Lebih dari dua bulan setelah bencana hidrometeorologi menghantam wilayah Sumatera bagian utara, jalur Sumatera Utara-Aceh sudah dapat dilalui. Namun, longsor masih mengancam di sejumlah titik. Selama 27 jam, kami melewati jalan lintas tengah penghubung kedua provinsi itu.
Menggunakan mobil Toyota Kijang Innova, Kompas bersama tim SPX Express, jasa pengiriman ekspedisi, meninggalkan Kota Medan, Sumut, Kamis (12/2/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Kami bergerak menuju Blang Kejeren, pusat kota di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh.
Di Google Maps, jarak ke daerah itu sekitar 314 kilometer dengan waktu tempuh 10 jam. Jalur ini kerap disebut lintas tengah Sumut-Aceh. Sekitar pukul 11.00 WIB, kami sampai di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumut. Di sana, kami sempatkan mencicipi kopi bakar dan roti bakar.
Disebut kopi dan roti bakar karena kedua menu itu benar-benar diletakkan di samping kayu bakar yang membara. Warga dan pengunjung menikmati kopi hitam itu sambil mengobrol di jalur pedestrian. Dari pagi hingga malam, kedai itu bisa menyajikan hingga 200 gelas kopi bakar.
Setelah menikmati kopi bakar, kami melanjutkan perjalanan. Kemegahan Gunung Sinabung dengan ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut hingga ibu-ibu yang mengenakan ulos, kain tenun Batak, menjadi pemandangan khas. Truk pengangkut hasil bumi juga hilir mudik.
Jalan berlubang di sejumlah titik, seperti di daerah Kabanjahe dan Munte turut mewarnai perjalanan kami. Tidak hanya itu, sedikitnya tujuh stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) yang kami lalui di Karo juga menunjukkan pengumuman: biosolar dalam perjalanan.
Seorang petugas di SPBU 13.221.119 Desa Singgamanik, Kecamatan Munte, menyebut, biosolar yang datang pada pukul 05.00 sudah habis pukul 08.00 WIB. Biosolar selanjutnya akan datang dari Medan pada sore atau malam. Sejumlah truk pun memutuskan untuk menunggu biosolar.
Pengendara lainnya memilih mengisi kendaraan dengan solar nonsubsidi yang harganya hampir dua kali lipat dari biosolar. Tingginya permintaan terhadap biosolar, kata petugas, terjadi semenjak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera bagian utara, akhir November 2025.
”Sebelum bencana, rasanya enggak sesulit ini mencari biosolar,” ucap Fadhil (27), sopir kendaraan yang kami tumpangi. Warga Banda Aceh ini beberapa kali melintasi jalur lintas tengah Sumut-Aceh. Pascabencana, ujarnya, biosolar di beberapa SPBU lebih cepat habis.
Dampak banjir dan longsor semakin terasa ketika kami memasuki Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh. Selain mobil bak pengangkut buah sawit segar yang telah dipanen, truk merah dengan 12 roda yang membawa material juga hilir mudik. Alat berat pun tampak di beberapa titik jalan.
Alat berat itu membersihkan material hingga membuat jembatan sementara yang hancur dihantam banjir dan longsor. Salah satunya ialah jembatan di Desa Kati Maju, Kecamatan Ketambe, yang dilahap luapan Sungai Alas. Ruas jalan Kutacane-Blang Kejeren ini sebelumnya terputus.
Baru awal Januari lalu, kata Fadhil, jalur ini dapat dilalui kendaraan roda empat. Setidaknya terdapat lima titik ruas jalan yang terdampak banjir. Aliran sungai itu telah memakan jalan raya. Panjang jalan yang putus bervariasi, dari sekitar 100 meter hingga lebih dari 500 meter.
Di area itu, tampak batu sebesar mobil dan batang pohon dengan diameter hingga lebih dari 1 meter. Tebing jalan yang tingginya hingga 5 meter juga ambrol dihantam luapan sungai. Meskipun jalan utama terputus, kendaraan masih bisa melintas melalui jalur sementara.
Pengendara harus mengurangi laju kecepatannya menjadi sekitar 5 kilometer per jam. Kendaraan pun bergantian melalui jembatan sementara yang dibangun di beberapa titik. Di Desa Rumah Bundar, Ketambe, ruas jalan utama terputus sehingga kendaraan dialihkan ke jalan alternatif.
Jejak dahsyatnya banjir dan longsor tidak hanya terekam di jalan, tetapi juga dalam ingatan warga. Rasidah (42), warga Desa Kati Maju, misalnya, hanya bisa menatap sisa puing rumahnya yang hanyut diterjang banjir. Air sungai yang dulunya jauh kini telah merampas rumah keluarganya.
Sekarang sudah hampir satu bulan tidak ada lagi bantuan yang masuk. Kalau tempat tinggal, kemarin memang sudah ada yang datang meninjau lokasi. Katanya mau dibuatkan lagi. Tapi, tidak boleh lagi di sana (tempat semula).
”Ada tiga rumah dan satu masjid yang hanyut,” ucapnya kepada Kompas. Beruntung, ia dan suami beserta tiga anak mereka selamat dari bencana itu. Namun, mereka kehilangan tempat tinggal seluas 5 meter x 15 meter. Di tanah yang sebelumnya berdiri rumah itu telah berganti dengan pasir dan bebatuan.
