Roma: Menteri Luar Negeri Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, menyatakan bahwa Takhta Suci tidak akan berpartisipasi dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian.
Takhta Suci Vatikan menilai BoP sifat khusus lembaga tersebut yang dinilai berbeda dari negara lain.
Pernyataan itu disampaikan Menlu Parolin kepada wartawan di sela pertemuan bilateral dengan pemerintah Italia di Roma, yang berlangsung di Palazzo Borromeo, kantor Kedutaan Besar Italia untuk Takhta Suci, bertepatan dengan peringatan penandatanganan Pakta Lateran. Pertemuan tersebut juga dihadiri Presiden Italia Sergio Mattarella.
Baca Juga :
Trump Umumkan Negara BoP Berkomitmen Rp84 Triliun untuk Rekonstruksi Gaza“Ada beberapa poin yang membuat kami agak ragu. Terdapat sejumlah aspek kritis yang masih memerlukan penjelasan,” kata Parolin, dikutip dari Vatican News, Rabu, 18 Februari 2026.
“Yang terpenting adalah adanya upaya untuk memberikan jawaban. Namun bagi kami, ada sejumlah persoalan penting yang perlu diselesaikan,” ujar Parolin
Ia juga menegaskan bahwa dalam penanganan krisis internasional, lembaga yang seharusnya memegang peran utama adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Salah satu kekhawatiran adalah bahwa di tingkat internasional, yang seharusnya mengelola situasi krisis adalah PBB. Ini merupakan salah satu poin yang terus kami tekankan,” jelas Parolin.
Parolin turut menyampaikan keprihatinan mengenai perang di Ukraina, menjelang peringatan empat tahun pecahnya konflik, yang juga diwarnai serangan berat terhadap infrastruktur energi di Kyiv serta kota-kota lain.
“Mengenai Ukraina, terdapat pesimisme yang cukup besar. Di kedua pihak, kami tidak melihat adanya kemajuan nyata menuju perdamaian, dan sungguh tragis bahwa setelah empat tahun, kita masih berada pada titik ini,” ujar Parolin.
“Kita tentu berharap dialog-dialog ini dapat menghasilkan kemajuan, namun menurut saya tidak banyak harapan maupun ekspektasi,” lanjut Parolin.
Dalam kesempatan yang sama, Parolin juga menyinggung hubungan positif antara Vatikan dan pemerintah di Roma.
Ia menuturkan bahwa dalam pertemuan bilateral tersebut, “terutama disampaikan ungkapan terima kasih” dari Takhta Suci atas perhatian pemerintah terhadap berbagai isu penting bagi Gereja.
Menurutnya, isu tersebut mencakup “masalah sosial seperti kebijakan untuk keluarga, pendidikan, disabilitas, serta persoalan lembaga pemasyarakatan.”
Ia menambahkan bahwa terdapat kelompok kerja yang menangani bidang-bidang tersebut, khususnya yang berkaitan dengan Konferensi Waligereja Italia, dan bahwa telah ada kemajuan dalam pembahasannya.




