Meriahnya Hari Pertama Kampoeng Ramadha Jogokariyan, Yogya

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Hujan yang mengguyur Kota Yogyakarta seharian tak menyurutkan warga untuk datang ke Kampoeng Ramadhan Jogokariyan yang resmi dibuka hari ini, Rabu (18/2) sore. Ini adalah tahun ke-22 Kampoeng Ramadhan Jogokariyan digelar.

Pantauan kumparan, acara pembukaan dihadiri sejumlah pejabat Pemda DIY, Pemkot Yogyakarta, kepolisian, hingga TNI. Sekitar 400 pedagang di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan menyambut antusias hari pertama Ramadan.

Suasana begitu semarak, pedagang sibuk melayani pembeli, aroma gulai ayam mengepul dari dapur umum. Sementara pengunjung berjalan menyusuri stan UMKM yang berjejer rapat di sepanjang jalan.

Lampu-lampu hias dan dekorasi khas Ramadan menambah hangat suasana, berpadu dengan riuh percakapan warga yang berburu takjil.

Ketua Panitia Kampoeng Ramadhan Jogokariyan Muhammad Falah Akbar mengatakan hari ini juga merupakan hari pertama buka puasa bersama di Masjid Jogokariyan.

"Kita menyediakan 3.800 porsi berbuka setiap harinya dan akan dimeriahkan sekitar 400 UMKM yang ada di Jalan Jogokariyan," kata Falah Akbar.

Pada hari ini, menu berbuka yang menggunakan tradisi piring terbang adalah gulai ayam. Menu lengkap bisa dilihat di Instagram resmi masjid.

"Yang memasak ibu-ibu PKK, ada 28 kelompok," katanya.

Diberitakan sebelumnya, Masjid Jogokariyan, Kota Yogyakarta, telah bersiap menyambut Ramadan. Tak hanya menyiapkan pernak-pernik seperti gapura Kampoeng Ramadhan Jogokariyan hingga street art decoration, takmir juga menyiapkan alat terbaru yakni rice bean washer atau alat cuci beras otomatis.

Alat ini digunakan untuk membantu menyiapkan takjil atau menu berbuka sebanyak 3.800 porsi. Menu berbuka ini tetap menggunakan tradisi lama, yakni piring terbang.

Rabu (11/2), kumparan berkesempatan melihat alat ini. Bentuknya serupa panci dengan bahan stainless steel. Alat ini terhubung langsung dengan keran air.

"Tahun ini ada inovasi baru yakni alat cuci beras otomatis. Bisa mempercepat proses memasak karena enggak perlu sedikit-sedikit mencucinya," kata Humas Kampoeng Ramadhan Jogokariyan, Ahmeda Edo.

Mesin ini bisa mencuci 50 kilogram beras sekaligus. Waktu sekali cuci hanya membutuhkan 10 sampai 15 menit.

Sementara itu, 3.800 porsi makanan berbuka memerlukan 200 kilogram beras. Petugas cukup empat kali menggunakan alat ini untuk mencuci kebutuhan beras dalam sehari.

"Cukup empat kali menggunakan," katanya.

Yang memasak menu berbuka adalah ibu-ibu dasawisma di Kampung Jogokariyan. Alat ini membantu para ibu yang mayoritas sudah sepuh dalam menyiapkan makanan sehingga mereka tak perlu berkali-kali mengangkut dan mencuci beras.

"Yang biasanya bolak-balik mengangkut beras yang sudah dicuci, sekarang tinggal dinyalakan saja," katanya.

Alat ini dibeli seharga hampir Rp 15 juta. Alat tersebut dikustom agar ukurannya bisa menampung 50 kilogram beras.

Meski harga alat cukup mahal, hal itu dinilai sebanding dengan manfaatnya. Terlebih, di Masjid Jogokariyan kerap digelar acara-acara besar yang membutuhkan banyak konsumsi.

"Dari benefit yang kita peroleh itu sangat worth it untuk kita gunakan," ujarnya.

Alat cuci beras otomatis ini melengkapi tiga alat penanak nasi jumbo yang masing-masing bisa memasak sekitar 50 kilogram beras.

Jumlah porsi buka puasa ini meningkat dari tahun sebelumnya, yakni 3.500 porsi, menjadi 3.800 porsi tahun ini. Pada praktiknya, kemungkinan jumlah porsi bisa mencapai 4.000 piring.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BNN Desak Larangan Vape dan Pembatasan N2O: Belajar dari Negara Tetangga
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
KSAD Maruli Beri Rumah Bagi Keluarga Prajurit Korban Longsor Cisarua Bandung Barat
• 27 menit lalukompas.tv
thumb
Pagar Rumah JK di Kebayoran Baru Ditabrak Mobil, Sopir Diduga Ngantuk
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Petugas gabungan tangani tembok rumah yang roboh di Pejaten Barat
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Politikus PDIP Cerita Soal Jokowi Tak Bertindak soal Revisi UU KPK pada 2019
• 12 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.