FAJAR, JAKARTA – Otoritas Premier League resmi memberlakukan Ramadan Breaks 2026. Ada jeda laga agar Mohamed Salah dan pemain Muslim lainnya bisa berbuka puasa.
Aturan inklusif ini diterapkan kembali pada musim 2026. Tujuannya untuk mendukung performa serta ibadah para pemain bintang di Inggris. Langkah ini mempertegas komitmen liga terhadap keberagaman tradisi pemain.
Kabar ini melegakan para pesepak bola Muslim yang merumput di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Mulai tahun 2026, Premier League bersama English Football League (EFL) secara resmi menghadirkan kembali Ramadan Breaks.
Aturan ini memberikan kesempatan bagi pemain untuk membatalkan puasa di tengah pertandingan yang sedang berlangsung.
Sistem yang diterapkan sangat mendukung jalannya pertandingan secara sportif. Klub yang diperkuat pemain Muslim cukup berkoordinasi dengan wasit sebelum laga dimulai.
Wasit kemudian akan mencari momen jeda alami. Seperti saat terjadi tendangan gawang atau lemparan ke dalam. Ini untuk memberikan waktu singkat bagi pemain mengonsumsi air atau gel energi.
Bintang Dunia yang Terbantu
Bulan suci Ramadhan di Britania Raya pada tahun 2026 dijadwalkan berlangsung sejak Selasa, 17 Februari hingga Rabu, 18 Maret. Dengan waktu terbenam matahari sekitar pukul 17.30 waktu setempat, jadwal ini bersinggungan dengan banyak laga krusial.
Beberapa nama besar dipastikan akan merasakan manfaat langsung dari kebijakan ini, di antaranya:
Mohamed Salah (Liverpool), William Saliba (Arsenal), Amad Diallo (Manchester United), Djed Spence (Tottenham Hotspur), El Hadji Malick Diouf (West Ham United), dan Dango Ouattara (Bournemouth).
Laga-laga panas seperti Derby London antara Tottenham vs Arsenal menjadi salah satu pertandingan yang diprediksi akan mengalami jeda singkat demi menghormati waktu berbuka para pemain tersebut.
Sejarah dan Signifikansi Medis
Langkah inklusif ini sebenarnya sudah pernah diuji coba pada 2021 dalam pertandingan Leicester City kontra Crystal Palace, melibatkan Wesley Fofana dan Cheikhou Kouyate.
Tren positif ini berlanjut pada 2024 saat duo Everton, Abdoulaye Doucoure dan Idrissa Gueye, melakukan hal serupa saat melawan Newcastle United.
Selain aspek religi, pakar olahraga menilai Ramadan Breaks sangat penting dari sisi kesehatan. Jeda singkat ini efektif mencegah dehidrasi akut dan membantu pemain menjaga fokus serta intensitas permainan di level tertinggi.
Bagi pelatih, momen ini juga menjadi celah strategis untuk memberikan instruksi singkat atau melakukan penyesuaian rotasi pemain.
Sepak Bola Inggris yang Inklusif
Dengan diberlakukannya kembali aturan ini, otoritas liga Inggris ingin menunjukkan bahwa tradisi agama dan kompetisi profesional bisa berjalan berdampingan secara harmonis.
Suporter tetap disuguhi tontonan berkualitas, sementara para pemain tetap teguh menjalankan kewajiban ibadah mereka tanpa hambatan fisik yang berarti. (*)




