Imlek di Palembang, antara Martabak Kari, Barongsai, dan Semangat Toleransi

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Perayaan Imlek 2577 di Palembang, Sumatera Selatan, boleh jadi tidak semeriah dan segemerlap daerah-daerah lain, seperti di Singkawang, Kalimantan Barat ataupun di Semarang, Jawa Tengah. Namun, kehangatan perayaan Imlek di Palembang sejatinya tidak kalah dengan daerah-daerah lain yang memiliki komunitas keturunan Tionghoa yang mengakar.

Kehangatan itu tampak dari sajian lintas budaya di rumah-rumah warga keturunan Tionghoa saat open house Imlek, mulai dari kuliner martabak kari yang merepresentasikan budaya India Islam di Palembang hingga pertunjukan barongsai yang identik dengan budaya Tionghoa. Sajian penuh warna yang bersanding harmonis itu menjadi simbol masyarakat multi etnis yang terus berupaya menjaga semangat toleransi di ”Bumi Sriwijaya”.

Sejak pagi buta, Selasa (17/2/2026), pintu rumah Tjik Harun yang berada di kawasan Ilir Timur I, Palembang sudah terbuka lebar. Seiring terbukanya pintu rumah tersebut, semerbak aroma kuah kari yang kuat menyeruak hingga jalanan di depan rumah. Sekilas, aroma itu memberikan kesan suasana di rumah-rumah Muslim, terutama yang sedang merayakan hari raya.

Baca JugaPerayaan Imlek di Palembang

Akan tetapi, kesan itu tidak muncul dari rumah Muslim. Harun adalah warga keturunan Tionghoa-Palembang penganut Tridharma. Hari itu, sebagaimana warga yang menyambut hari raya, Harun bersiap menggelar open house dalam rangka merayakan Imlek. Sejumlah lampion berwarna merah dan pohon dengan hiasan angpau merah yang terpasang di sejumlah sudut rumah Harun kian menyemarakan suasana ”Tahun Baru China” di sana.

Saat memasuki rumah Harun, barulah diketahui bahwa aroma kuah kari itu datang dari kuah martabak kari yang di Palembang lebih dikenal dengan sebutan ”martabak HAR”. Data Dinas Pariwisata Palembang dan sejumlah sumber menyebutkan, martabak kari kian populer di Palembang sejak pengusaha Muslim asal Kerala, India bernama Haji Abdul Rozak membuka rumah makan dengan menu andalan martabak kari pada 1947. Setelah itu, martabak kari lebih dikenal dengan sebutan martabak HAR yang merupakan inisial Haji Abdul Rozak.

Harun mengatakan, menu yang identik dengan perayaan Imlek sebenarnya kuliner khas Tionghoa yang sarat makna. Biasanya, menu yang disajikan adalah ikan bandeng yang bermakna doa murah rezeki, mie yang bermakna panjang umur, kue lapis legit yang bermakna rezeki berlimpah, hingga kue keranjang yang bermakna kehidupan bahagia atau harmonis.

Namun, sejak diakui secara resmi sebagai hari libur nasional di Indonesia pada 2003, Imlek tidak lagi ekslusif sebagai perayaan keluarga keturunan Tionghoa. Imlek sudah bertransformasi sebagai perayaan yang terbuka untuk tetangga ataupun kerabat yang tidak berlatarbelakang keturunan Tionghoa.

Hal itu membuat warga yang merayakan Imlek banyak dikunjungi tetangga ataupun kerabat dari beragam etnis dan agama yang ingin memberikan ucapan selamat. Tak sedikit yang berkunjung merupakan tetangga ataupun kerabat beragama Islam.

Apalagi, bagi Harun, Imlek bukan perayaan keagamaan tertentu. Dia meyakini Imlek sebagai perayaan tahun baru menurut penanggalan Tionghoa. ”Imlek berasal dari tradisi agraris masyarakat di Tiongkok dalam menyambut berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi atau musim tanam,” ujar Harun saat dikunjungi di hari Imlek.

Baca JugaWarga Tionghoa Palembang Merayakan Imlek Penuh Khidmat

Karena Imlek sudah terbuka untuk semua kalangan, Harun berinisiatif menyiapkan menu yang lebih umum di masyarakat setempat, seperti martabak kari dan pempek. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan memberikan rasa nyaman untuk para tamu yang mungkin masih asing atau kurang cocok dengan menu-menu khas Imlek.

”Kami juga merasa kurang afdal kalau ada tamu yang kurang cocok dengan menu-menu khas Imlek yang kami sajikan. Jadi, sebagai wujud toleransi, kerukunan, dan keakraban, kami sediakan menu-menu yang lebih umum ataupun lebih mudah diterima masyarakat, seperti martabak kari dan pempek,” kata Harun yang menjabat Ketua Perwakilan Umat Buddha Indonesia Sumsel.

Harun menuturkan, secara tradisi, martabak kari dan pempek tidak bertentangan dengan makna atau pengharapan dalam Imlek. Martabak kari pada dasarnya berisi telor yang dimaknai sebagai simbol panjang umur dan rezeki berlimpah oleh komunitas Tionghoa. Demikian dengan pempek, bahan bakunya yang berasal dari ikan dimaknai sebagai simbol kemakmuran.  

