Industri media hari ini bergerak dalam lanskap yang tidak sederhana. Kemampuan distribusi konten meningkat sangat cepat, tetapi kepercayaan publik tidak selalu bergerak searah. Laporan Edelman Trust Barometer 2026 memberi sinyal penting. Dunia memasuki fase yang mereka sebut “insularity”, ketika publik makin selektif, bahkan sempit, dalam menentukan siapa yang layak dipercaya.
Situasi ini mengubah banyak asumsi lama. Jangkauan luas tidak otomatis berarti dipercaya. Trafik tinggi tidak selalu identik dengan pengaruh yang sehat. Di tengah kondisi ini, ruang redaksi menghadapi godaan yang nyata: mengejar apa yang cepat ramai, karena itu yang paling mudah terlihat dan menghasilkan uang lewat programatik.
Tidak ada yang keliru dengan kebutuhan untuk bertumbuh. Media memang harus hidup. Harus menjangkau audiens baru. Harus adaptif terhadap dinamika platform. Tapi persoalan muncul ketika viral diam-diam diperlakukan sebagai tujuan akhir, bukan sebagai instrumen.
Di banyak tempat, logika ini mulai membentuk perilaku produksi konten. Emosi cepat lebih mudah dipilih. Nada yang menguatkan kegelisahan publik lebih cepat menarik perhatian. Bahkan dalam beberapa kasus, media tergelincir menjadi sekadar pemantul perasaan massa.
Di titik inilah penting membedakan secara jernih antara viralitas dan resonansi.
Viral berkaitan dengan kecepatan sebar. Ia efektif membuka pintu perhatian. Ia bekerja baik sebagai mesin “discovery”. Dalam ekosistem digital, fungsi ini tetap diperlukan. Tanpa konten yang mudah menjangkau audiens baru, pertumbuhan media bisa tersendat. Karena itu, meninggalkan viral sepenuhnya juga bukan pilihan realistis.
Di sisi lain, resonansi bekerja pada lapisan yang berbeda. Ia berkaitan dengan kedalaman penerimaan publik. Dengan rasa kedekatan. Dengan konsistensi sikap editorial yang bisa dilacak dari waktu ke waktu. Resonansi tidak selalu meledak cepat, tetapi ia tinggal lebih lama di ingatan publik.
Di era “insularity” seperti yang dipotret Edelman, variabel ini justru menjadi semakin strategis. Ketika publik makin berhati-hati dalam mempercayai informasi, yang dicari bukan hanya yang paling cepat muncul di layar. Yang dicari adalah sumber yang terasa mengerti konteks kehidupan mereka.
Karena itu, persoalan media hari ini sebenarnya bukan memilih antara viral atau resonansi. Persoalan utamanya adalah bagaimana menata arsitektur konten secara proporsional.
Media membutuhkan konten yang berfungsi sebagai pintu masuk. Cepat, mudah dibagikan, dan mampu menjangkau audiens baru. Tapi pada saat yang sama, media juga harus secara sadar memproduksi konten yang membangun resonansi: relevan dengan problem publik, kontekstual secara lokal, dan konsisten dalam keberpihakan.
Di atas keduanya, ada lapisan yang lebih menentukan dalam jangka panjang: akumulasi kepercayaan.
Di sinilah dimensi jurnalisme yang sensitif terhadap problem publik menjadi sangat penting.
Sensitivitas jurnalistik bukan berarti selalu mengafirmasi emosi yang sedang dominan di masyarakat. Empati tetap menjadi fondasi. Redaksi harus mampu mendengar kegelisahan warga secara utuh. Tetapi jurnalisme yang bertanggung jawab tidak berhenti pada validasi rasa. Ia juga memikul tugas untuk membantu publik melihat persoalan secara lebih jernih.
Ada kalanya arah kebaikan tidak identik dengan arus yang paling ramai. Ada momen ketika fakta yang perlu disampaikan justru tidak populer. Di situ integritas editorial benar-benar diuji.
Media yang hanya mengikuti emosi publik mungkin akan terlihat relevan dalam jangka pendek. Tetapi dalam jangka panjang, ia berisiko ikut mempersempit ruang dialog dan memperdalam fragmentasi kepercayaan yang justru sedang menjadi problem global.
Sebaliknya, media yang sensitif sekaligus jernih bekerja dengan disiplin yang berbeda. Ia mendengar keresahan warga. Ia memetakan akar masalah secara presisi. Ia menghadirkan fakta secara utuh. Dan ketika perlu, ia memberi arah yang membantu publik bergerak ke solusi yang lebih konstruktif, meskipun itu tidak selalu menjadi pilihan yang paling populer.
Pendekatan seperti ini memang tidak selalu menghasilkan lonjakan trafik instan. Tetapi pengalaman sejumlah organisasi media menunjukkan pola yang konsisten: kepercayaan publik tumbuh dari rekam jejak sikap, bukan dari satu-dua ledakan viral.
Bagi media lokal, momentum ini justru membuka ruang yang signifikan. Ketika trust terhadap institusi besar mengalami erosi, entitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari warga memiliki peluang lebih besar untuk membangun resonansi yang otentik. Kedekatan struktural ini adalah keunggulan, sekaligus tanggung jawab.
Di tengah arus informasi yang makin cepat dan bising, publik tetap membutuhkan satu hal yang bergerak lebih pelan tetapi jauh lebih bernilai: kepercayaan.
Dan kepercayaan, seperti kita tahu, tidak pernah dibangun dari sekadar gema yang ramai. Ia tumbuh dari konsistensi yang sabar, jernih, dan berpihak pada kebaikan bersama.
Eddy Prastyo | Editor in Chief | Suara Surabaya Media




