EtIndonesia. Perundingan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak kedua pada Selasa, 17 Februari 2026, di Jenewa, Swiss, dengan suasana yang diliputi kombinasi kemajuan diplomatik moderat dan ketegangan militer regional yang meningkat.
Diskusi yang dimediasi oleh Oman ini dilakukan dalam format tidak langsung: delegasi AS dan Iran berada di ruangan terpisah dan saling bertukar pesan melalui mediator. Perundingan menggali isu-isu utama soal program nuklir Iran, dengan fokus pada cara menyelesaikan sengketa yang telah berlangsung bertahun-tahun sejak kedua negara berselisih terkait kemampuan nuklir Teheran.
Kemajuan Diplomasi: “Prinsip Panduan” Disepakati
Menurut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, pertemuan putaran kedua berjalan konstruktif dan kedua pihak mencapai kesepahaman atas sejumlah prinsip dasar, yang diharapkan menjadi landasan menuju negosiasi lebih rinci di masa depan. Meskipun begitu, Araghchi menekankan bahwa ini bukanlah kesepakatan akhir dan masih banyak rincian penting yang harus dibahas.
Diplomat AS yang terlibat — termasuk Utusan Khusus Steve Witkoff dan penasihat Presiden Jared Kushner — mengakui adanya kemajuan dalam pembicaraan, meski mencatat bahwa banyak isu kunci masih belum terselesaikan.
Latar Belakang Konflik dan Isu Perundingan
Negosiasi ini merupakan bagian dari dialog yang telah berjalan sejak awal 2025 untuk membahas kemungkinan kesepakatan nuklir baru setelah kesepakatan lama (JCPOA) runtuh dan hubungan Washington–Teheran memburuk. Konflik semakin tajam setelah serangkaian serangan dan eskalasi militer di kawasan yang juga disertai tekanan ekonomi dan sanksi.
Di Balik Meja Perundingan: Ancaman Militer dan Latihan di Selat Hormuz
Penutupan Sementara Selat Hormuz (17 Februari 2026)
Pada hari yang sama ketika pembicaraan intensif berlangsung di Jenewa, Iran mengumumkan penutupan sementara Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis terpenting di dunia. Penutupan ini berlangsung selama beberapa jam sebagai bagian dari latihan militer tembakan langsung oleh Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC).
Selat Hormuz menjadi fokus ketegangan karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati kawasan ini setiap harinya. Kebijakan penutupan ini menandai salah satu tindakan militer paling signifikan Iran di tengah pembicaraan diplomatik yang sedang berlangsung.
Latihan Gabungan dan Tanggapan Regional
Selain penutupan Selat Hormuz, Iran melanjutkan latihan angkatan laut dan uji coba senjata, dengan fokus pada kesiapan militer menghadapi potensi ancaman. Rusia dan Tiongkok juga terlibat dalam latihan gabungan di kawasan tersebut — sebuah langkah yang dipandang sebagai pamer kekuatan bersama dan respons terhadap penempatan pasukan AS di Teluk Persia.
Pidato Khamenei: Retorika Penegasan Kekuasaan
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menggunakan pidato publik untuk menegaskan sikap tegasnya terhadap tekanan AS. Dia menyatakan bahwa bahkan militer terkuat pun bisa dihancurkan, dan memberi sinyal bahwa senjata yang mampu menenggelamkan kapal perang musuh lebih berbahaya daripada kapal itu sendiri. Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan dimulainya putaran kedua perundingan nuklir di Jenewa.
Reaksi Pasar Global dan Dampak Ekonomi
Berita tentang perundingan diplomatik dan eskalasi militer di Teluk Persia berdampak langsung pada pasar energi global. Harga minyak dunia sedikit menurun lantaran sentimen pasar membaca adanya potensi meredanya risiko konflik besar pasca-kesepakatan prinsip dasar.
Kesimpulan: Diplomasi vs. Ketegangan
Dalam pertemuan pada 17 Februari 2026, dua kekuatan besar — AS dan Iran — menunjukkan bahwa jalan menuju solusi damai masih panjang. Kesepakatan prinsip panduan adalah langkah awal yang positif, tetapi:
- Isu inti tentang program nuklir Iran dan sanksi AS belum selesai.
- Latihan militer dan penutupan Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko konflik tetap tinggi.
- Keterlibatan pihak ketiga (Rusia, Tiongkok) memperumit dinamika geopolitik regional.
Perundingan akan terus berlanjut dalam putaran berikutnya, dengan harapan dunia internasional agar konflik tidak berkembang menjadi bentrokan militer yang lebih luas.





