JAKARTA, KOMPAS.com - Deretan rumah berdinding rapat dan saling menempel menjadi pemandangan umum di Jalan Ukir, Kelurahan Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat.
Di lokasi ini pula, seorang penyandang disabilitas bernama Masad (46) tinggal dan menjalani hari-harinya.
Rumah Masad tampak sederhana yang jauh dari kata layak huni.
Baca juga: 3 KK di Kapuk Dapat Bantuan Bedah Rumah dari Hasil Iuran Anggota Satpol PP
Dari luar, bangunan tampak rendah dan berhimpitan dengan rumah lain.
Saat pintu dibuka, ruang di dalamnya memanjang seperti lorong dengan seluas sekitar 13,53 meter persegi.
Dinding rumah itu terbuat dari hebel abu-abu, tanpa diplester atau dicat.
Sebagian dinding lainnya dilapisi kayu yang kusam, mengelupas, dan lembap.
Atapnya pun rendah dan tampak rapuh. Pencahayaan di dalam minim, hanya mengandalkan lampu kecil.
Pencahayaan di dalam minim, hanya mengandalkan lampu kecil yang sengaja dinyalakan selama 24 jam dan sedikit cahaya matahari yang masuk dari celah atap tanpa genting
Kondisi tersebut membuat ruangan terasa gelap dan pengap.
Sementara lantai rumah tampak kasar dan tidak rata, sebagian hanya diplester semen.
Baca juga: Berpura-pura Pesan Nasi Uduk, Pria di Bekasi Gondol Uang Dagangan Rp700.000
Bahkan, ruangan memanjang itu juga harus dibagi dengan toilet yang dipasang pompa air.
Masad bercerita, rumah sekat miliknya merupakan peninggalan orangtuanya sejak 1982 dan belum pernah direnovasi.
Sebenarnya, total luas bangunan sekitar 33,83 meter persegi.