Pasar Keuangan Menjemput Ramadhan: Optimisme Domestik Dibayangi Tekanan Global

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan Indonesia setelah kini dihadapkan pada kombinasi sentimen domestik yang relatif konstruktif dan tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Pergerakan pasar saham diwaranai optimisme permintaan domestik karena program pemerintah dan pola konsumsi Ramadhan. Sementara itu, ketahanan pasar obligasi dipengaruhi disiplin fiskal, penguatan penerimaan negara, serta komunikasi kebijakan yang jelas.

Pada pekan lalu, investor asing mencatatkan arus keluar sebesar Rp 8,2 triliun dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 2,6 triliun dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Meski demikian, investor asing masih mencatatkan arus masuk bersih sebesar Rp 3,1 triliun di pasar saham, mencerminkan selera risiko yang selektif.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menilai, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini, 18-20 Februari, cenderung bergerak konsolidatif. Pada Rabu (18/2/2026), IHSG dibuka di posisi 8.235 dan bergerak di zona hijau sepanjang sesi pertama pada rentang 8.227–8.302.

Sentimen utama datang dari rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang secara umum memberikan katalis positif, khususnya bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga.

”IHSG berpotensi bergerak sideways setelah belum mampu menembus area atas 8.300. Selama level tersebut belum terlampaui, pergerakan cenderung landai dengan volatilitas terbatas,” ujar Hari.

Pada pekan sebelulmnya, indeks menguat 3,49 persen, menjadi sinyal awal pemulihan setelah isu penyesuaian indeks oleh lembaga penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meski demikian, sejak awal tahun IHSG masih menghadapi tekanan hingga minus 4 persen.

Sentimen eksternal masih membayangi, antara lain perubahan proyeksi oleh lembaga pemeringkat efek global Moody's terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk bank-bank nasional utama. Langkah ini sempat memicu kekhawatiran investor, meski belum berujung pada penurunan peringkat kredit.

Di sisi lain, FTSE Russell menunda perubahan komposisi indeks terkait Indonesia sambil menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan bursa dan akan meninjau kembali pada Mei mendatang. Penundaan tersebut ditegaskan tidak terkait dengan perubahan klasifikasi negara.

IHSG, pekan lalu, mampu menguat berkat kenaikan harga saham-saham konglomerasi seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Namun, rotasi investor terlihat jelas. Tekanan jual asing cukup besar terjadi pada Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan arus keluar mencapai Rp 3,8 triliun dalam sepekan terakhir dan membuat saham tersebut terkoreksi 6,19 persen.

Secara agregat, IHSG mencatatkan aliran keluar dana asing (outflow) sekitar Rp 6,1 triliun, mencerminkan sikap selektif investor terhadap saham berkapitalisasi besar.

Baca JugaSusul MSCI, FTSE Russell Tunda Tinjauan Indeks Saham Indonesia

Dari global, pergerakan bursa Amerika Serikat juga turut memengaruhi sentimen. Indeks S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih akan dipengaruhi rilis data ekonomi, termasuk estimasi pertumbuhan PDB serta data belanja dan pendapatan konsumen. Musim laporan keuangan kuartalan yang masih berlangsung berpotensi memicu rotasi sektoral di pasar global.

Menjelang akhir pekan, perhatian investor domestik tertuju pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada 19 Februari. Stabilitas suku bunga diperkirakan menjadi sentimen kunci, terutama bagi sektor perbankan dan properti, seiring ekspektasi terjaganya likuiditas dan permintaan kredit.

Hari menekankan pentingnya selektivitas. Sektor komoditas seperti batubara, nikel, dan emas dinilai masih menarik karena ditopang permintaan global dan harga yang relatif stabil. ”Strategi akumulasi bertahap di area support (batas bawah) dan disiplin manajemen risiko menjadi kunci menjaga portofolio di tengah fase konsolidasi pasar,” katanya.

Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai, di pasar saham, investor asing juga masih selektif dan cenderung menjual saham-saham kapitalisasi besar karena pasar membutuhkan katalis kebijakan yang jelas. Naiknya IHSG di pekan lalu pun dinilai belum solid karena masih mengalami tekanan sejak awal tahun.

Mereka juga menyoroti lembaga penyedia indeks S&P Dow Jones yang tetap melanjutkan rebalancing atau evaluasi saham-saham Indonesia dalam indeks mereka per Maret 2026. Meski sedang memantau isu transparansi kepemilikan saham, S&P menegaskan bahwa proses rebalancing akan berjalan sesuai metodologi dan prosedur standar.

”Ini penting di tengah meningkatnya pengawasan dari penyedia indeks global lain terhadap konsentrasi kepemilikan saham dan potensi overstatement perhitungan free float," kata mereka dalam catatannya.

