Gudang Amunisi Raksasa Meledak Dekat Moskow! Rusia Terpukul, Ukraina Gempur Tanpa Henti

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sebuah ledakan besar mengguncang salah satu kompleks penyimpanan amunisi terbesar Rusia pada 16 Februari 2026, sekitar 70 kilometer timur laut Moskow. Ledakan itu terjadi secara beruntun dan memicu bola api raksasa yang terlihat dari jarak puluhan kilometer. Sejumlah saksi mata menggambarkan gelombang kejutnya sangat kuat hingga menyerupai “ledakan berskala kecil yang luar biasa”.

Menurut sejumlah sumber pertahanan dan laporan media independen Rusia, fasilitas tersebut memiliki luas sekitar 3,5 kilometer persegi dan diperkirakan menyimpan antara 100.000 hingga 200.000 ton amunisi, termasuk peluru artileri, roket, dan bahan peledak militer.

Hingga berita ini diturunkan, otoritas Rusia belum merilis angka kerugian resmi. Namun, jika estimasi kapasitas penyimpanan itu akurat, insiden ini berpotensi menjadi salah satu kerugian logistik terbesar Rusia sejak perang di Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Dampak Strategis: Logistik Jadi Titik Lemah

Dalam perang modern, logistik menentukan daya tahan tempur. Hilangnya ratusan ribu ton amunisi—jika benar terjadi—berarti kemampuan artileri berat Rusia di sejumlah sektor front dapat terganggu signifikan menjelang ofensif musim semi.

Sejumlah analis militer menilai, tanpa pasokan stabil untuk sistem artileri dan roket jarak jauh, tekanan Rusia di garis depan timur Ukraina bisa melemah dalam hitungan minggu. Artileri selama ini menjadi tulang punggung strategi Rusia dalam mempertahankan dan merebut wilayah.

Gelombang Serangan Drone Ukraina: 15–16 Februari 2026

Ledakan di gudang amunisi tersebut terjadi di tengah gelombang besar serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia.

Dalam rentang waktu malam 15 Februari hingga siang 16 Februari 2026, Ukraina dilaporkan meluncurkan ratusan drone jarak jauh ke berbagai wilayah Rusia, termasuk Bryansk, Belgorod, Kaluga, Tula, hingga Krasnodar.

Pejabat di wilayah Bryansk menyebut serangan tersebut sebagai yang “terkuat dan terpanjang” sejak perang dimulai, berlangsung lebih dari 12 jam tanpa henti.

Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menembak jatuh 220 drone, tetapi sejumlah fasilitas energi dan logistik tetap terkena dampak. Di pelabuhan Taman, pesisir Laut Hitam, sebuah terminal minyak dilaporkan terbakar hebat. Di Moskow, alarm pertahanan udara dibunyikan dan beberapa bandara internasional sempat menghentikan operasional sementara.

Strategi Baru: Serang “Jantung Logistik”

Perubahan taktik Ukraina semakin terlihat jelas. Jika pada 2023–2024 pertempuran berfokus pada perebutan kota dan parit pertahanan, kini serangan diarahkan ke infrastruktur energi, gudang amunisi, dan pusat distribusi militer Rusia.

Seorang pejabat pertahanan Ukraina yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa target utama adalah “menguras sumber daya logistik Rusia hingga kemampuan ofensifnya melemah secara sistemik.”

Dengan menghantam “tangki bahan bakar dan gudang peluru”, Ukraina berupaya memperlambat mesin perang Rusia dari dalam.

Serangan Balasan Ukraina di Front Timur

Dalam pekan yang sama, militer Ukraina mengumumkan keberhasilan serangan balasan yang dimulai awal Februari 2026.

Beberapa kantor berita Barat melaporkan bahwa Ukraina berhasil merebut kembali lebih dari 200 kilometer persegi wilayah di sektor timur. Dalam periode yang sama, capaian ini disebut hampir menyamai hasil ofensif Rusia selama satu bulan penuh pada Desember 2025.

