SURABAYA, KOMPAS - Sehari setelah perayaan Imlek 2577 Kongzili, sebagian warga Surabaya, Jawa Timur, Rabu (18/2/2026), mulai menjalani puasa Ramadhan. Pada saat bersamaan, umat Katolik menjalani ibadah pra-Paskah.
Awal Ramadhan pada Rabu dijalani oleh sebagian umat Islam yang mengikuti penentuan awal Ramadhan melalui penghitungan hisab. Adapun umat Katolik memulai masa pra-Paskah dengan Rabu Abu.
Berdasarkan hasil sidang isbat pada Selasa (17/2/2026) petang, yang bersamaan dengan Imlek, pemerintah memutuskan awal Ramadhan jatuh pada Kamis (19/2/2026). Dengan demikian, ada perbedaan dalam penentuan waktu awal Ramadhan.
Menyikapi perbedaan itu, menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Surabaya Muhaimin Ali, perlu disadari dan diterima sebagai kekayaan khazanah pengetahuan umat. Perbedaan bukan untuk bersikap negatif melainkan menguatkan persaudaraan dalam keberagamaan.
”Perbedaan adalah fitrah dan umat perlu memaknai tujuan puasa yakni semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujar Muhaimin.
Perbedaan penentuan awal puasa berpotensi memunculkan konsekuensi penentuan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1448 Hijriah. Namun, lanjut Muhaimin, perlu disadari dan diterima bahwa perbedaan adalah keniscayaan dan jangan sampai membelah persatuan dan kesatuan umat.
Bagi umat Katolik, Rabu Abu menandai perjalanan puasa dan pantang menuju Paskah. Umat datang ke gereja untuk mengikuti ekaristi atau misa sekaligus menerima abu yang dioleskan di dahi. Inilah tanda dan peringatan bagi umat untuk bertobat.
Dalam homili pada Rabu pagi, Pastor Kepala Paroki Sakramen Mahakudus RD Yohanes Agus Sulistyo mengatakan, Injil Matius yang dibacakan dalam liturgi memuat sabda Yesus untuk bersedekah, berdoa, dan berpuasa. ”Yang patut diingat oleh Anda semua, seperti disabdakan Tuhan Yesus, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat,” ujarnya.
Romo Agus melanjutkan, sampai dengan Paskah (Minggu, 5 April 2026), umat Katolik diharapkan menjalani puasa dan pantang dengan sebaik-baiknya. Yang terutama agar cuma terlihat oleh Allah secara tersembunyi. Puasa dan pantang jangan diperlihatkan atau diketahui apalagi untuk mendapat pujian dari orang lain.
Sementara itu, awal Ramadhan ini, harga sejumlah komoditas mulai naik harganya yakni cabai dan bawang. Kenaikan harga dibandingkan dengan dua hari terakhir berkisar 1-4 persen.
”Untuk cabai mulai naik mungkin pasokan sedikit turun,” ujar Abdullah (50), pedagang di Pasar Wonokromo. Untuk cabai merah kriting per kilogram (kg) naik dari Rp 37.000 menjadi Rp 38.000. Untuk cabai merah besar naik dari Rp 29.000 menjadi Rp 31.000.
Selain itu, bawang merah naik dari Rp 38.000 per kg menjadi Rp 39.000 per kg. Bawang putih naik dari Rp 32.000 per kg menjadi Rp 33.000 per kg. Mengutip laman siskaperbapo.jatimprov.go.id, Rabu petang, untuk komoditas vital yakni beras, telur, daging, dan minyak goreng belum mengalami lonjakan kenaikan harga.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, untuk mencegah lonjakan harga bahan pangan telah disiapkan strategi bazar dan operasi pasar. Bahan pangan didatangkan dari produsen di luar Surabaya dengan harapan pasokan tercukupi dan harga terkendali.
”Kalau ada peningkatan konsumsi pangan selama Ramadhan terkait dengan aktivitas UMKM takjil,” kata Eri.
Artinya, selain konsumsi oleh 3,1 juta jiwa populasi warga, kenaikan harga bahan pangan karena kebutuhan usaha mikro kecil menengah makanan minuman untuk sahur dan buka.
Dari pengalaman selama ini, selama Ramadhan, peningkatan konsumsi bahan pangan berkisar 20-25 persen. Jika pasokan tidak ditambah, berpotensi menciptakan kelangkaan yang memicu kenaikan harga. Situasi ini biasanya sementara dan diatasi dengan operasi pasar atau menggelontorkan bahan pangan yang langka untuk penurunan harga.





