JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengidentifikasi lonjakan permintaan menjelang Ramadan dan potensi gangguan distribusi lokal menjadi pemicu harga daging ayam ras menyentuh angka Rp45.000 per kilogram di sejumlah pasar.
Kendati demikian, ia menegaskan angka tersebut merupakan kasus spesifik di area tertentu dan tidak mencerminkan harga rata-rata nasional yang masih terkendali.
Budi mengatakan pemerintah segera menelusuri pasar-pasar yang mencatat harga tinggi tersebut. Pihaknya perlu memastikan penyebab utama lonjakan, apakah murni akibat tingginya permintaan lokal atau terdapat hambatan dalam rantai pasok menuju pasar tersebut.
"Artinya memang ada yang Rp45 ribu, tapi ada juga pasti di bawah Rp40 ribu. Jadi bukan berarti rata-rata nasionalnya Rp45 ribu. Tapi yang harga mahal tadi tetap kita cek," ujar Budi dilansir dari Antara, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: [FULL] Jelang Ramadan, Harga Cabai dan Ayam di Kendari Naik | KOMPAS SIANG
Pola Siklus Tahunan
Kenaikan harga di tingkat pedagang eceran, menurut Budi, mengikuti pola siklus tahunan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menghadapi hari besar keagamaan.
Namun, pemerintah tetap menargetkan harga jual berada dalam kisaran Harga Acuan Pembelian (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET) melalui pemantauan ketat.
"Biasanya memang kalau mendekati Lebaran, permintaan jadi meningkat. Tapi kita minta diantisipasi. Meskipun Lebaran atau Nataru (Natal dan Tahun Baru), pasokan harus terjaga. Jadi ketika permintaan melonjak, ya tetap harus harga stabil," katanya.
Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) per 13 Februari 2026 menunjukkan harga rata-rata nasional daging ayam ras berada di level Rp40.259 per kilogram. Angka ini memperlihatkan selisih yang cukup jauh dibandingkan temuan harga Rp45.000 di beberapa lokasi.
Penulis : Danang Suryo Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- harga daging ayam
- menteri perdagangan budi santoso
- harga pangan ramadan
- stok ayam ras
- kemendag
- satgas pangan




