FAJAR, JAKARTA – Alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas, panen hujatan. Dia menjadi sasaran kemarahan warganet setelah videonya viral.
Dalam video tersebut, ia merayakan status warga negara Inggris sang anak sambil menyebut enggan anaknya memiliki paspor Indonesia yang dianggap “lemah”.
Jagat media sosial, khususnya platform X (dahulu Twitter), heboh atas unggahan video milik Dwi Sasetyaningtyas atau yang akrab disapa Tyas. Video yang telah ditonton jutaan kali tersebut memperlihatkan momen emosional Tyas saat menerima dokumen resmi dari Home Office Inggris.
“Ini paket bukan sembarang paket, isinya adalah sebuah dokumen penting yang mengubah nasib dan masa depan anak-anakku,” ujar Tyas dalam rekaman tersebut.
Kebahagiaannya membuncah saat mengonfirmasi bahwa anak keduanya telah resmi diterima sebagai warga negara Inggris atau British Citizen.
Namun, yang memicu api kontroversi adalah pernyataannya mengenai kewarganegaraan Indonesia.
Tyas yang saat ini masih berstatus WNI menyatakan sengaja mengusahakan paspor asing untuk buah hatinya.
“Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” tuturnya.
Sentimen Negatif Netizen
Pernyataan Tyas mengenai “paspor kuat” langsung memicu reaksi keras. Warganet dengan cepat menelusuri latar belakang pendidikan Tyas yang ternyata merupakan alumni beasiswa bergengsi negara, LPDP.
Hal ini memicu narasi bahwa Tyas telah mendapatkan manfaat besar dari uang pajak rakyat namun justru menunjukkan sikap yang dianggap merendahkan kedaulatan paspor Indonesia.
Berbagai komentar pedas pun membanjiri lini masa:
“Ibarat kita kasih minum orang yang haus, lalu diludahin setelah dia kenyang,” tulis salah satu akun di X.
“Lintah pajak! Sekolah pakai LPDP tapi bangga anaknya jadi WNA dan meremehkan paspor sendiri,” timpal netizen lainnya dengan nada geram.
“Di balik privilese LPDP yang kamu terima, ada guru-guru bergaji kecil. Malu-maluin kalau akhirnya cuma ngejelekin negara sendiri,” komentar yang lain.
Klarifikasi Tyas
Menghadapi gelombang kritik yang kian masif, Tyas akhirnya memberikan penjelasan melalui kolom komentar. Ia menegaskan bahwa seluruh kewajiban administratif dan pengabdian sebagai penerima beasiswa LPDP telah ia selesaikan.
“Aku alumni LPDP lulusan 2017, sudah kembali ke Indonesia selama lima tahun dan berkontribusi lewat bisnis saya hingga hari ini,” jelas pendiri bisnis produk ramah lingkungan Sustaination tersebut.
Ia juga meminta publik untuk memisahkan antara status beasiswa masa lalunya dengan hak kewarganegaraan sang anak yang lahir di Inggris.
Menurutnya, status tersebut merupakan hak lahir sang anak dan tidak ada sangkut pautnya dengan dana pendidikan yang pernah ia terima dari negara. (*)





