Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan kegiatan pembelajaran di wilayah terdampak bencana Sumatera telah kembali berjalan sepenuhnya.
Meski demikian, proses belajar mengajar masih menghadapi sejumlah keterbatasan di lapangan.
“Kami sampaikan secara umum bahwa kegiatan pembelajaran di tiga provinsi terdampak bencana sudah berlangsung 100%, hanya saja memang pembelajaran belum berlangsung secara ideal,” jelas Mu’ti dalam rapat koordinasi pemulihan pascabencana Sumatera dengan pimpinan DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2).
“Sebagian masih belajar di tenda atau di kelas darurat dan sebagian menumpang di sekolah lain,” lanjutnya.
Mu’ti merinci, sekolah yang sudah kembali melaksanakan pembelajaran di sekolah asal tercatat sebanyak 3.001 sekolah di Aceh, 626 sekolah di Sumatera Barat, dan 1.104 sekolah di Sumatera Utara.
“Kemudian yang masih belajar di tenda atau di kelas darurat, 52 di Aceh, 21 di Sumatera Barat, dan 26 di Sumatera Utara. Kemudian yang masih menumpang di sekolah lain itu 20 di Aceh, 2 di Sumatera Barat, dan kemudian untuk total keseluruhan ada 3.073 yang di Aceh, yang kemudian 649 di Sumatera Barat dan 1.180 di Sumatera Utara,” jelas Mu’ti.
Ia menambahkan, jumlah sekolah yang masih melaksanakan pembelajaran di tenda atau kelas darurat kini tersisa 99 sekolah.
Sebagian sekolah telah kembali ke gedung asal setelah proses pembersihan selesai, sementara sisanya merupakan sekolah dengan ruang kelas yang sudah tidak dapat digunakan.
Selain itu, pembelajaran menumpang masih berlangsung di 22 sekolah, khususnya bagi sekolah yang hanyut dan memerlukan relokasi.
“Kemudian pembelajaran menumpang saat ini tersisa 22 sekolah khususnya untuk sekolah-sekolah yang hanyut dan perlu relokasi,” jelas Mu’ti.
“Proses pembelajaran belum sepenuhnya ideal, sebagian masih menggunakan shift pagi atau siang dan belum tersedia meja kursi secara keseluruhan, sebagian masih belajar di lantai,” lanjutnya.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menerapkan kurikulum darurat untuk memastikan kegiatan belajar tetap berjalan.
“Kemudian kurikulum pembelajaran kami menggunakan kurikulum darurat. Mohon maaf untuk Tapanuli Tengah kami masih koordinasi dengan dinas pendidikan setempat sehingga belum ada perkembangan yang terbaru,” ungkapnya.
Di sisi lain, Kemendikdasmen juga menyalurkan berbagai bantuan pendidikan di wilayah terdampak bencana. Bantuan khusus bagi guru terdampak disalurkan sebesar Rp 220,5 miliar kepada 36.074 guru dan tenaga kependidikan (GTK), dengan besaran Rp 2 juta per GTK per bulan selama tiga bulan.
Selain itu, tunjangan guru di wilayah bencana disalurkan tanpa persyaratan beban mengajar dengan total anggaran Rp 508,9 miliar.
“Bantuan operasional satuan pendidikan sudah tersalur ke 29.000 satuan pendidikan di kabupaten terdampak dengan nilai Rp 1,98 triliun,” kata Mu’ti.
Sementara itu, berdasarkan hasil verifikasi dan validasi, jumlah sekolah terdampak di Provinsi Aceh tercatat 3.073 sekolah, dengan 2.516 sekolah telah diverifikasi.
Dari jumlah tersebut, 885 sekolah mengalami rusak ringan, 1.382 rusak sedang, 188 rusak berat, dan 63 sekolah harus direlokasi.
Di Provinsi Sumatera Barat, sekolah terdampak berjumlah 649, dengan 500 sekolah telah diverifikasi. Kerusakan meliputi 217 rusak ringan, 255 rusak sedang, 13 rusak berat, dan 15 sekolah harus direlokasi.
Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara tercatat 1.130 sekolah terdampak, dengan 1.087 sekolah telah diverifikasi, terdiri dari 594 rusak ringan, 524 rusak sedang, 84 rusak berat, dan 5 sekolah perlu direlokasi.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495102/original/047852100_1770355108-IMG_1094.jpeg)