Kini, ia dan keluarga tinggal di poskedes yang dijadikan posko bencana banjir. Di sana terdapat dua keluarga yang tinggal. Ia juga hanya menggunakan kasur bantuan untuk istirahat. Kamar mandinya pun kurang memadai. ”Jadi, kami masih ke sungai kalau mau buang air,” ujar Rasidah.
Ia juga mengeluhkan bantuan yang tidak selalu datang. ”Sekarang sudah hampir satu bulan tidak ada lagi bantuan yang masuk. Kalau tempat tinggal, kemarin memang sudah ada yang datang meninjau lokasi. Katanya mau dibuatkan lagi. Tapi, tidak boleh lagi di sana (tempat semula),” ungkapnya.
Tidak hanya ruas jalan yang terdampak banjir, beberapa titik juga terancam longsor. Bahkan, material longsor telah menutup sebagian besar badan jalan. Pengendara pun harus menurunkan laju kecepatan dan bergantian melintas. Sejumlah alat berat disiagakan di area itu untuk mengantisipasi longsor.
Sekitar pukul 19.00 WIB, kami memasuki daerah Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues. Pemandangan batang kayu, bebatuan sisa banjir, serta langit biru kini hilang ditelan gelap. Tidak ada penerangan jalan umum, apalagi lampu dari permukiman. Hanya lampu kendaraan yang memandu.
Suasana kian mencekam ketika kami melintasi daerah terdampak bencana. Di sisi kanannya ada bekas longsor dari tebing, sedangkan jalanan di bagian kiri ambrol dihantam sungai. Percakapan kami berlima di dalam mobil sontak berakhir. Semuanya diam, mungkin memilih berdoa dalam hati.
Apalagi, bahu jalan sebelah kiri telah ambrol. Kendaraan kami tidak lagi berjalan di aspal, tetapi di atas tanah dan batu. Suara air mengalir yang sebelumnya sayup-sayup kini kian terdengar. Suara dari mana itu? ”Itu suara air sungai. Sungainya sudah tabrak badan jalan ini,” ujar Fadhil.
Beruntung, malam itu cuaca cukup cerah. Jika hujan turun, potensi longsor semakin besar. ”Saya lebih suka lewat jalan ini kalau malam. Kalau pagi, siang, atau sore, tebing atau jurang itu kelihatan. Kalau malam, kan, enggak. Jadi, bisa fokus ke jalan,” tutur Fadhil mencoba menenangkan kami.
Kami akhirnya sampai di Blang Kejeren sekitar pukul 22.00 WIB. Artinya, kami berkendara sekitar 12 jam dari Medan, termasuk waktu istirahat.
Keesokan harinya, Jumat (13/2/2026), kami melanjutkan perjalanan meliput pengantaran paket dari Blang Kejeren ke Kampung Agusen, wilayah terdampak bencana. Di kampung itu, seluruh bangunan SMP Negeri 1 Atap Agusen hanyut oleh luapan sungai. SD Negeri 12 Blang Kejeren juga tidak berfungsi.
Sekitar 100 siswa SD dan 30 siswa SMP akhirnya belajar di balai desa setempat. Sejumlah material longsor juga masih menumpuk di sisi jalan. Pengendara harus ekstra waspada saat melintasi jalur yang cukup curam ini. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh pukul 11.00 WIB.
Pemandangan kaki Gunung Leuser di Gayo Lues yang hijau mewarnai perjalanan kami. Udaranya sejuk. Namun, sejumlah titik masih tampak bekas longsor. Dari kejauhan, beberapa bukit juga tampak berwarna kecoklatan karena longsor. Begitu pun dengan ruas jalan yang terdampak longsor.
Perjalanan kami terasa menegangkan dari Takengon ke Bireuen. Bagaimana tidak, langit sudah gelap saat itu dan beberapa ruas jalan ambrol. Lagi-lagi, hanya lampu kendaraan yang menjadi kompas. Jika sebelumnya Fadhil bisa fokus mengendarai mobil meski bermodal lampu, kali ini berbeda.
Hujan menyapu tanah, membuat jalanan berlumpur. Pengendara jadi ekstra hati-hati saat melintasi tebing. ”Penderitaan” semakin lengkap ketika kabut tebal menyapa kami. Fadhil mengatur wiper di kaca depan mobil agar lebih cepat menyingkirkan hujan dan kabut. Lampu jauh dinyalakan.
Di sepanjang perjalanan, sinyal telepon timbul tenggelam. Jaringan internet sempat hilang. Selain fokus melihat jalan di depan, kami juga berdoa dan bercerita tentang pengalaman liputan. Harapannya, obrolan itu dapat mencairkan suasana dan menjaga Fadhil tidak mengantuk.
Beruntung, hujan dan kabut itu tidak berlangsung lama. Perjalanan kami lancar, meski harus mengantre melewati jalur alternatif dan jembatan bailey berwarna merah-putih.
Kami akhirnya sampai di Banda Aceh pukul 02.00 WIB setelah lebih dari 15 jam perjalanan. Jika digabungkan dengan perjalanan dari Medan ke Blang Kejeren, kami total berkendara sekitar 27 jam! Namun, perjalanan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan proses pemulihan Sumatera pascabencana.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F15%2Fb87456a2657cf0adda9a302cf19b83dd-WhatsApp_Image_2026_02_15_at_16.32.50.jpeg)
/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F08%2F17%2F25562cdf-ec3b-46f1-9970-12dbe8a3be21_jpg.jpg)
