Majelis Rendah Jepang kembali menunjuk Sanae Takaichi sebagai Perdana Menteri pada Rabu (18/2). Penetapan tersebut diumumkan 10 hari setelah kemenangan mutlak partainya dalam pemilu.
Takaichi (64) pertama kali ditunjuk sebagai PM Jepang pada Oktober 2025. Ia kemudian berhasil memenangi dua pertiga kursi Majelis Rendah dalam pemilu pada 8 Februari 2026.
Perempuan pertama yang menjadi PM Jepang itu, setelah terpilih, berjanji akan meningkatkan pertahanan wilayah dan perairan negaranya. Janji tersebut disampaikan di tengah memburuknya hubungan Jepang dengan China.
Memburuknya hubungan dua negara Asia Timur itu bermula ketika Takaichi melontarkan komentar kontroversial soal Taiwan pada November lalu. Saat itu, Takaichi menyatakan Jepang akan ikut melakukan intervensi jika China menyerang Taiwan.
Komentar tersebut membuat China naik pitam. Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berjanji akan merebutnya kembali di masa mendatang.
Selain soal pertahanan, pada saat yang sama Takaichi juga berjanji mendongkrak perekonomian Jepang yang sedang lesu, demikian dikutip dari AFP.
Setelah penetapan pada Rabu ini, Takaichi dijadwalkan menyampaikan pidato kebijakan pada Jumat (20/2). Sejumlah media melaporkan ia akan memaparkan perkembangan terkait kerangka strategis kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.