Maka dari itu, tradisi menyajikan martabak kari dan pempek saat Imlek tidak hanya ada di rumah Harun. Tradisi itu sudah umum di rumah-rumah warga keturunan Tionghoa di Palembang. ”Inilah wujud semangat toleransi yang ingin ditunjukkan di setiap perayaan Imlek di Palembang,” tutur Harun yang berstatus pengurus kelenteng tertua di Palembang, Kelenteng Chandra Nadi.

Menembus sekat budaya

Suasana keberagaman pun terasa dalam perayaan Imlek di rumah Ketua Yayasan Buddhakirti Palembang, Zewwy Salim yang berada di kawasan Kalidoni. Zewwy menyiapkan tenda, panggung hiburan, dan beragam menu dari kuliner khas Imlek hingga kuliner tradisional Palembang untuk menyambut para tamu yang berasal dari berbagai latar belakang etnis serta agama.

Kebersamaan di sana kian terasa saat dua barongsai yang sudah ditunggu-tunggu tiba. Tuan rumah maupun para tamu antusias melihat pertunjukan barongsai yang meliuk-liuk atraktif seiring dengan dentuman suara alat musik penggiringnya.

Baik tuan rumah maupun tamu bergantian memberi angpau ataupun saweran uang ke mulut barongsai. Bagi tuan rumah, memberi angpau kepada barongsai menjadi simbol berbagi rezeki dan mengundang keberuntungan. Sebaliknya, bagi tamu yang tidak berlatar belakang keturunan Tionghoa, saweran untuk barongsai menjadi bentuk apresiasi seni dan ingin berinteraksi langsung.

Baca JugaMakna Suci Imlek walau Tak Gemerlap

Interaksi langsung ditunjukkan pula dengan antusias. Tuan rumah maupun tamu berfoto bersama barongsai. ”Kalau bukan di momen Imlek, sangat jarang bisa melihat pertunjukan barongsai dan berinteraksi langsung dengan mereka seperti ini. Mungkin, ini salah satu nikmatnya perbedaan. Kita bisa saling mengenal kekhasan budaya satu sama lain,” ujar Adi (43), tamu Zewwy yang berasal dari kawasan Gandus, Palembang.

Zewwy menyadari bahwa Imlek kini bukan hanya perayaan keluarga. Bagi dia, Imlek sudah menjelma sebagai momen untuk mempererat tali silaturahmi dengan mitra kerja, teman, maupun masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Untuk itu, Zewwy menyajikan menu kuliner yang beragam agar bisa diterima oleh banyak kalangan, serta tak lupa pertunjukan barongsai yang dianggap telah menembus batas sekat budaya. ”Doa utama saat Imlek adalah mengharapkan kehidupan lebih baik dan lebih bahagia dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi, tidak kalah penting juga kegembiraan dan silaturahmi dengan mitra kerja, teman, maupun masyarakat luas terus terjaga,” kata Ketua Realestat Indonesia Sumsel tersebut.

Semangat toleransi yang muncul dari rumah Harun dan Zewwy kian berarti karena Imlek kali ini berdekatan dengan hari pertama puasa Ramadhan. Mereka berharap, momentum itu bisa semakin memperkuat kerukunan hidup antar etnis dan pemeluk agama di Sumsel yang dikenal sangat harmonis selama ini.

”Sejak dahulu, Sumsel dikenal sebagai daerah yang sangat toleran. Terbukti, tidak pernah ada konflik antar etnis maupun umat beragama di sini. Kita semua berharap semangat zero konflik itu terus dijaga,” tutur Zewwy.

Baca JugaPotret Harmoni Keberagaman Palembang di Momen Imlek

Dalam banyak kesempatan, Gubernur Sumsel Herman Deru selalu berpesan untuk menjaga predikat zero konflik di Sumsel. Predikat itu bukan hanya memastikan kehidupan aman, nyaman, dan damai di masyarakat. Predikat itu merupakan modal berharga untuk membangun daerah.

Perayaan Imlek di Palembang terasa sederhana. Namun, di balik kesederhanaan tersebut ada semangat toleransi yang terus disemai. Semoga kerukunan hidup antaretnis dan agama di ”Bumi Sriwijaya” terus tumbuh pesat layaknya laju hoki dari ”Kuda Api” yang menjadi shio tahun baru kali ini.  


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejujuran di Tengah Budaya Pencitraan Digital
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Menag: Asia Tenggara Kompak, 1 Ramadan 1447 H Jatuh Hari Kamis 19 Februari 2026
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
Jadwal Ganjil Genap Jakarta Kembali Berlaku Hari Ini 18 Februari 2026, Sambut Ramadhan Semakin Ketat
• 11 jam laludisway.id
thumb
Pengamatan Hilal di Belitung Terhalang Awan Tebal
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Besok Hari Pertama Puasa Ramadan, Simak Jadwal Imsak dan Salat Wilayah Jakarta
• 14 menit laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.