pemimpin yang menurutnya membawa harapan baru bagi para perajin.

“Terima kasih, Pak Prabowo, semoga sehat selalu, diparingi panjang umur,” ucapnya mendoakan.

Harapan serupa juga disampaikan Sugianto, perajin genteng lain di Polokarto yang telah sekitar 30 tahun bekerja di industri yang sama. Dengan penghasilan harian sekitar Rp 80 ribu, ia merasakan langsung dampak ketika produksi tidak berjalan optimal.

Apabila industri genteng kembali bergairah melalui program Gentengisasi, ia meyakini masyarakat kecil seperti dirinya dapat terus bekerja secara berkelanjutan dan menghidupi keluarga dengan lebih layak.

“Terima kasih Pak Prabowo. Semoga rakyat kecil semakin diperhatikan dan kehidupan kami bisa lebih baik,” katanya penuh harap.

Perajin Berharap Gentengnisasi Inisiasi Prabowo Buat Usahanya Bangkit

Maryono (52 tahun), warga Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo, bertahan menjaga warisan keluarga yang telah dirintis sejak zaman ayahnya. Usaha genting tanah liat yang ia kelola bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga napas hidup bagi belasan keluarga.

“Meneruskan usaha Ayah, ini turun temurun. Rata-rata (produksi) per harinya 800-900, empat pekerja,” ujar Maryono, Selasa, (17/2)

Jika seluruh mesin dioperasikan, kapasitas produksi bisa meningkat signifikan. Maryono memiliki tiga mesin cetak. Dalam kondisi penuh, usaha kecil itu mampu menyerap hingga 15 tenaga kerja.

“Kalau proses pembikinan berhubung cuma 5 orang, jadi satu mesin. Kita punya 3 mesin. Jadi, 15 tenaga,” katanya.

Maryono mengenang masa ketika genting tanah liat menjadi pilihan utama masyarakat. Pesanan datang silih berganti, produksi stabil, dan tak banyak hambatan.

“Kalau dulu enak Pak, prosesnya. Kan sekarang itu pesaingnya itu genting dari seng. Itu kita habis, banyak kan pada gulung tikar, Pak. Soalnya pada beralih ke seng,” tuturnya.

Namun, kondisi kini jauh berbeda. Persaingan dengan atap seng membuat banyak perajin gulung tikar. Ditambah lagi persoalan distribusi solar yang kian rumit.

“Terus kendalanya, kalau dulu enggak ada kendala soalnya kita beli solar, minyak, itu paling penak dari dulu, Pak. Kalau sekarang susah cari solar,” keluhnya.

Ketika tak mendapatkan solar bersubsidi, Maryono terpaksa membeli dari tengkulak dengan harga lebih mahal, mencapai Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per liter. Biaya produksi pun membengkak.

Meski demikian, bahan baku tanah liat masih relatif mudah diperoleh dari sawah dan kampung sekitar. Dalam sebulan, usaha ini mampu memproduksi sekitar 30 ribu genteng, dengan upah pekerja rata-rata Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per hari, sudah termasuk makan.

Di tengah tekanan tersebut, Maryono mengaku mendapat harapan baru setelah mendengar rencana program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

“Jadi dari program Pak prabowo itu kita dapat kayak angin segar. Kalau bisa lanjutkan, Pak. Dengar dari Youtube itu, Pak. Dari Presiden, 4 orang saya mengalami, 5 orang Presiden dari Pak Harto (Soeharto) sampai sekarang. Yang memikirkan genteng cuma Pak Bowo (Prabowo),” ujarnya.

Ia menilai perhatian terhadap industri genting lokal penting agar perajin kecil tidak semakin terpinggirkan. Menurutnya, genting tanah liat juga lebih kuat dibanding seng ketika diterpa angin kencang.

“Suka banget. Jolos, mantap, Pak. Lanjutkan. Kita masyarakat itu diperhatikan banget kalau ada gitu. Enggak kayak dulu itu enggak ada. Kita kayak terabaikan. Ya, usaha-usaha genting lokal itu bisa naik lagi, Pak. Enggak kayak kali ini kan sudah pada yang belum kita bisa kerja lagi. Enggak nganggur, gitu,” katanya penuh harap.

Maryono memiliki dua anak. Satu hampir kuliah, satu lagi duduk di kelas tiga SMP. Ia merasakan perbedaan kondisi ekonomi dibanding masa lalu. Baginya, keberlangsungan usaha bukan hanya soal keuntungan pribadi. Ada tanggung jawab sosial di dalamnya.

“Kayak saya itu ibaratnya bisa menghidupkan 15 kepala keluarga, Pak. Tenaga (kerja) saya kan sudah nikah semua, punya anak semua,” katanya.

Di akhir perbincangan, Maryono menyampaikan doa sederhana untuk pemimpin negeri. Menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas rencana program Gentengisasi.

“Untuk Pak Presiden Prabowo yang terhormat, yang kita cintai, terima kasih, Pak, atas program Gentengisasi. Semoga masyarakat Soekarjo lebih maju, lebih makmur dari yang dulu. Sekarang kalau ada program itu lebih makmur. Jaya, jaya, Pak Prabowo, jaya! Sehat selalu ya, Pak Presiden. Kita dari rakyat itu cuma mendoakan agar Bapak sehat selalu. Sehat-sehat selalu ya, Pak Presiden,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Terkini Guncang Sukabumi Jabar, Cek Kekuatan Magnitudonya!
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Real Madrid Ancam Mogok Akibat Rasisme
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Perputaran Ekonomi di Jakarta Selama Libur Imlek Capai Rp9 Triliun
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jangan Makan 2 Bahan Ini saat Sahur dan Berbuka! dr Zaidul Akbar Sebut Biang Kerok Masalah Kesehatan
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Nyaman Tinggal Bareng Ruben Onsu, Kata Betrand Peto saat Serumah dengan Sarwendah: Lebih Banyak Sendiri
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.