Bisnis.com, BANDA ACEH — Takhta Suci menegaskan tidak akan berpartisipasi dalam Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), besutan Presiden AS Donald Trump, karena menilai forum tersebut memiliki karakter dan sifat yang berbeda dibandingkan negara-negara lain.
Hal tersebut sekaligus menyoroti masih adanya sejumlah poin krusial yang membuat Vatikan mempertanyakan mekanisme penanganan krisis internasional di luar peran utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Pietro Parolin di sela pertemuan bilateral dengan Pemerintah Italia di Palazzo Borromeo, dalam kegiatan yang digelar bertepatan dengan peringatan penandatanganan Pakta Lateran. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Republik Italia Sergio Mattarella juga turut hadir.
“Takhta Suci tidak akan berpartisipasi dalam Board of Peace karena sifatnya yang khusus, yang jelas tidak sama dengan negara-negara lain,” kata Parolin, mengutip dari Vatican News, Rabu (18/2/2026).
Menanggapi pertanyaan wartawan terkait keikutsertaan Italia sebagai pengamat dalam Board of Peace, Parolin menyatakan masih ada sejumlah poin yang membuat Vatikan merasa ragu. Dia menyebut terdapat beberapa hal krusial yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.
Meski demikian, Parolin menilai upaya untuk menghadirkan respons atas situasi krisis tetap penting. Namun, dia menegaskan, bagi Vatikan terdapat sejumlah persoalan mendasar yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Baca Juga
- Menlu Sugiono Bertemu Wakil Palestina di PBB, Ungkap Dukungan RI hingga soal Board of Peace (BoP)
- Prabowo Bertolak ke AS (16/2), Bakal Bertemu Trump dan Ikut KTT BoP
- Trump Kantongi Komitmen Rp84 Triliun dari Negara BoP untuk Bangun Gaza
Salah satu perhatian utama Takhta Suci adalah mekanisme penanganan krisis di tingkat internasional. Menurutnya, lembaga yang seharusnya memegang peran sentral dalam situasi krisis adalah PBB.
Dia menambahkan bahwa penekanan terhadap peran PBB merupakan salah satu poin yang selama ini terus disuarakan oleh Vatikan. Menurutnya, pengelolaan krisis internasional idealnya dilakukan melalui jalur yang diakui secara global.
Di sisi lain, dia juga mengungkapkan kekhawatiran mengenai perang di Ukraina. Pernyataan itu disampaikan beberapa hari menjelang peringatan empat tahun pecahnya konflik tersebut.
Sekretaris Negara Vatikan itu menyebut situasi terbaru di Ukraina juga dibayangi oleh serangan berat yang menyasar infrastruktur energi di Kyiv dan kota-kota lain. Kondisi itu, menurutnya, semakin memperburuk prospek perdamaian.
“Untuk Ukraina, ada pesimisme yang cukup besar. Di kedua pihak, tampaknya tidak ada kemajuan nyata terkait perdamaian, dan tragis bahwa setelah empat tahun, kita masih berada di titik ini,” ujar Parolin.
Dia menyatakan harapan bahwa dialog yang berlangsung dapat menghasilkan kemajuan. Namun, Parolin menilai ekspektasi terhadap terobosan damai masih rendah, seiring belum terlihatnya perkembangan signifikan dari kedua belah pihak.
Dalam kesempatan yang sama, dia juga menyinggung hubungan Vatikan dengan Pemerintah Italia yang dinilainya berjalan baik. Dia menegaskan dalam pertemuan bilateral tersebut, Takhta Suci menyampaikan apresiasi atas perhatian Italia terhadap sejumlah isu yang dekat dengan kepentingan Gereja.
Parolin menyebut isu-isu yang dimaksud terutama berkaitan dengan aspek sosial. Beberapa di antaranya mencakup kebijakan untuk keluarga, pendidikan, disabilitas, serta persoalan penjara.
Menurutnya, terdapat kelompok kerja yang menangani isu-isu tersebut secara lebih langsung bersama Konferensi Waligereja Italia atau CEI. Dia menyebut sudah ada kemajuan dalam beberapa aspek yang menjadi fokus kerja bersama itu.




