EtIndonesia. Sebuah mobil sedan mewah keluar dari sebuah resor, namun mogok di jalan tanah pedesaan.
Pemilik mobil yang mengenakan setelan jas bermerek dengan gelisah berteriak kepada orang-orang yang berkumpul di sekitarnya:“Siapa di antara kalian yang mau membantu saya merangkak ke bawah mobil untuk mengencangkan bautnya?”
Ternyata, selang bahan bakar mobilnya bermasalah sehingga bensin bocor dan mengalir ke tanah. Sementara itu, jarak ke pom bensin terdekat masih ratusan kilometer. Tak heran dia panik seperti semut di atas wajan panas.
Di sampingnya, seorang wanita yang berdandan mencolok berkata: “Di bawah hadiah besar, pasti ada orang yang berani!”
Pria itu pun segera mengeluarkan selembar uang bernilai besar dan berkata: “Siapa pun yang membantu saya mengencangkannya, uang ini jadi miliknya!”
Di tengah kerumunan, seorang pemuda sempat bergerak, namun segera ditarik oleh temannya sambil berbisik: “Jangan percaya omongan orang kaya!”
Pada saat itu, seorang anak kecil maju dan berkata: “Aku saja.”
Pekerjaannya sangat sederhana. Dengan arahan dari pria itu, kurang dari satu menit anak tersebut sudah menyelesaikannya. Setelah keluar dari bawah mobil, dia menatap pria itu dengan penuh harap.
Pria itu hendak menyerahkan uang besar tadi, tetapi wanita di sampingnya langsung membentak: “Kamu benar-benar mau memberinya uang sebanyak itu? Beri saja uang receh!”
Pria itu mengambil uang receh dari tangan wanita tersebut dan menyerahkannya kepada si anak. Anak itu menggelengkan kepala.
Mendengar suara ejekan dari orang-orang di sekeliling, pria itu menambahkan sedikit uang. Namun anak itu tetap menggeleng.
Pria itu mulai kesal dan berkata: “Kamu merasa kurang? Kalau masih merasa kurang, aku tidak akan memberi apa-apa!”
“Tidak, aku tidak merasa kurang. Guruku mengajarkan bahwa menolong orang tidak boleh mengharapkan imbalan,” jawab si anak.
Pria itu merasa heran dan bertanya: “Kalau begitu, kenapa kamu belum pergi?”
Anak itu menjawab dengan polos: “Aku sedang menunggu Anda mengucapkan terima kasih.”
Hikmah Cerita
Kekuasaan dan kekayaan sering kali membuat seseorang tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh, serta menutupi kejernihan hati yang semula murni.
Anak-anak terlihat begitu indah karena kepolosan dan ketulusan mereka. Dunia dalam pikiran mereka belum tercemar oleh sikap materialistis dan perhitungan seperti dunia orang dewasa.
Jika seorang pejabat tidak memegang kepercayaan, kebijakan tidak akan bisa dijalankan. Jika manusia tidak memegang kejujuran, moralitas akan runtuh. Janji tidak mengenal usia—baik tua maupun muda. Seseorang tidak boleh mengubah sikap terhadap janjinya hanya karena objek janji itu berubah, terlebih lagi janji-janji kecil.
Jika janji kecil saja mudah dilanggar, bagaimana mungkin janji besar bisa membuat orang lain merasa aman dan percaya?
Saat membaca kisah ini, penulis juga teringat pada masalah yang sering dihadapi para orang tua, yaitu ingkar janji kepada anak. Misalnya, telah berjanji mengajak anak berlibur di akhir pekan, tetapi kemudian membatalkannya karena urusan pekerjaan mendadak.
Mungkin bagi sebagian orangtua, pekerjaan terasa lebih penting. Namun tanpa disadari, tindakan itu telah mengurangi nilai kepercayaan di hati anak yang masih polos.
Ketika anak kecewa lalu menangis, orangtua justru menggunakan status dan otoritasnya untuk menekan. Sikap seperti ini bukan hanya memberi teladan yang buruk, tetapi juga menanamkan pemikiran bahwa “orang dewasa boleh bersikap sewenang-wenang.”
Walaupun orangtua bekerja demi keluarga, seharusnya tetap meluangkan waktu untuk dengan tulus meminta maaf kepada anak atas janji yang tidak ditepati, serta memberi bentuk kompensasi sebagai tanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Dengan begitu, anak akan belajar bahwa kejujuran dan menepati janji itu penting. Siapa pun yang tidak jujur harus menanggung konsekuensinya—baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.(jhn/yn)





