Kata Mensesneg soal Ketua BEM UGM Ngaku Diteror

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Mensesneg Prasetyo Hadi merespons soal isu teror yang menimpa Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto. Tiyo mengaku mendapat teror karena pernyataannya yang menyinggung pemerintah utamanya program Makan Bergizi Gratis.

Prasetyo mengatakan, Istana tidak mengetahui soal teror meneror yang menimpa Tiyo.

"Kalau teror kita enggak tahu siapa yang menteror, ya," kata Prasetyo di Gedung DPR, Senayan, Rabu (18/2).

Meski begitu, Prasetyo membeberkan soal dirinya yang juga alumni UGM. Pras merupakan lulusan UGM 2006 dalam bidang Konservasi Sumber Daya Hutan.

"Tapi kalau berkenaan dengan apa yang disampaikan karena kebetulan kami juga lulusan dari UGM, gitu. Dulu juga pernah aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa, ya," ucap dia.

Politikus Gerindra ini menekankan, kritik sah-sah saja untuk disampaikan. Ia menekankan kritik yang disampaikan harus sesuai dengan fakta dan tata cara yang santun.

"Menyampaikan kritik atau masukan itu selalu saya kami sampaikan bahwa itu sah-sah saja, gitu. Nah, tetapi tentu kita mengimbau kepada semuanya, ya, untuk menyampaikan segala sesuatu itu dengan penuh tanggung jawab juga, kemudian juga mengedepankan etika, adab, adab-adab ketimuran gitu loh," kata Prasetyo.

"Jadi menyampaikan pendapatnya enggak ada masalah, tapi caranya itu kan juga itu perlu menjadi pelajaran bagi kita semua, gitu. Misalnya, hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik, gitu. Ini berlaku untuk siapapun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM, gitu," tambah dia.

Negara Jamin Kebebasan Berpendapat

Prasetyo memastikan, negara menjamin kebebasan berpendapat. Ia kembali menekankan agar kritik disampaikan dengan bijak.

"Iya, iya kan itu kan konstitusi kan. Ya menjaminnya kan kebebasan berpendapatnya, ya," kata Prasetyo.

"Nah, maka sekali lagi yang bisa kita sarankan ya sampaikanlah dengan arif, caranya, jalurnya yang bijak dan pemilihan diksi mungkin juga itu penting kan kita mau menyampaikan sesuatu ya mesti juga memilih diksi yang tepat supaya itu juga menjadi bahan pembelajaran, kan. Kan penginnya kan memberikan masukan itu kan seperti itu, kan," tutur Prasetyo.

Pengakuan Tyio hingga Klaim Teror

Sebelumnya, Tyio menyoroti kasus anak di NTT yang bunuh diri tak mampu membeli pulpen dan buku yang harganya kurang dari Rp 10 ribu. Ia lantas menyoroti pemerintah yang dianggap gagal menentukan prioritas kemanusiaan.

Sejumlah kebijakan pemerintah lantas disorot mulai dari keputusan bergabung dengan Board of Peace hingga program Makan Bergizi Gratis.

Pihaknya, mengaku menyampaikan kritik ini dengan bersurat kepada UNICEF. Tiyo mengeklaim, mendapat respons positif mengenai ini.

"Setelah kami mengirimkan surat tersebut, muncul respons publik yang luar biasa. Ternyata respons publik yang luar biasa dan cenderung positif karena merasa terwakili, itu tidak hanya berdiri sendiri," kata Tiyo.

Di satu sisi, ia mengaku mendapat sejumlah teror. Teror yang dimaksud seperti mendapat pesan dari nomor tak dikenal hingga diikuti orang tak dikenal.

"Kita mendapatkan teror dalam bentuk pesan-pesan dari nomor yang tidak dikenal, tetapi kontaknya adalah kontak Inggris Raya. Jadi kontaknya kontak asing," kata Tiyo.

"Ada juga pengalaman sempat diuntit. Jadi saya sedang di sebuah kedai, dan dari jauh ada orang yang menguntit sekaligus memfoto. Tetapi ketika kami kejar, dia sudah segera pergi," tutur dia.

Meski begitu, teror ini belum dilaporkan kepada pihak kepolisian,


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
YouTube Dilaporkan Mengalami Gangguan Global Hari Ini
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Harga Emas Pegadaian Turun Hari Ini, Cek Rincinnya
• 12 jam laluidxchannel.com
thumb
Intip 3 Tips Perawatan Sederhana Cegah Bau Mulut Selama Bulan Ramadhan ala Vincent dan Desta
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Tiba di Amerika Serikat, Prabowo Disambut Diaspora Indonesia
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Targetkan 10 ribu layar, Ifan Seventeen ungkap rencana pembangunan bioskop negara Sinewara
• 1 jam lalubrilio.net
Berhasil disimpan.