Mereka melanjutkan, sikap S&P menjadi sinyal bahwa Indonesia masih berada dalam kerangka evaluasi normal.

BRI Danareksa Sekuritas menilai, selain kebijakan reformasi pasar modal yang mulai dijalankan, bagi pelaku pasar strategi kebijakan pemerintah lewat stimulus fiskal juga penting.

Baca JugaEkonomi Ditargetkan Tumbuh 5,4-5,6 Persen Tahun Ini, Apakah Memungkinkan?

Dari sisi kebijakan, pemerintah menegaskan optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi 2026. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan 5,4 persen sebagai skenario dasar, dengan potensi meningkat hingga 6 persen. Strategi kebijakan difokuskan pada stimulus fiskal, percepatan investasi, hilirisasi industri, serta penguatan program ekonomi domestik.

Ini meliputi percepatan eksekusi investasi, ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan koperasi Merah Putih, hilirisasi industri, serta penyaluran modal melalui Danantara.

Optimisme pertumbuhan ekonomi dari kebijakan tersebut berpotensi menopang sektor berbasis permintaan domestik seperti consumer staples, ritel, dan perbankan. Kemudian, untuk jangka menengah bisa mendukung kinerja usaha konstruksi, material bangunan, dan sektor perumahan.

Sementara itu, pasar obligasi dan surat utang pemerintah masih menghadapi tantangan yang lebih struktural. BRI Danareksa Sekuritas menilai likuiditas menjadi penentu utama arah pasar obligasi ke depan.

Kebijakan Bank Sentral AS, Federal Reserve, yang cenderung menahan suku bunga lebih lama mempersempit ruang pelonggaran moneter domestik. Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (INDOGB) bertahan di kisaran 6,4 persen, sementara nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp 16.800 per dollar AS.

Risiko likuiditas di pasar saham dan obligasi diperkirakan meningkat pada Maret, terutama jika skema penyangga likuiditas pemerintah tidak diperpanjang di tengah kebutuhan dana menjelang Lebaran dan musim pembagian dividen.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa juga menyoroti bahwa perhatian investor global kini bergeser pada kredibilitas fiskal Indonesia. Utang pemerintah yang mencapai Rp 9.637,9 triliun pada akhir 2025 mendorong rasio utang terhadap PDB kembali melampaui 40 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Meski masih jauh di bawah batas undang-undang, peningkatan kebutuhan pembiayaan untuk infrastruktur dan pembangunan dinilai mempersempit ruang fiskal.

"Ke depan, menjaga kredibilitas fiskal akan bergantung pada penguatan mobilisasi penerimaan, disiplin dalam eksekusi belanja, serta komunikasi kebijakan yang jelas untuk meyakinkan pasar bahwa risiko defisit tetap terkendali," kata Jessica dalam laporannya pagi ini.

Hal itu, menurutnya, penting sebagai respons pemerintah dalam menjawab kekhawatiran investor. Kekhawatiran tersebut sejauh ini terlihat dari kondisi pasar surat utang pemerintah atau SBN, di mana yield atau imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun Indonesia melanjutkan tren penurunannya pada sepekan lalu minus 7 basis poin (bps) menjadi 6,40 persen pada Jumat (13/2), sementara rupiah melemah 0,3 persen sejak awal Februari menjadi Rp 16.839.

Pelemahan ini sejalan dengan kenaikan Credit Default Swap (CDS) tenor 5 tahun Indonesia ke level 81 bps, tertinggi sejak Okt-2025, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas risiko defisit fiskal dan kredibilitas kebijakan di mata institusi internasional.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST) 10 tahun naik tipis ke 4,12 persen, sehingga selisih imbal hasil INDOGB–UST sedikit menyempit menjadi 227 bps. Hal ini bertepatan dengan penguatan indeks dolar AS, DXY, di atas level 97, yang turut mendorong depresiasi rupiah, di tengah resiliensi mata uang regional.

"Dalam konteks ini, pasar obligasi Indonesia tetap menarik, dan kami masih menyukai obligasi tenor pendek hingga menengah di tengah level imbal hasil yang relatif terjaga dan fundamental yang tetap suportif," kata Jessica.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemarin, Gibran apresiasi umat Konghucu hingga peran RI di BoP
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Pramono Anung Tegas Larang Sweeping Rumah Makan Selama Ramadan di Jakarta
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
BGN Lebak Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan Selama Ramadhan
• 14 jam lalumatamata.com
thumb
10 Saham Top Gainer Perdagangan Rabu 18 Februari 2026, Simak Daftar Emitennya
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
KPF: Eskalasi Demo Agustus Dipicu Kematian Affan Kurniawan yang Tak Segera Ditangani Polisi
• 1 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.