jpnn.com, JAKARTA - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki potensi besar membawa manfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Namun di sisi lain, program berskala nasional tersebut juga dinilai rawan persoalan jika tidak diawasi secara ketat.
BACA JUGA: Arief Poyuono: MBG Menjadi Instrumen Strategis Pertumbuhan Ekonomi
Ketua Umum Logis 08 Anshar Ilo menegaskan pentingnya langkah antisipatif sejak dini dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan MBG yang berada langsung di bawah kendali Presiden.
“MBG adalah program mulia dan strategis. Tapi karena anggarannya besar, jangkauannya luas, dan pelaksanaannya hingga ke daerah 3T, maka pengawasan harus ekstra ketat. Jangan sampai niat baik Presiden ternodai oleh lemahnya tata kelola,” ujar Anshar Ilo di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
BACA JUGA: MBG, Pendidikan, dan Jalan Sunyi Membangun Manusia Indonesia
Menurut Anshar, sejumlah potensi masalah bisa muncul jika pengawasan tidak terintegrasi, mulai dari kualitas bahan pangan, distribusi yang tidak merata, potensi mark-up anggaran, hingga keterlibatan pihak ketiga yang tidak profesional.
Menurutnya, pembentukan Satgas Pengawasan MBG akan menjadi instrumen penting untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan, tepat sasaran, transparan, dan bebas dari penyimpangan.
BACA JUGA: Constra Ingatkan Janji Prioritas Presiden Soal Kesehatan Warga Miskin & MBG
“Satgas ini bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi sebagai pengawal program Presiden. Kita ingin MBG sukses, berkelanjutan, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” tegas Anshar.
Anshar juga mendorong agar Satgas tersebut melibatkan lintas sektor, termasuk unsur pemerintah, aparat penegak hukum, ahli gizi serta partisipasi masyarakat sipil.
“Pengawasan yang kuat justru akan memperkuat legitimasi Presiden Prabowo. Ini kritik yang membangun, karena kami ingin program ini menjadi legacy terbaik beliau,” ujar Anshar.
Dia akan berkomitmen untuk terus mengawal dan memberikan masukan konstruktif terhadap pelaksanaan program-program strategis nasional, khususnya MBG agar benar-benar menjadi solusi peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




