Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan bersama Dinas Kesehatan Kota Palembang dan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya meresmikan Program Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue di Kota Palembang, Rabu, sebagai upaya memperkuat perlindungan masyarakat dari penyakit tersebut.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam keterangan resmi Takeda pada Rabu menyatakan dengue merupakan tantangan kesehatan jangka panjang.
“Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus kita hadapi secara berkelanjutan dan terencana,” katanya. Ia menambahkan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Trisnawarman menyebut pada 2025 tercatat 4.437 kasus dengue dengan 22 kematian, dengan kasus tertinggi di Palembang.
“Sepanjang tahun, masyarakat Palembang menghadapi ancaman dengue,” ujarnya. Ia menambahkan anak usia sekolah menjadi kelompok rentan sehingga vaksinasi dan pemantauan aktif pada anak usia 6–10 tahun dinilai penting.
Ketua pelaksana program Ariesti Karmila mengatakan pemantauan aktif di Palembang menyasar 7.500 anak di 60 sekolah dasar pada wilayah kerja 10 puskesmas, dengan sekitar 5.000 anak menerima vaksinasi.
“Metode inovatif, termasuk vaksinasi, hadir sebagai pelengkap untuk memperkuat upaya-upaya tersebut sehingga pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh,” katanya.
Baca juga: RI finalisasi RAN 2026–2029 kejar nol kematian dengue pada 2030
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Mgs. Irsan Saleh menyebut inisiatif tersebut sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue akan memperkuat pendidikan berbasis riset, menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan,” ujarnya.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan Universitas Indonesia dan Universitas Lambung Mangkurat.
Penanggung jawab nasional kegiatan Sri Rezeki Hadinegoro menjelaskan pemantauan berlangsung selama tiga tahun di tiga kota, yakni Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin.
“Pemantauan aktif ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan terhadap dengue melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis pemantauan kesehatan jangka panjang,” katanya.
Perwakilan Takeda Indonesia Arif Abdillah menyatakan pihaknya mendukung kolaborasi lintas sektor berbasis sains.
“Tantangan dengue tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor yang konsisten,” ujarnya.
Ia berharap hasil pemantauan dapat menjadi dasar penguatan strategi pencegahan dengue ke depan.
Baca juga: Pemkot uji coba vaksin DBD pada 3 sekolah dasar di Banjarmasin
Baca juga: Hadapi lonjakan dengue, Indonesia dorong penguatan kerja sama ASEAN
Baca juga: Takeda dan Good Doctor berkolaborasi perluas layanan vaksinasi DBD
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru dalam keterangan resmi Takeda pada Rabu menyatakan dengue merupakan tantangan kesehatan jangka panjang.
“Dengue bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan kesehatan yang harus kita hadapi secara berkelanjutan dan terencana,” katanya. Ia menambahkan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada 2030.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Trisnawarman menyebut pada 2025 tercatat 4.437 kasus dengue dengan 22 kematian, dengan kasus tertinggi di Palembang.
“Sepanjang tahun, masyarakat Palembang menghadapi ancaman dengue,” ujarnya. Ia menambahkan anak usia sekolah menjadi kelompok rentan sehingga vaksinasi dan pemantauan aktif pada anak usia 6–10 tahun dinilai penting.
Ketua pelaksana program Ariesti Karmila mengatakan pemantauan aktif di Palembang menyasar 7.500 anak di 60 sekolah dasar pada wilayah kerja 10 puskesmas, dengan sekitar 5.000 anak menerima vaksinasi.
“Metode inovatif, termasuk vaksinasi, hadir sebagai pelengkap untuk memperkuat upaya-upaya tersebut sehingga pencegahan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh,” katanya.
Baca juga: RI finalisasi RAN 2026–2029 kejar nol kematian dengue pada 2030
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Mgs. Irsan Saleh menyebut inisiatif tersebut sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue akan memperkuat pendidikan berbasis riset, menghasilkan bukti ilmiah yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan kebijakan kesehatan,” ujarnya.
Program ini juga melibatkan kolaborasi dengan Universitas Indonesia dan Universitas Lambung Mangkurat.
Penanggung jawab nasional kegiatan Sri Rezeki Hadinegoro menjelaskan pemantauan berlangsung selama tiga tahun di tiga kota, yakni Jakarta, Palembang, dan Banjarmasin.
“Pemantauan aktif ini bertujuan memperkuat upaya perlindungan terhadap dengue melalui pendekatan yang lebih menyeluruh dan berbasis pemantauan kesehatan jangka panjang,” katanya.
Perwakilan Takeda Indonesia Arif Abdillah menyatakan pihaknya mendukung kolaborasi lintas sektor berbasis sains.
“Tantangan dengue tidak dapat diselesaikan melalui satu pendekatan saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor yang konsisten,” ujarnya.
Ia berharap hasil pemantauan dapat menjadi dasar penguatan strategi pencegahan dengue ke depan.
Baca juga: Pemkot uji coba vaksin DBD pada 3 sekolah dasar di Banjarmasin
Baca juga: Hadapi lonjakan dengue, Indonesia dorong penguatan kerja sama ASEAN
Baca juga: Takeda dan Good Doctor berkolaborasi perluas layanan vaksinasi DBD