Di Kupyansk, pasukan Ukraina kembali mengibarkan bendera nasional di balai kota sejak awal Januari dan kini disebut mengepung sisa pasukan Rusia di pusat kota.

Sementara itu, di arah Zaporizhzhia, Ukraina merebut sedikitnya 12 desa dan menyerang sepanjang 20 kilometer garis depan. Indikasi di lapangan menunjukkan upaya untuk memotong jalur mundur Rusia dan memaksa pertempuran skala besar yang dapat menghancurkan unit-unit lawan secara menyeluruh.

Faktor X: Pemutusan Akses Satelit

Salah satu variabel penting dalam perubahan dinamika ini adalah gangguan terhadap akses sistem satelit komersial yang sebelumnya digunakan sebagian unit Rusia.

Beberapa laporan menyebut bahwa akses terhadap jaringan satelit tertentu yang diperoleh melalui jalur tidak resmi telah dihentikan, sehingga memicu gangguan komunikasi dan navigasi di sejumlah sektor.

Tanpa konektivitas stabil, koordinasi artileri, drone, dan unit infanteri menjadi terganggu. Situasi ini memberi Ukraina “jendela peluang” untuk mempercepat operasi balasan dalam beberapa hari terakhir.

Evolusi Perang Drone dan Evaluasi NATO

Perang di Ukraina juga menjadi laboratorium taktik drone modern.

Sebuah laporan latihan militer NATO di Estonia pada akhir 2025 menyebut bahwa sejumlah operator drone Ukraina berpengalaman tempur mampu mendominasi skenario latihan melawan unit NATO dalam waktu singkat.

Temuan tersebut memicu diskusi internal mengenai kesiapan doktrin militer konvensional menghadapi perang berbasis drone murah, cepat, dan presisi tinggi.

Ukraina sendiri terus memperluas penggunaan simulator realitas virtual untuk pelatihan pertahanan udara dan mengintegrasikan sukarelawan asing ke dalam unit tempur elit.

Respons Rusia: Serangan Rudal dan Drone Balasan

Sebagai respons, Rusia meningkatkan serangan rudal dan drone ke kota-kota Ukraina pada 14–16 Februari 2026.

Angkatan Udara Ukraina melaporkan tingkat intersepsi sekitar 90 persen, dengan klaim berhasil menembak jatuh 25 dari 29 rudal serta 367 dari 396 drone dalam satu gelombang serangan.

Meski demikian, sejumlah fasilitas energi dan perumahan tetap mengalami kerusakan.

Di dalam Rusia sendiri, pernyataan kontroversial muncul di beberapa siaran televisi yang menyebut tantangan strategis jangka panjang Rusia bukan hanya Ukraina atau Barat, tetapi juga dinamika hubungan dengan Tiongkok. Ucapan tersebut memicu perdebatan luas di media sosial Rusia.

Situasi Menuju Musim Semi 2026

Peristiwa 15–16 Februari 2026 menandai fase baru dalam konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Ledakan besar di gudang amunisi, gelombang drone lintas batas, dan perubahan taktik serangan menunjukkan bahwa perang kini semakin bergeser dari pertempuran garis depan menjadi perang logistik dan infrastruktur strategis.

Jika tren ini berlanjut, maka musim semi 2026 berpotensi menjadi periode paling menentukan sejak awal konflik—di mana daya tahan logistik, bukan sekadar jumlah pasukan, akan menentukan arah pertempuran selanjutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bandung BJB Tandamata Resmi Kembali Datangkan Pemain Asing Baru, Madeline Guillen Siap Jaga Asa Lolos ke Final Four Proliga 2026
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Aturan Baru Ini Dinilai Bisa Ganggu Rantai Ekonomi Rakyat
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Hutama Karya Umumkan Perombakan Besar Direksi dan Komisaris, Ini Daftarnya
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Eks Kapolres Bima Kota AKBP Didik Disidang Etik Terkait Kasus Narkoba Besok
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Meksiko Tolak Keanggotaan Penuh dalam Board of Peace
• 59 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.